29 April 2022, 04:55 WIB

Ramadan dan Mudik Lebaran


Moh Najib Wakil Ketua Umum MPP ICMI | Renungan Ramadan

MI/Seno
 MI/Seno
Moh Najib Wakil Ketua Umum MPP ICMI

DI antara keistimewaan Ramadan ialah Ramadan menjadi bulan penghapus dosa-dosa. Puasa Ramadan merupakan ibadah selama satu bulan penuh yang hikmahnya menghapus dosa-dosa.

Ketika puasa Ramadan dijalani penuh dan sempurna dan berhasil menghapus dosa-dosa, jiwa orang yang berpuasa menjadi kembali dalam keadaan suci, bersih dari dosa, seperti awal kelahiran fitrah.

Pembersihan dosa-dosa dilakukan melalui puasa selama Ramadan penuh, ditunjang dengan amal ibadah lain berupa memperbanyak istighfar, sholatul lail, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, iktikaf di masjid, sedekah, doa, zikir, dan amal kebaikan lain. Lalu, diakhiri dengan penunaian zakat fitrah (pembersihan jiwa yang suci).

Keberhasilan kemenangan berjuang menghapus dosa disyukuri dengan Idulfitri. Maknanya, pesta kembali dalam keadaan suci, bersih dari dosa.

Penghapusan dosa-dosa melalui puasa Ramadan dan diakhiri zakat fitrah, itu baru dosa-dosa di hadapan Allah. Namun, dosa-dosa terhadap sesama manusia belum tehapus, seperti dosa berdusta, menipu, hasud, dengki, ghibah, adu domba, kesaksian palsu, mencuri barang orang lain, menzalimi, memarahi, menyiksa, dan membunuh orang lain.

Semua dosa terhadap sesama manusia bisa terhapus hanya dengan cara meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Caranya mendatangi orang tempat berbuat dosa untuk meminta maaf atas perbuatan dosanya dan orang yang dimintai maaf itu memberi maaf dengan ikhlas. Dengan demikian, dosanya menjadi terhapus.

Terhapusnya dosa di mata Allah dan dosa terhadap sesama manusia itulah yang menjadikan manusia yang berjuang berpuasa di bulan Ramadan meraih kemenangan Idul Fitri kembali dalam keadaan suci seperti sucinya bayi baru lahir.

Permintaan maaf dilakukan dengan silaturahim mendatangi orang yang bersangkutan untuk menyampaikan permintaan maaf dan orang yang bersangkutan memberi maaf, sebaliknya orang bersangkutan balik meminta maaf dan memberi maaf. Idul Fitri diisi dengan saling silaturahim untuk saling menyampaikan permintaan maaf dan pemberian maaf.

Silaturahim penyampaian permintaan maaf diprioritaskan ditujukan kepada kedua orangtua (bapak dan ibu), kerabat orangtua, kakek, nenek, paman, bibi, dan keponakan. Selain itu, seluruh keluarga garis keturunan atas, bawah, dan samping. Kemudian, tetangga dekat yang memiliki hubungan kerabat, tetangga lain, sanak famili, handai tolan, dan bagian entitas sosial yang memiliki korelasi kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks budaya Indonesia, fenomena silaturahim Idul Fitri melahirkan budaya khas Indonesia, yaitu mudik, budaya pulang kampung halaman, yaitu desa. Tradisi sosial budaya komunitas muslim, yang semula mereka lahir dan besar di kampung halaman, kemudian berkarier, bekerja, berprofesi, membangun sumber penghasilan, bahkan menetap di kota, tempat kerja membangun sumber penghasilan yang berada di perantauan, jauh dari kampung halaman.

Bersamaan dengan usainya pelaksanaan kewajiban puasa Ramadan dan menyongsong lebaran Idul Fitri, mereka butuh bersilaturahim mengekspresikan penyampaian permintaan maaf kepada orangtua dan sanak keluarga serta handai tolan yang ada di kampung halaman. Hal itu sebagai rangkaian peleburan dosa-dosa terhadap sesama manusia, menempuh derajat Idul Fitri, juga mengekspresikan rindu kampung halaman akibat penatnya suasana kota tempat mengembangkan kerja dan karier. Budaya mudik lebaran bertujuan silaturahim sangat penting untuk dirawat.

 

BERITA TERKAIT