27 November 2020, 03:09 WIB

Jaga Warisan Budaya Lewat Wirausaha Berbasis Kearifan Lokal


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

Dok. Citi
 Dok. Citi
Program Kuta Muda Kreatif UNESCO dan Citibank

SITUS warisan di Indonesia memainkan peran penting dalam pelestarian nilai-nilai warisan budaya dan memberikan pengalaman budaya bagi para pengunjung internasional dan domestik. Namun, meskipun jumlah wisatawan ke situs warisan dunia terus meningkat, masyarakat lokal yang tinggal dan berada di sekitar situs warisan budaya jarang menerima manfaat ekonomi sosial dari besarnya jumlah pengunjung.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, UNESCO Jakarta dan Citi Foundation telah melibatkan 400 wirausahawan muda di enam situs populer di seluruh Indonesia sejak 2017, guna meningkatkan kesadaran tentang pelestarian warisan budaya, sekaligus meningkatkan taraf hidup dan pencaharian masyarakat yang tinggal di sekitar situs warisan budaya tersebut.

Program Creative Youth at Indonesian Heritage Sites selalu berusaha menyelaraskan diri dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup kaum muda dan mendukung mereka menjadi wirausaha mandiri. Selain bersinergi dengan kegiatan pemerintah, program Kita Muda Kreatif juga berhasil memobilisasi mitra dari sektor swasta untuk mendampingi para wirausaha muda.

"Program Kita Muda Kreatif dirancang untuk mendukung peningkatan kapasitas bisnis para wirausahawan muda dalam berbagai aspek, mulai dari kewirausahaan, literasi keuangan, hingga dukungan jenama. Kami mendorong generasi muda untuk berkolaborasi satu sama lain, dan kami berharap mereka makin mengenal budaya mereka dan menjadikannya sebagai inspirasi,” ungkap Shahbaz Khan, Director and Representative of UNESCO Office, Jakarta.

Selama pandemi Covid-19, program itu terus memberikan dukungan kepada para wirausaha muda dan mengadakan lebih dari 90 pelatihan daring melalui WhatsApp, Zoom, dan YouTube, antara Maret dan November 2020.

Tema-tema pelatihan yang diberikan meliputi pengembangan produk, literasi keuangan, perencanaan bisnis, pemasaran dan jenama; serta latar belakang sejarah dan nilai situs warisan, dan penguatan jejaring dengan pihak-pihak pemerintah, kalangan bisnis profesional, pakar-pakar warisan budaya, serta para pengusaha retail.

"Selamat kepada para peserta yang sudah mengikuti beberapa fase dari program ini. Memasuki fase berikut, kita bisa mengharapkan lebih banyak lagi karya kreatif yang muncul sebagai hasil interaksi dengan lingkungan cagar budaya kita,” ucap Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Survei internal yang dilakukan  pada November 2020 telah menunjukkan bahwa program ini mendukung terciptanya lebih dari 200 jenama wirausaha muda lokal yang terinspirasi dari budaya setempat. Selain itu hampir 25% dari mereka mengalami peningkatan pendapatan dan 30% dari wirausaha muda ini berhasil mengembangkan produk baru.

Pada 2021, proyek ini akan terus mendorong pemberdayaan wirausaha muda serta akan memperluas kegiatannya hingga ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, demi mendukung lebih dari lima puluh penenun muda meningkatkan taraf hidup dan pendapatan mereka sambil terus melestarikan tenun tradisional mereka.

Baca juga : Kemendikbud Berharap KMI Lahirkan Wirausaha Muda

Country Corporate Affairs Head, Citi Indonesia Puni A.Anjungsari mengatakan, pendekatan yang dilakukan terbukti efektif dalam membangkitkan semangat generasi muda dalam berkreasi dan berinovasi bahkan di masa pandemi seperti saat ini.

"Program ini mengedepankan kebutuhan dan potensi dari masing-masing wilayah dan selaras dengan prioritas pemerintah dalam memberdayakan perekonomian lokal pariwisata," ujarnya.

Pemandu muda dari Borobudur yang juga mengembangkan merek minuman jamu baru dalam rangka merespons pandemi, Cemplon Sebastian mengaku rangkaian sesi pelatihan yang disampaikan selama ini sangat berguna.

"Program ini tidak hanya membantu saya meningkatkan citra produk dan jenama saya, tetapi juga secara terus menerus jadi sumber inspirasi. Kelas-kelas pelatihan memberi saya pengetahuan dan energi tambahan untuk mengembangkan bisnis baru di tengah krisis COVID-19. Produk jamu baru saya Wedang Rempah Borobudur adalah buktinya. Saya senang dengan bisnis baru ini saya juga dapat membantu masyarakat desa Karangrejo, tempat saya tinggal," ujar Cemplon.

“Mengikuti program ini tidak hanya meningkatkan pendapatan usaha saya di sektor fashion, tapi juga pengetahuan saya tentang sejarah dan filosofi kain Ulos. Saya senang bisa berperan dalam pelestarian tradisi dan budaya melalui item-item fashion saya,” imbuh Anastasya Charles Angel Simanjuntak, pemilik ACAS Mode dari Sipoholon, Tapanuli Utara di wilayah Toba, yang juga salah satu penerima manfaat yang aktif di program ini.

Pada Maret-Agustus 2020, di masa anjuran untuk tetap di rumah akibat Covid-19, telah digelar lebih dari 90 kelas daring melalui aplikasi-aplikasi WhatsApp, Zoom, dan YouTube. Termasuk di dalamnya pendampingan khusus pada lebih dari 60 penenun dan perancang busana untuk mengembangkan masker yang modis dan berkualitas menggunakan kain tradisional. Kemudian 36 orang seniman muda menerima pelatihan untuk mengembangkan video promosi mereka.

Hasil yang nampak dari kegiatan-kegiatan tersebut adalah 119 wirausaha muda peserta program telah mengembangkan produk atau layanan baru; 97 wirausaha muda menyatakan mengalami peningkatan pendapatan meski dalam masa pandemi;  dan 51 wirausaha muda telah memperkerjakan karyawan baru atau menambah anggota tim selama mengikuti program.

Selain itu, selama periode tersebut program ini berhasil memberdayakan dua buah Youth Center masing-masing di Borobudur dan Klaten dengan menjalankan kegiatan bisnis baru. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT