22 December 2020, 11:36 WIB

Soal Demo 1812, DPRD DKI Ingatkan Anies tidak Diskriminatif


Hilda Julaika | Megapolitan

ANTARA/M Risyal Hidayat
 ANTARA/M Risyal Hidayat
Seorang personel Brimob Polri berusaha menghalau massa aksi demonstrasi 1812, di kawasan Medan Merdeka Selatan, Jakarta.

ANGGOTA DPRD DKI Gilbert Simanjuntak mengingatkan Gubernur Anies Baswedan untuk tidak lagi melakukan diskriminasi kebijakan. Pasalnya, baru-baru ini, kembali muncul kerumunan yang rentan menjadi klaster covdi-19. Kerumunan tersebut adalah aksi demonstrasi 1812 yang dimotori massa simpatisan Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

“Jangan lagi ada kebijakan diskriminatif. Saya tidak mendengar statement Gubernur yang melarang aksi 1812. Kalau isolasi mandiri tidak bisa jadi alasan. Sangat disayangkan sikap bermain politik yang mengorbankan rakyat,” kata Gilbert saat dihubungi, Selasa (22/12).

Ia meminta Pemprov DKI serius dan tegas dalam mengantisipasi dan menindak kerumunan di Jakarta. Pasalnya, ia menilai sejumlah kerumunan ini yang ikut menyumbang melonjaknya kasus di Jakarta, khususnya pada Desember ini.

Baca juga: Pemprov DKI Janji Tambah Tempat Tidur ICU dan Isolasi Mandiri

“Yang paling baik adalah pengawasan diperketat dan tidak memberi izin kerumunan,” jelasnya.

Menurutnya, Pemprov DKI, saat ini, sudah memperlihatkan ketidakmampuan menangani pandemi. Hal itu dilihat dari peningkatan kasus covid-19 yang tinggi, penuhnya sejumlah rumah sakit rujukan covid-19, hingga kesiapan lahan pemakanan yang terlambat.

Saat ini, RSD Wisma Atlet sudah tidak mengizinkan pasien covid-19 dengan status orang tanpa gejala (OTG) untuk dirawat di sana.

“Ini juga ketidakmampuan DKI menangani pandemi ini dan mengatisipasi. Saya lihat kesiapan lahan pemakaman juga terlambat sehingga jadi tumpang tindih dikubur,” paparnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan aksi demonstrasi 1812 menimbulkan kerumunan covid-19. Ariza mengatakan setidaknya ada 38 pendemo yang reaktif covid-19.

“Ya tentu itu salah satu. Kemarin itu ada yang reaktif tertular jumlahnya 38 kalau tidak salah,” kata Ariza di DPR RI, Jakarta Pusat, Minggu (20/12).

Ariza berharap, ke depannya, warga Jakarta tidak melakukan kegiatan yang menimbulkan kerumunan lagi. Apalagi kerumunan ini tidak menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Kerumunan seperti itu bisa menimbulkan penyebaran covid-19. (OL-1)

BERITA TERKAIT