03 April 2022, 09:00 WIB

Sajak-sajak Ella Juliana 


Sajak Kofe | Sajak Kofe

Ilustrasi Maria Worobyova
 Ilustrasi Maria Worobyova
   

Ilustrasi: Maria Worobyova

Dua Puluh Kehilangan 

Fase dua puluh, aku sering menyadari. Kehilangan, terlalu banyak menghantam akal. Waktu, dinamika kehidupan hanya mengenal juga memaafkan. Perbaikan tak meraup kesempatan. Jika sadar, kita tempuh kembali peradaban meski jauh di telinga. Bila cukup dewasa aku akan menikah, menempuh satu ibadah di masamu. 

Mungin sekarang bisa jadi dekat perasaanmu, bisa kukirim bunga serta doa di pusara. Untuk semayam nyawa yang baru tiada. Serta mimpi, tanpa serta keinginan meniada. Sejak aku tak punya siapa-siapa. Peduli untuk harus menjalani hari ini. 

Aku hanya milik kamar, meneduhiku di samping keluh kesal kepergian. Tentang kehilangan yang tak pernah disiapkan. Di antara dua puluh, teruntai kisah beranjak seseorang. Sendirian berjuang menyalami malam, menyirami fajar dalam kesal dan cemburu. Juga mimpi tak berembus kembali. 

22 Maret 2022 


Mengalahkan Pepatah Lama 

Kamu sedang apa? Kamu bisa lalui harimu dengan bahagia? Agar aku tak bersalah saat menjengukmu sekali dua kali. Kamu lebih berwarna dibanding pelangi. Jelas kulihat, kau tuntaskan mimpi yang pernah disesali. 

Menengok dahulu, buat dirimu bungkam di depan orang lain. Kau terdiam menimang rindu yang tak mudah disampaikan. Seringkali mengejar hal tak berarti, demi menuntaskan masa lalu. Namun berulang kali kau tetapkan jalan yang tertuang di permulaan. 

Yang pernah tak sedikit kau sesali. Bukankah tak mudah menemui yang telah berlalu? Setidaknya kamu menang, mengalahkan pepatah lama. "Tinggalkanlah masa lalu dan raihlah masa depan." 

30 Maret 2022 


Rekaman Kenangan 

Di kisah senja yang kujumpai, hati ini menyusun rencana tuk pulang. Rekaman kenangan di beranda rumah. Menegarkan suasana resah yang tak jua redah. Menerima kondisi hati tiada lagi berbagi. Aku rindu melodi-melodi dari mulut kecilmu. Atau senandung lagu yang tak karuan nada, berkeliaran dan bertengger di tenggorokan. 

Sebenarnya rinduku bersedia datang. Namun, sekarang rumah adalah sekelebat ruang. Membelah pihak-pihak lemah tanpa penenang. Tak ada yang bilang tuk terus berjuang. Meski syair jarang dihargai. 

Puisi-puisi hanyalah selembaran emosi. Dari hati yang dirasa tersakiti. 

Tetapi aku tetap merindukanmu lewat puisi. Menafsirkan perasaanmu melalui jari-jari. Suatu saat kau akan mengerti. Kenapa kata-kata terlontar romantis seperti ini. Kenapa hanya menulis yang tak menjanji. Hanya ini caraku; untukmu yang tak luput kucintai. 

31 Maret 2022 


Membatasi Mimpi

Remuk sudah hati yang kau janjikan mimpi. Rumah terlalu sulit menerima anak-anak negeri. Putra dan putrimu, kau anggap anak tiri. 

Berulang kali pergi, saban hari suntuk menyudahi. Tak berproses, tak berbuah mumpuni. Mereka hanya bermimpi, menghitung resiko dan konsekuensi. 

Perkiraan meniup, magis mengakhiri. Cita-cita menjelma detik yang terhenti. Berlanjut atau cukup sebagai halusinasi. Bumi membatasi seutas mimpi di pagi buta. 

31 Maret 2022 


Pukul 18.30 di Kota Orang 

Berlarian ke sana ke mari, mesin buatan manusia. Tak berpikiran siang atau malam, walau kabut dan debu diterpa. Mengejar malam dan target tuk cepat pulang. Keramaian dalam gelap; di seberang jalan, berpegang tas dan kantong plastik. Ditemani seorang kawan yang setia berjaga. 

Tepat 18.30, masih tertahan di kotamu. Minggu, jalanan dua arah terpenuhi mesin berlampu ke arah barat-timur. Kusandarkan bahu di kursi tiga baris jurusan Bungurasih. Penumpang berdesakan memenuhi kursi. Sesaat kemudian laju terhenti. Jalan tertutup mobil yang terparkir rapi menuju Surabaya. 

Desas desus, kabar dari desa tetangga; pengemudinya ngantuk. Kudengar orang-orang berkeluh seperti hanya diam berkepanjangan. Lalu dengan gesit bus sengaja berkelok-kelok menyeberang arah. Para penumpang menodong supir bus dengan umpatan-umpatan marah. Keributan sejenak tenggelam di seluruh tubuh bus. 

Hanya ratusan doa terlontar untuk segera pulang. Selamat memprioritaskan segala kepergian. Sekujur tubuh membaur di sela angin timur. Malam singkat di keangkuhannya jalanan. Tiada menghentikan batas keramaian. Padatnya manusia berlalu lalang. Meski gelap menginginkan tuk bersandar. 

Sekejap saja memperhatikan ratusan aktifitas yang tiba lebih awal. Semoga segera diselesaikan, agar kembali mengenyam tidur sekelebat malam. Keheningan beserta nyaman. Seperti seingin-inginnya beristirahat segera. Tapi kembali dihancurkan oleh harapan esok. 

29 Maret 2022 

 

Baca juga: Bayar Kopi dengan Puisi

Baca juga: Sajak-sajak Cindy Wijaya

Baca juga: Mengingat Penyair Intojo di Hari Puisi Sedunia


Memaknai Secangkir Kopi 

Semua berhenti bekerja dan berbicara. Menyambut letihnya hari-hari biru. Bolehkah aku sendiri saja di sini? Menyeruput hangat secangkir kopi. Bukan aroma Jawa dan Gayo, namun Flores. Yang kusukai saat bersamamu maupun sendiri, hanyalah butir-butir waktu. 

Sekadar kopi bagi penikmat rindu yang tak sampai. Kurangkai hari-hari menepis sepi. Sendu, biarlah kuseruput kopi tanpa kasih. Aroma kian menyertai bongkahan-bongkahan mimpi. Mengendaplah yang sudah terjadi. 

Sebagai penerima reranting kapas-kapas di hati. Berusaha berjuang tapi terhempas di jemari angin. Di sini, masih tertinggal secangkir kopi. Kutuliskan larik-larik sajak yang teduh untukmu. Sebagai inspirasi, imajinasi, dan barangkali manipulasi. 

Januari, 2022 


Kopi dan Senja 

Kita sibuk merangkai mimpi tanpa bertemu. Menasihati bayangan masing-masing. Sekiranya semua baik-baik saja. Rindu mengalahkan jarak. Cukup senyum di sedikit waktu yang tersisa. Sekiranya, masih sanggup kuhitung waktu saat kedatanganmu tiba. Padahal rentang masa tak sebentar. Tak harus menjadi pendeknya pengantar. Yang kurindukan hanyalah melewati senja bersamamu. Waktu seakan menjadi rahasia tuk berjumpa. Rangkaian kisah penuh harapan di setiap kasmaran. Agar sama-sama menemukan tujuan hidup. 

Telah kusiapkan seceret kopi hangat untuk memulai perbincangan. Aromanya bahkan tak akan membuatmu bosan. Terlintas penerimaan atas apapun yang kuusahakan. Walau hanya segelas kopi kuhantarkan. Nikmatnya selalu menghias hati kita. Tersampaikan sudah perasaan yang lama terdiam kaku. Kita menjelma aroma kopi, sengaja merencanakan rindu. Meraup kata; tak bertemu, kian candu. Saling menatap, mata tak saling segaris. Hidup harus disyukuri bersamamu. 

Bukankah kita merelakan perpisahan? Masa lalu ataupun masa depan. Yang pernah kita rencanakan. Tak ada kopi tersisa usai duduk di halaman kecil. Kita sepertinya telah saling melupakan. Tak pernah berjanji dan bertemu kembali. Menantikan sayap-sayap waktu luruh di ujung pertemuan. Kita tak akan berjalan bersama di kehidupan, namun saling mencari dalam kesepian. 

Januari, 2022 


Pribumi 

Hiruk pikuk para pribumi. Menemani pagi tuk berlari. Tersimpan jelas raut wajah gundah orang-orang melangkah di pematang sawah. Ke sana dan ke mari hanya berencana. Kedai, kafe, dan warung kopi pinggiran kota. 

Sarana menarik melambai keinginan pembeli. Hangat dan dingin siap tersaji. Hanya secangkir kopi di pembuka hari. Orang-orang bercanda mencari kabar di surat kabar, media sosial, dan televis. Kabar bencana dan korupsi bertebaran. 

Kopi, hitam pekat bagai sepi. Sengaja menanti senyum para pemimpi. Bagi penikmat kopi, sepertinya kehangatan menyamai sinar pagi. Menanti penat hari-hari. Duduk di sini, bersantai sejenak, dan menikmati kopi yang tubuh di tanah sendiri. Secangkir kopi, orang-orang mencurahkan pesan. Mengental di setiap sisi mata angin. 

Januari 2022 


Tanah Petani 

Tiada rupiah tanpa bekerja. Para pejuang selalu menjelajah hutan belantara. Kami terus menjaganya. Beralas tanah basah, setia melangkah di pagi buta. Menempuh lelah di setiap kisah. Kelak sampai jua di ujung bahagia. Mereka menyukai kesederhananaan. Hanya sebatas nafkah untuk sepotong bahagia. 

Pada hutan rimba, kami memilih setia menabur benih. Menyemai biji kopi warisan tetua sendiri. Menjaga tradisi bagi para penikmat kopi di kota-kota.

Kami menanam di sini, mereka mengirup di sana. 

Petani kopi teruslah setia. Menanam kopi di alam lestari. Menjaga aroma tradisional. Legam kopi, tetap nikmat menemani suasana yang selalu berganti. Dalam panjang ketentuan menanam hingga memanen. 

Petani kopi sekadar penyeduh sampul kepada generasi penerus. Terhadap hadirnya kreasi anak bangsa. Mengupas tuntas kebutuhan dunia. Kopi Indonesia punya rasa, aromanya tercium sampai di meja makan presiden. 

Januari, 2022 


Ngopi di Lain Waktu 

Secangkir kopi membawa inspirasi. Mendatangkan ketenangan sementara. Membuat orang-orang memilih tuk menikmatimu. Rutinitas sehari-hari terhenti sejenak. Budaya ngopi senja hari perlu dijaga bersama. Bukan aku atau kamu saja yang menyuka ngopi. Merekatkan jiwa-jiwa untuk saling bercerita. 

Pertemuan seusai perpisahan.Topik hari-hari kian suram. Tanpa jawab pasti dan akhirnya terlupa usai kita berbicara. Menyudahi pertemuan di akhir cerita. Cukup secangkir kopi agar bertemu kembali di lain waktu. Sabarlah sebentar, kan kutemui kau di sela-sela senja lainnya.  

Januari, 2022 

 

Baca juga: Sajak-sajak Joni Hendri

Baca juga: Sajak-sajak Fahira Rayhani

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

Ella Juliana Puspita Sari, lahir di Gresik, Jawa Timur, 15 Juli 1998. Anak pertama dari dua bersaudara ini suka menulis puisi. Sajak-sajak di sini, yaitu "Memaknai Secangkir Kopi", "Kopi dan Senja", "Pribumi", "Tanah Petani", dan "Ngopi di Lain Waktu" merupakan karya yang termuat dalam 50 peserta pilihan kurator pada Lomba Cipta Puisi dalam rangka Festival Pesona Kopi Agroforestry 2022. Lomba ini diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI bekerjasama dengan Media Indonesia. Kini mengajar dan mengelola sebuah komunitas baca di Gresik. 

 

 

BERITA TERKAIT