27 January 2021, 18:30 WIB

Iran Sebut Israel Lancarkan Perang Psikologis


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Stringer
 AFP/Stringer
Seorang anak laki-laki yang terluka terbaring di ranjang rumah sakit menyusul laporan serangan Israel di Provinsi Hama, Suriah, pekan lalu. 

SEORANG pejabat tinggi Iran, Rabu (27/1), mengatakan musuh bebuyutan Israel sedang melancarkan perang psikologis. Ini disimpulkan setelah tentara negara Yahudi itu mengatakan opsi ofensif baru sedang disusun jika diperlukan terhadap republik Islam itu.

Kepala Staf Presiden Iran Hassan Rouhani, Mahmoud Vaezi, bersumpah bahwa negaranya siap dan bersedia untuk mempertahankan diri. "Kami tidak berniat berperang, tapi kami serius membela negara," katanya.

Israel, sekutu dekat AS, menuduh Iran berusaha membangun bom nuklir. Tuduhan ini dibantah Teheran. Negara Yahudi itu juga sering menargetkan serangan kepada kelompok militan yang didukung Iran di Libanon, Suriah, dan Jalur Gaza.

Kepala Militer Israel Jenderal Aviv Kochavi mengatakan pada Selasa (26/1) bahwa dia telah memerintahkan rencana baru yang disusun tahun ini untuk melawan kemampuan nuklir Iran, jika para pemimpin politik memutuskan untuk menargetkan negara itu.

"Kekuatan untuk memulai menyerang mereka terletak pada elite politik," Kochavi menekankan. "Namun, opsi ofensif perlu dibuat, siap, dan di atas meja."

Vaezi membalas pada Rabu bahwa mereka melakukan perang psikologis. Menanggapi pertanyaan di sela-sela pertemuan dewan menteri, dia menuduh, "Israel praktis tidak memiliki rencana, tidak punya kapasitas."

Manuver militer Iran baru-baru ini berupa uji coba rudal dan drone, Vaezi menambahkan, menunjukkan bahwa angkatan bersenjatanya dilatih untuk mempertahankan Iran.

Pernyataan Kochavi datang hampir seminggu setelah pelantikan Presiden AS Joe Biden yang mengisyaratkan dia ingin kembali berdialog dengan Iran.

Pendahulunya Donald Trump telah secara sepihak menarik Washington pada 2018 dari kesepakatan nuklir yang dibuat Teheran dengan kekuatan-kekuatan utama dunia.

Tim Biden berpendapat Iran harus terlebih dahulu kembali ke kepatuhan ketat dalam kesepakatan nuklirnya berdasarkan kesepakatan dengan Inggris, Tiongkok, Prancis, Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat.

Teheran telah menuntut pencabutan sanksi hukuman tanpa syarat terlebih dahulu dan meminta Washington untuk berhenti berusaha untuk mengekstraksi konsesi.

Israel menolak kesepakatan nuklir. Kochavi menegaskan kembali pandangannya bahwa kesepakatan apa pun yang menyerupai kesepakatan 2015 merupakan hal yang buruk, baik secara strategis maupun operasional.

"Tekanan terhadap Iran harus dilanjutkan. Iran tidak boleh memiliki kapasitas untuk mengembangkan bom nuklir." (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT