27 November 2020, 02:40 WIB

Hasil Inspeksi ke Tiongkok, Sinovac Aman


ATALYA PUSPA | Nusantara

ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
 ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
 Simulasi melihat kesiapan tenaga medis dalam penanganan dan pengujian klinis tahap III vaksin COVID-19 produksi Sinovac kepada 1.620 relawa

VAKSIN Sinovac, dari segi mutu, termasuk kategori aman dan sudah memenuhi aspek cara pembuatan obat yang baik di Tiongkok.

“Berdasarkan inspeksi yang telah dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan PT Bio Farma ke pabrik pembuatan vaksin Sinovac di Tiongkok, terbukti bahwa vaksin tersebut aman,” kata Kepala Badan POM Penny Lukito dalam konferensi pers secara daring, kemarin.

Dalam pembuatan vaksin, lanjutnya, ada tiga hal yang musti diperhatikan, yakni mutu, keamanan, dan khasiat. Adapun aspek kemanan dan khasiat akan diketahui hasilnya setelah uji klinis fase 3 selesai.

“Kami menunggu data-data uji klinis fase 3 yang saat ini masih berlangsung di Bandung. Sampai saat ini menunjukan data yang baik jika dilihat dari efi kasi dan keamanannya.

Kami akan observasi tiga bulan ke depan untuk memberikan persetujuan penggunaan emergecy,” tambah Penny.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19, Kusnandi Rusmil, menyatakan saat ini pekembang an uji klinis vaksin Sinovac berjalan lancar. Sebanyak 1.603 relawan telah mendapatkan suntikan kedua. Selanjutnya, setelah satu bulan ke depan akan dilakukan pengambilan darah untuk dilihat pembentukan antibodinya.

“Dari segi keamanannya, untuk sementara waktu dapat kami katakan aman. Karena tidak terjadi hal-hal yang merugikan subjek. Kalaupun ada paling pilek, pusing, hanya terjadi 2 hari pada 20% subjek,” tambahnya.


Hemat pengeluaran


Pada kesempatan berbeda Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany mengungkapkan, apabila masyarakat Indonesia bisa disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak aman), dan pemerintah aktif menjalankan 3T (Tracing, Testing, Treatment), Indonesia dapat menekan kerugian negara akibat covid-19.

“Kita bisa menghemat sampai Rp500 Triliun, dan menggunakannya untuk membangun ekonomi Indonesia,” terangnya, pada acara Dialog Produktif yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

Hasbullah memperkirakan, bila pasien covid-19 dirawat lebih dari 30 hari, apalagi harus masuk ICU, setiap pasien menghabiskan dana sebesar lebih dari Rp100 juta.

Sementara itu, Komite Palang Merah Internasional (The International Committee of the Red Cross/ICRC) memberi bantuan alat pelindung diri (APD) covid-19 untuk lembaga pemasyarakatan (LP) di Kalimantan Selatan (Kalsel). Kawasan LP dinilai cukup rentan penyebaran covid -19.

Saat bertemu dengan koordinator ICRC untuk Kawasan Asia Pasifik, Dominic Earnshaw, Plt Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan mengatakan sangat mengapresiasi bantuan kemanusiaan tersebut. (Nur/DY/X-7)

BERITA TERKAIT