23 September 2022, 10:05 WIB

Kefamenanu dari Kata Menjadi Kota


Apolonius Anas, Direktur Lembaga Bimbingan, Kursus dan Pelatihan U-Genius Kefamenanu | Opini

Dok pribadi
 Dok pribadi
Apolonius Anas

PADA Kamis (22/9), Kota Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) genap berusia 100 tahun. Kota yang terletak persis di tengah Pulau Timor ini secara perlahan tumbuh menjadi kota yang nyentrik. Dari sisi pendidikan misalnya, kehadiran Universitas Timor sebagai perguruan tinggi negeri di wilayah perbatasan Republik Indonesia dan Republik Demokratik Timor Leste, berkontribusi besar meningkatkan reputasi Kefamenanu dikenal masyarakat luas.

Hadirnya Universitas Negeri Timor (Unimor) memberi peluang kepada setiap warga negara Indonesia secara berkesinambungan mendiami Kefamenanu dalam jangka waktu singkat atau lama berkaitan dengan aktivitas pendidikan. Keadaan ini mengakibatkan arus perpindahan manusia keluar masuk kota selama lima tahun terakhir semakin besar. Aktivitas perekonomian warga kota pun meningkat.  

Unimor adalah salah satu aset berharga bagi Kefamenanu. Unimor itu adalah pembuktian sebuah spirit eksodus keluar dari jurang yang dalam. Oleh karena itu, warga TTU khususnya kota Kefamenanu mesti bersyukur kepada Tuhan karena pemerintahan masa lalu di bawah pimpinan Bupati Anton Amaunut bersedia dan menerima kehadiran Unimor ketika daerah lain menolak. 

Pada perayaan menjelang 100 tahun ini, berbagai acara telah diselenggarakan Pemerintah Daerah TTU selama dua minggu terakhir. Berbagai acara hiburan dan olahraga ditampilkan di hadapan ribuan warga TTU yang memadati lapangan Oemanu. Selain upacara bendera sebagai acara puncak, diadakan pula karnaval budaya sebagai bagian dari kemeriahan kegiatan hari ulang tahun Kefamenanu. 

Pada 2022 ini, ratusan kelompok baik lembaga pendidikan, etnis maupun komunitas masyarakat yang mendiami Kefamenanu berpartisipasi aktif dalam kegiatan karnaval budaya. Hal itu menjadi bukti kota yang berada di lembah Bikomi ini mencintai keberagaman dan terus mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila. 

Keberagaman itu telah bertumbuh dan berkembang dengan baik dan menjadi warna yang memancarkan keindahan bagi Kefamenanu. Itu terus dipelihara oleh Pemda TTU sebagai aset kebersamaan dan solidaritas sesama warga. Di lapangan Oemanu sebagai alun–alun utama kota dijadikan pusat kegiatan masyarakat TTU seluruhnya. Mereka meluapkan kegembiraan, kesenangan dan sukacita dalam berbagai acara hiburan.

Momentum refleksi

Usia satu abad lahirnya Kefamenanu bisa dijadikan momentum refleksi. Tujuannya melihat kembali spirit partisipatif dan kolaboratif membangun Kefamenanu dan Kabupaten TTU secara keseluruhan dalam dekapan semboyan nekaf mese ansaof mese. Spirit semboyan itu adalah salah satu akar kebijaksanaan lokal suku Dawan yang menunjang dan mendukung jalinan rasa persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara. 

Ada perbedaan semangat yang muncul ketika nekaf mese ansaof mese diucapkan sendiri oleh warga Suku Dawan. Energi kata-kata itu mampu mengikat semua penghuni tanah Dawan untuk berkolaborasi dan berpartisipasi dalam derap lanhkah membangun daerahnya. Nilai sejarah lahir Kefamenanu, salah satunya bisa merujuk pada spirit nekaf mese ansaof mese itu sebagai kekhasan dan cikal bakal membangun kebersamaan dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik di tanah Biinmafo. 

Wujud nekaf mese ansaof mese bisa dituangkan melalui sikap partisipatif dan kolaboratif dalam sebuah kebersamaan membangun peradaban manusia. Membangun peradaban manusia pada tataran hakiki dan prinsipil hanya fokus pada dua hal yaitu peradaban tubuh dan jiwa.

Jika mengerucut pada fakta sejarah yang menyebutkan bahwa sebelum terbentuknya kata Kefamenanu, ada peristiwa kasih dalam bentuk percakapan sederhana antara salah satu warga suku Bana dan tentara Belanda. Tema percakapan itu adalah kehausan. Situasi kehausan itulah yang mempertemukan warga suku Bana dengan tentara Belanda. Maka nilai kolaboratif dan partisipatif dalam gagasan ini diangkat dan menjadi rujukan reflektifnya. 

Merujuk pada sejarah lahirnya Kefamenanu seabad yang lalu, disebutkan bahwa ada seorang tentara Belanda menunggang kuda sedang mencari air segar untuk diminum. Ia bertanya kepada salah satu warga suku Bana yang sedang menggembalakan ternaknya di mana ada sumber air. Warga Suku Bana itu berkata kefa mnanu.  

Dalam bahasa Dawan dua kata itu memiliki arti; kefa artinya jurang dan mnanau artinya dalam. Maka arti kata Kefamenanu adalah jurang yang dalam. Ada huruf vokal e antara huruf m dan n sebagai penghubung sehingga memenuhi kaidah penyebutan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari saat itu. 

Dengan demikian kata Kefamenanu secara hakiki lahir dari situasi kehausan. Lahir dari sebuah perjuangan mencari air kehidupan (oemathonis). Itu esensinya. Orang Belanda lalu menggunakan otoritasnya menggunakan kata Kefamenanu sebagai ibu kota karena ia menemukan air kehidupan  yang membebaskannya dari rasa haus. 

Tentara Belanda tentu bersuka cita setelah menemukan oemathonis, kemudian berinisiatif menggunakan kata yang disebutkan salah satu warga suku Bana tadi sebagai ibu kota kabupaten TTU hingga saat ini. Putusan itu dianggap sebagai kerja kolaboratif dan partisipatif warga Belanda bersama warga suku Bana. 

Maka percakapan sederhana dalam sebuah perjumpaan di tepi jurang bisa dimaknai sebagai berkah kebersamaan antara warga yang asli dan pendatang. Salah satu warga suku Bana yang mengucapakan dua suku kata kefa dan mnanu adalah pintu masuk membuka spirit kebersamaan dimulai. Orang Belandalah kemudian meneguhkan kata itu lebih berenergi sehingga menjadi sesuatu yang indah dan menarik. Seandainya tidak ada perjumpaan antara dua orang tersebut, Kota Kefamenanu tidak mungkin ada.

Karena ada perjumpaan dengan begitu perjumpaan itu adalah berkah. Warga suku Bana tentu saja tidak menyangka kalau apa yang diucapkannya itu oleh orang Belanda menjadi sesuatu yang fenomenal. Pada peristiwa sejarah ini, warga suku Bana secara alamiah bepartisipatif aktif menunjuk sesuatu yang luar biasa di jurang yang dalam yaitu air. Ia tidak berdiam diri atau bersembunyi karena takut dengan tentara Belanda.

Interpretasi perjumpaan kasih

Tentu saja perjumpaan di dekat jurang yang punya sumber air kehidupan  tidak hadir begitu saja kalau tidak ada yang mengatur. Dari sisi iman perjumpaan ini bisa dikatakan sebagai perjumpaan kasih. Ada intervensi Allah yang luar biasa. Allahlah yang mempertemukan salah satu warga suku Bana dan warga Belanda di tepi jurang dalam usaha mencari oemathonis

Dalam konteks perjumpaan yang penuh kasih dan disaksikan alam itu, warga suku Bana tetap yang paling utama bertanggung jawab kepemilikan atas alam ciptaan Allah di wilayah ini. Dialah pemilik dan referensi bahwa ada sumber air yang melimpah di lembah Bikomi. Itu hanya terletak di dalam jurang yang dalam. 

Salah satu warga dari suku Banalah yang membuka celah atau pintu rahmat itu kepada orang lain atau pendatang. Warga suku Bana membuka diri tanpa diliputi rasa takut pada stigma orang Belanda sebagai kaum penjajah. 

Kata Kefamenanu muncul sebagai sesuatu yang fenomenal setelah orang Belanda merasa bahagia, suka cita dan lega pascameneguk air dari dalam jurang. Karena telah terhindar dari rasa haus dan dahaga, orang Belanda harus mengikuti suara hatinya untuk mengubah tempat yang melegahkan itu dengan nama Kefamenanu. 

Penyatuan dua kata menjadi kota sebenarnya secara iman merupakan penyatuan dua spiritualitas. Ekstra spiritualitas yang diwakili orang Belanda dan intra spiritualitas yang diwakili salah satu warga asli Suku Bana. Keduanya menyatu dalam satu spiritualitas yang sama yang sama spiritualitas eksodus dari jurang yang dalam. Setelah orang Belanda meneguk air dari jurang yang dalam, ia tidak menghakimi suasana jurang yang dalam secara fisik. Namun ia mengubah sesuatu yang jurang sekadar kata menjadi lebih bermakna yaitu kota. Itulah nilai keeksodusannya. Mengubah kata kata menjadi kota.

Apa yang terjadi di sumber air secara spiritual pada diri orang Belanda tentu tidak ada yang tahu sampai saat ini. Tetapi hal itu bisa ditelusuri dari situasi kegirangan orang Belanda pascaminum air dari dalam jurang sebagai petunjukanya. Dari jurang yang dalam, ia kemudian mengajak teman-temannya yang lain agar melakukan eksodus besar-besaran dari Noeltoko ke lembah Bikomi bernama Kefamenanu seperti yang tercantum dalam sejarah Kota Kefamenanu.

Eksodus dari jurang yang dalam 100 tahun lalu adalah peristiwa berahmat bagi orang yang mendiami Kefamenanu hingga saat ini. Rahmatnya adalah ketika berada di kota ini selalu tersadar bagaimana caranya bisa keluar dari ketertinggalan atau jurang yang dalam. Orang Belanda sebagai pendatang mengubah kata menjadi kota.

Tentara Belanda sebenarnya secara sadar mengajarkan kepada salah satu warga suku Bana saat itu cara terbaik keluar dari jurang yaitu dengan kerja kolaboratif. Jurang secara fisik walaupun memiliki sumber air tetap menjadi apa adanya jika tidak membuka diri melakukan eksodus batin. 

Maka untuk mengubah sesuatu yang sederhana menjadi luar biasa butuh kerja kolaboratif dan partisipatif. Di tangan orang Belanda sebagai pendatang, jurang yang dalam tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang negatif melainkan berkah. Mereka telah berperan mengubah dua kata kefa dan mnanu menjadi satu kata berbentuk kota yang nyentrik. 

Nilai eksodus atau move on diajarkan di sini maka terbentuklah Kota Kefamenanu. Penyatuan dua kata di atas tidak sekadar language match berdasarkan tutur Melayu saat itu. Tetapi sebuah energi atau spiritualitas mengubah yang jurang berbentuk kata menjadi peluang (kota) dalam bingkai eksodus.

Melalui alam seperti jurang, orang Kefamenanu mestinya sadar bahwa Allah sangat luar biasa menuntun dan memberi kelegaan dan pengharapan. Jadi kekuatan dasar bagi orang Kefamenanu adalah spiritualitas eksodus bersama saudara sedarah dan tidak sedarah, karena berjalan bersama Allah dan alam dalam semangat kolaboratif dan partisipatif. 

Optimisme 

Saat ini Kefamenanu sudah memasuki usia satu abad. Dari sisi pembangunan fisik, kota ini memang belum mampu bersaing dengan kota-kota lain di NTT. Namun berkiblat pada momentum peringatan satu abad tampaknya semangat tetap ada. Optimisme tidaklah sirna bahkan terus bertumbuh. Ini soal waktu dan kesadaran kolektif dan kolegial yang dimotori pemdanya.

Maka sudah saatnya semua kalangan baik Pemda TTU maupun warga tidak boleh lagi berjalan sendiri. Harus meneladani figur salah satu warga suku Bana yang membuka diri dengan orang Belanda. Merujuk pada momentum sejarah itu, maka memberi kesempatan kepada yang bukan asli untuk berkontribusi adalah baik adanya. Dasar pemikirannya adalah peristiwa di tepi jurang itu. Peristiwa yang mengubah kata menjadi kota.

Kerja kolaboratif menuntut saling percaya dan menghormati dalam upaya berperan serta dan bergandengan tangan dalam pembangunan dengan tidak mengabaikan yang lain. Sudah saatnya benih-benih primordialisme dihapus dan menjadikan yang bukan seasal sebagai 'teman seperjalanan' dalam suasana eksodus dari jurang yang dalam demi peradaban manusia.

Semboyan berenergi nekaf mese ansaof mese mesti ditunjukan. Ego sektoral (identitas) dan ego elektoral (politik) juga harus dimusnahkan demi target keluar dari jurang yang dalam tercapai.

Momentum hari lahirnya Kota Kefamenanu juga sebenarnya momentum doa. Bahwa warga Kefamenanu adalah warga peziarah juga yang mesti tidak tinggal diam selalu berkanjang dalam doa, sambil berpartisipasi dan berkolaborasi membangun meneladani dua figur di tepi jurang yang saling membuka diri.

Kefamenanu adalah kota ziarah. Kota yang terbentuk dari hasil perjumpaan kasih. Ia tidak lagi sekadar kata tetapi menjadi kota yang tidak memberi peluang sedikitpun kepada siapa saja mengotak-kotakan warganya.

BERITA TERKAIT