15 April 2022, 20:00 WIB

Ratapan Via Dolorosa


Iwan Jaconiah | Sajak Kofe

Ilustrasi Samba
 Ilustrasi Samba
   

Ilustrasi: Samba

TENTANG penyaliban, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Menjadi kesatuan perayaan gerejawi yang dimulai sejak abad permulaan sampai ini hari. Sakramen Jumat Agung sampai Minggu Paskah menjadi simbol tentang cinta, kasih, dan pengharapan. 

Perayaan tradisi umat Kristen tahun ini berbarengan dalam suasana Ramadan yang sedang dijalankan umat Muslim. Sebuah simbol bahwa perbedaan adalah pemersatu kehidupan berbangsa di ini Republik. 

Hidup bertoleransi sangat penting untuk dijunjung tinggi. Panggilan menjaga kerukunan antarumat beragama demi keutuhan bangsa selalu disuarakan. Rakyat tak mudah diadu domba lagi sebab sudah pintar menentukan baik dan buruk. 

Umat Kristen di Indonesia hari ini mengingat kembali akan kematian Kristus di kayu salib. Peringatan dalam tradisi gerejawi itu telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi sebagian penduduk di Tanah Air. 

Misionaris Portugis menyebarkan “kabar baik” saat mereka tiba pertama kali pada abad ke-16. Kemudian disusul misionaris Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman di abad-abad berikutnya. 

Sejak itulah, pulau-pulau di Nusantara mulai mendapat pelayanan pekabaran Injil. Politik dan kuasa kaum kolonial tak bisa dihindari. Bangsa kulit putih berbaur dengan masyarakat setempat. Sekadar menyebut beberapa pulau yang pernah disinggahi mereka, seperti Flores, Solor, Timor, dan Ambon. 

Pengaruh Portugis dalam keagamaan, misalnya, begitu kuat di Flores dan Timor. Mereka menanamkan dogma kekristenan. Akhirnya, berakar kuat bak batu karang. Terjadi akulturasi sehingga menambah kekayaan budaya di pulau-pulau tersebut. 

Sebuah tradisi perayaan Paskah yang sangat lama dilakukan di Nusa Tenggara Timur ialah Samana Santa di Larantuka, Flores Timur. Setiap tahunnya selalu ramai digelar sehingga menjadi semacam obyek wisata religi. 

Tradisi Samana Santa merupakan warisan Portugis. Bercampur aduk dengan tradisi adat-istiadat masyarakat setempat. Upacara perayaan umat Katolik itu menjadi simbol. Memaknai sosok Maria sebagai Sang Penyuci tanah Flores. 

Puisi kematian sampai kebangkitan 

Puisi sebagai wadah kreativitas menjadi bagian penting dalam sebuah peradaban bangsa. Para penyair di abad-abad silam telah memaknai peristiwa sejarah penyaliban Kristus sebagai jalan pintas membaca arti kematian. 

Stabat Mater, sebuah puisi Kristen abad ke-13 untuk Maria. Menggambarkan penderitaannya sebagai ibu Kristus selama penyaliban-Nya. Penulis lirik-liriknya diyakini biarawan Italia Fransiskan Jacopone da Todi atau Paus Innocent III (1230-1306).  

Judul puisi yang dijadikan himne itu berasal dari baris pertama, Stabat Mater Dolorosa, berarti Ibu Sedih Berdiri¹. Teks aslinya dalam bahasa Latin, bertahun 1853 dalam liturgi Romawi. Itu merupakan salah satu dari beberapa versi puisi yang masih ada. 

Puisi Stabat Mater diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pertama kali oleh penulis Inggris Edward Caswall (1814-1878). Ia menerjemahkannya secara tidak literal, tetapi mempertahankan skema sajak tetrameter trochaic (ukuran suku, kata, dan baris yang terbatas dalam puisi) dan rasa teks aslinya. Berikut petilan tiga dari 20 tetrameter aslinya; 


Stabat mater dolorosa
juxta Crucem lacrimosa,
dum pendébat Fílius

II 
Cuius animam gementem,
contristátam et dolentem
pertransivit gladius. 

III 
O quam tristis et afflícta
fuit illa benedicta,
mater Unigeniti! 

1853 

Arti sederhananya kira-kira begini; 


Ibu sedih berdiri
di samping salib menangis,
sementara putranya digantung. 

II 
Jiwa yang merintih,
bersusah dan berduka,
pedang telah melewati-Nya

III 

O betapa sedih tertimpa duka 
apa ia perempuan yang diberkati,
ibu dari satu-satunya yang diperanakkan!

1853 

Stabat Mater di atas secara umum ialah ungkapan kesedihan tentang peristiwa penyaliban Kristus. Sepenggal puisi tersebut menggambarkan kesusahan hati Maria sebagai seorang ibu. Ibu yang melihat cucuran darah. 

Yang mendapati putra-Nya digantung hingga mati. 

Ada pula puisi lawas lainnya berjudul Mimpi Rood karya NN (Nomen nescio: nama pengarang tak diketahui). Itu adalah puisi Kristen terkenal dalam khazanah Sastra Inggris Kuno. Seperti kebanyakan puisi Inggris Kuno, ditulis dalam ayat aliterasi. Puisi itu diperkirakan setua dari abad ke-8. Tidak saya suguhkan di sini. 

Minggu Paskah 

Walau penyaliban Kristus penuh kesedihan, namun kebangkitan-Nya selalu dimaknai penuh sukacita. Perayaan tahun ini jatuh pada Minggu (17/4). Saya menghadirkan beberapa contoh puisi-puisi yang menggambarkan Paskah. 

Sekadar menyebutkan karya penyair Rusia Apollon Maikov (1821-1897). Ia banyak menulis puisi liris. Salah satunya berjudul Kristus Bangkit! yang begitu populer. Berikut terjemahannya, tanpa menghilangkan simbol dan makna. 

*** 
Di mana-mana berkat berdengung, 
Dari semua gereja orang-orang bersatu hati.
Fajar terlihat dari surga… 
Kristus bangkit! Kristus bangkit!
Lapisan salju disingkirkan dari ladang, 
Dan sungai-sungai tercabut belenggu, 
Hutan di dekatnya berubah jadi hijau… 
Kristus bangkit! Kristus bangkit! 
Di sini bumi terbangun, 
Dan ladang berganti pakaian, 
Musim semi tiba, penuh keajaiban! 
Kristus bangkit! Kristus telah bangkit! 

1883 

Selain karya Maikov, ada juga puisi liris Rusia lainnya karya penyair Sergei Bekhteev (1879-1954). Ia menulis sebelum kematiannya. Puisi itu berjudul Kebangkitan. Saya menerjemahkannya secara sederhana, tanpa menghilangkan simbol dan makna. 

*** 
Kristus bangkit, saudara-saudari.
Kesedihan dan dukacita prapaskah berlalu,
Mari buka tangan dingin kita,
Mari tutup bibir hangat kita! 

Ini hari, Minggu, 
Hari saat Injil diwartakan 
Tentang pengampunan besar, 
Melupakan kesedihan dan penghinaan. 

Hutan, ladang, dan lembah bersukacita, 
Menghirup kebahagiaan musim semi, 
Dan jiwa yang khusyuk pun 
Mendengar kata penuh rahasia. 

Kegembiraan hari Minggu 
Terdengar dalam derunya arus, 
Di setiap gemerisik tanaman,
Dan getar burung bulbul. 

1924 

Pemaknaan sebuah peristiwa secara singkat dan padat lewat puisi menjadi gaya para penyair di abad-abad lalu. Masih terasa dalam kehidupan kita hari-hari ini. Bagi sebagian penyair, puisi adalah intisari pemikiran kembali atas sebuah peristiwa penting. 

Sesungguhnya, puisi adalah kehidupan. Semua hal menarik ditulis dengan penafsiran secara mendalam. Lewat puisi, kaum cendekiawan menuangkan kembali peristiwa penyaliban, kematian, dan kebangkitan Kristus secara berbeda-beda di setiap abad. Ratapan via Dolorosa, Ibu Sedih Berdiri. (SK-1) 

Catatan 
¹ Breviarium Romanum. Mechelen: H. Dessain. 1853. Hlm. 455–456, 460–461. 

 

 

 

 

Iwan Jaconiah, penyair, esais, wartawan Media Indonesia dan Metro TV. Peraih Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2015) dan Beasiswa Penuh Pemerintah Rusia (2015). Ia adalah pesastra Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya kumpulan puisi Hoi! (Terbit Press, 2020). 

 

BERITA TERKAIT