25 February 2021, 00:00 WIB

BPOM Diminta Perketat Regulasi Kental Manis


M Abdillah Marzuqi | Humaniora

Antara
 Antara
Ilustrasi

SEJUMLAH pihak yang menaruh perhatian terhadap persoalan kental manis meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperketat regulasi kental manis, menyusul masih tingginya prevalensi stunting di Indonesia.

 

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengingatkan BPOM untuk tidak menunda pemberlakuan Peraturan BPOM No 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.

 

“Peraturan itu dilaksanakan terlebih dahulu, ketika sudah berjalan baru kita akan tahu ada kekurangannya. Setelah kurun waktu 3-5 tahun baru akan ada pertimbangan lagi untuk di revisi,” jelas Agus.

 

Beberapa hal yang diatur adalah penggunaan kental manis bukan untuk pengganti ASI dan sumber gizi, larangan penggunaan kata susu pada label serta larangan visualisasi anak dan kental manis digambarkan dalam bentuk minuman pada label, iklan, dan promosi. Aturan itu akan memasuki batas waktu penyesuaian pada 19 April 2021.

 

Lebih lanjut Agus menyebutkan, perihal pasal yang mengatur tentang label kental manis misalnya.

 

“Tentang kental manis ini kan jelas, kita mau mencegah anak-anak menjadi diabetes. Makanya produsen diminta merubah label dan iklan, jangan ada lagi yang menunjukkan kental manis diminum anak-anak. Ketentuan ini dibuat untuk melindungi anak-anak,” tegas Agus.

 

Menurut Agus, peraturan itu adalah masa depan bagi anak-anak Indonesia. Ia menghimbau semua pihak termasuk pemerintah dan swasta dapat menjalankan sebagaimana yang diamanatkan.

 

Senada, Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU Erna Yulia Soefihara, meminta BPOM nantinya dapat bertindak tegas terhadap produsen yang tidak menjalankan aturan yang telah ditetapkan.

 

“Peraturan itu harus ditegakkan dengan benar. Karena sekalinya kita memberi kelonggaran ke salah satu produsen kental manis yang melanggar, itu akan diikuti sama produsen yang lain. Kita otomatis juga akan jalan di tempat dan tidak ada perubahan untuk menghentikan kecurangan-kecurangan yang telah mereka lakukan selama ini. Jadi BPOM dalam hal ini harus bersikap tegas dalam pengenaan sanksi itu. Tidak bisa mian-main karena ini menyangkut kesehatan bayi dan anak-anak kita,” ujar Erna.

 

Sebelumnya, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama PP Aisyiyah dan PP Muslimat NU melakukan survei pada 2.068 ibu yang memiliki anak usia 0–59 bulan atau 5 tahun tentang pola konsumsi dan persepsi susu kental manis di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, dan Maluku. Penelitian itu menemukan 28,96% dari total responden mengatakan kental manis adalah susu pertumbuhan. Sebanyak 16,97% ibu yang menjadi responden mengaku memberikan kental manis untuk anak setiap hari. Hasil survei juga menemukan sumber kesalahan persepsi, sebanyak 48% ibu mengakui mengetahui kental manis sebagai minuman untuk anak adalah dari media, baik TV, majalah atau koran, dan sosial media. Sebanyak 16,5% responden mengatakan informasi tersebut didapat dari tenaga kesehatan. (OL-8)

 

BERITA TERKAIT