29 January 2021, 17:15 WIB

Freeport Usung Pembangunan Berkelanjutan


Ade Alawi | Ekonomi

Panitia MGN Summit
 Panitia MGN Summit
.

PT Freeport Indonesia memiliki komitmen untuk mengimplementasikan dan mencapai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yakni dengan mengembangkan berbagai aspek kehidupan  masyarakat di sekitar area tambang.  

“PTFI menginvestasikan rata-rata 1 triliun rupiah setiap tahunnya di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan infrastruktur. Total biaya program pengembangan masyarakat PTFI selama 28 tahun terakhir (1992-2019) mencapai sebesar USD1,73 miliar,” kata Direktur Utama PTFI Tony Wenas dalam Media Group News (MGN) Summit: Indonesia 2021 yang digelar secara hybrid (luring dan daring) dari Grand Studio Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (28/1).

Mengutip Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM UI), Tony menambahkan, pada 2015 kegiatan pertambangan PTFI berkontribusi terhadap hamper 94% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Mimika, 48% PDRB Provinsi Papua, dan 0,6% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Tony Wenas hadir sebagai panelis pada Media Group News Summi: Indonesia 2021, Kamis (28/1), pada sesi Sustainable Energy: Green and Clean, bersama Presiden Direktur PT Medco Energy Hilmi Panigoro, Ketua Masyarakat Ekonomi Terbarukan Indonesia (METI), Ketua Yayasan Pembangunan  Berkelanjutan Erna Witoelar, Rektor ITB Reini Wirahadikusumah, Ketua Umum Apkasindo Gulat Medali Emas Manurung, dan Ketua Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri.

Acara yang dipandu Arief Suditomo, Direktur Pemberitaan Metro TV itu, menghadirkan narasumber Menteri Energi Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif, Menteri LIngkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Ketua Komisi VII DPR R RI Sugeng Suparwoto, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, dan Wakil Dirut PLN Darmawan Prasodjo.

Sebelumnya, Tony Wenas menyatakan sependapat dengan para narasumber tentang perlunya Energi Baru dan Terbarukan (EBT) demi masa depan yang ramah lingkungan. Pihaknya, kata dia, terus berupaya menggunakan listrik berbasis EBT dalam menjalankan operasional perusahaan tambangnya meskipun hal itu tak mudah dilakukan.

Tony mengatakan pengembangan lingkungan di sekitar wilayah tambang adalah kegiatan reklamasi pesisir di Muara Ajkwa dengan menanam mangrove seluas 401,31 Ha sejak 2005, reklamasi lahan tailing tidak aktif seluas 873 Ha, pemanfaatan tailing untuk pengembangan infrastruktur di Papua, konservasi dan reapatriasi satwa endemik dan penemuan spesies-spesies baru. “Biaya reklamasi dan rehabilitasi pasca tambang sebesar USD 350 juta,” ungkapnya.

Dalam pembangunan infrastruktur masyarakat, lanjutnya, di antaranya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) untuk masyarakat Desa Banti, Tembagapura, Mimika, Papua. (X-10)

BERITA TERKAIT