11 May 2021, 04:00 WIB

Menggapai Kekhusyukan Beribadah


Nasaruddin Umar | Renungan Ramadan

MI/Seno
 MI/Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal

KHUSYUK dalam beribadah masih sering diartikan sebagai konsentrasi puncak dengan mengerahkan segenap pikiran hanya tertuju kepada Allah SWT.

Jika khusyuk seperti itu yang dimaksud, hampir mustahil bagi orang awam bisa melaksanakannya.

Jadi, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan khusyuk? Bagaimana Rasulullah SAW mengamalkan ibadah-ibadahnya dalam kaitannya dengan khusyuk?

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah memimpin salat di masjidnya. Tiba-tiba cucunya, Hasan dan Husen, putra-putra dari Ali dan Fatimah, keluar dari kamar.

Mereka masuk ke masjid lalu naik ke punggung Nabi ketika ia sedang sujud. Nabi menunggu dan baru bangkit dari sujud setelah para cucunya tersebut turun.

Seusai salat, salah seorang makmum dan sahabatnya menanyakan kenapa Nabi sujudnya lama sekali dan tidak seperti biasanya.

Nabi menjawab, "Tadi cucu saya naik ke punggung saya ketika sujud. Saya takut ia jatuh kalau saya bangun dari sujud. Setelah mereka turun, baru saya bangkit dari sujud."

Pada kesempatan lain, Nabi pernah memimpin salat dengan cepat sekali dan berbeda dengan biasanya.

Salah seorang sahabat bertanya, "Kenapa salat kita lebih cepat kali ini?"

Nabi menjawab, "Apakah Anda tidak mendengar tadi ada anak kecil menangis di belakang yang mungkin ibunya sedang salat bersama kita. Makin lama kita salat, maka makin tersiksa anak itu."

Apakah Nabi dalam dua kasus tersebut salatnya khusyuk? Kenapa Nabi masih memikirkan keselamatan para cucunya yang sedang naik dan bermain kuda-kudaan di punggungnya? Kenapa Nabi masih memperhatikan suara tangisan anak kecil yang ada di belakang?

Apa sesungguhnya yang dimaksud khusyuk dalam Islam? Apakah khusyuk berarti harus meninggalkan ingatan kita kepada lingkungan sekitar dan terfokus sepenuhnya kepada Allah SWT?

Kata khusyuk secara harfiah berarti rendah, takluk, dan merendahkan diri kepada Tuhan.

Khusyuk dalam pengertian populer dapat diartikan dengan sikap seorang hamba yang sangat tenang dan fokus hanya kepada Allah SWT.

Khusyuk dilakukan biasanya dalam salat atau ketika kita sedang berdoa. Khusyuk gampang diucapkan, tetapi amat sulit dilaksanakan. Kita bisa mengajarkan teori dan praktik khusyuk, tetapi belum tentu kita sendiri dapat melaksanakannya.

Bila seseorang sampai kepada tingkat kekhusyukan, segalanya bisa plong. Pikiran jadi lurus dan terang, jiwa jadi bersih dan lembut, hati jadi basah, beban hidup terasa ringan, problem jadi terurai, optimisme jadi besar, frustrasi jadi lenyap, dan kekecewaan jadi terobati.

Di samping itu, Tuhan terasa rida dan dekat, doa dan munajat terasa terdengar Tuhan, dan semuanya akan menjadi terlihat kecil di hadapan Allah SWT.

Sebenarnya kekuatan khusyuk terletak di dalam hati. Hati yang aktif untuk menjalin komunikasi dengan unsur dalam hati kita maka diharapkan akan lalu mendatangkan berbagai keajaiban dalam berbagai bentuk, sesuai tingkat kedalaman dan penghayatan kita.

Khusyuk ialah pengalaman pribadi. Oleh karena itu, kita perlu belajar, kalau perlu mencatat, pengalaman-pengalaman batin apa yang dilakukan pada saat kekhusyukan itu terjadi. Pengalaman dan kiat pribadi orang lain untuk mencapai tingkat kekhusyukan juga perlu dipelajari.

Sebanyak 17 kali Tuhan menyebutkan kata khusyuk di dalam Alquran, di antaranya, “Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS Al-Anbiya’/21:90).

Semoga kita semakin khusyuk menjalankan ibadah, terutama setelah ditempa sebulan penuh selama Ramadan. Allahu a’lam.

 

 

BERITA TERKAIT