27 November 2020, 03:00 WIB

Guru dan Peradaban Bangsa Pasca-Covid-19


Aries Heru Prasetyo Dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM | Opini

MI/ANGGA YUNIAR
 MI/ANGGA YUNIAR
Aries Heru Prasetyo  Dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM

BERBEDA dari hari-hari biasanya, pagi itu, Nara, putra pertama saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, bergegas menyiapkan laptop dan meja belajarnya di ruang tengah. Dengan wajah penuh antusias dan seragam merah putih plus dasi, ia sangat bersemangat menyiapkan file di Google Classroom, yang kemudian diikuti dengan menyalakan Google Meet-nya.

Spontan, saya pun bertanya mengapa ia tiba-tiba rajin di pagi itu. Dengan polos ia pun menjawab 'mau membantu ibu guru sebab sinyal beliau akhir-akhir ini tidak bagus. Beliau bahkan harus mengajar dari halaman sekolah (karena ruang kelas ditutup) agar mendapat sinyal yang bagus dari handphone-nya. Padahal, kelas berlangsung hingga mendekati pukul 12.00. Terbayang betapa kondisi tersebut cukup jauh dari definisi kenyamanan'.

Itulah secuil tantangan yang dihadapi para pendidik kita. Sejenak asa saya melayang, melihat bagaimana jerih payah para pendidik yang berada di wilayah-wilayah yang mungkin belum terjamah teknologi.

Tak jarang, para pahlawan tanpa tanda jasa ini harus memberanikan diri, menempatkan kepentingan pribadinya untuk turun ke dusun-dusun demi menemui para peserta didiknya. Jika ditanya, apakah bapak-ibu guru tidak khawatir terkena virus? Mungkin beliau akan menjawab, 'saya lebih khawatir jika para murid tidak memperoleh pengetahuan yang membuatnya nanti sulit untuk naik kelas'.

Konteks kehidupan sosial masyarakat pascahadirnya covid-19 di Indonesia, harus diakui telah berubah secara dramatis. Posisi seorang pendidik tak lagi dipegang sendiri oleh para bapak dan ibu guru. Orangtua kini juga wajib memegang tanggung jawab itu.

Terlebih, pada pembelajaran jarak jauh yang telah kita lakukan bersama sejak Maret lalu, efektivitas pembelajaran tak hanya ditentukan komitmen sang guru. Motivasi murid dalam mengikuti proses pembelajaran, daya dukung fasilitas internet, serta peran aktif orangtua dalam memberikan pendampingan mutlak diperlukan.

Tak jarang, para profesional menyita lebih dari separuh waktu yang seharusnya difokuskan untuk orientasi bekerja dari rumah menjadi mendampingi para putra dan putrinya.

Tanpa disadari, semua pihak tengah berjuang dalam mempertahankan serta membangun peradaban di masa depan. Para pihak saling termotivasi agar jangan sampai kita kehilangan satu generasi hanya gegara covid-19.

Meskipun banyak tantangan yang harus diperjuangkan, realitas yang ada saat ini telah mendatangkan sejumlah pembelajaran luhur. Pertama, sebagai orangtua, menjalankan peran sebagai guru bukanlah hal yang sederhana. Guru ialah sosok yang 'digugu lan ditiru'.

Segala tindak tanduk dan tutur kata kita telah menjadi preferensi putra dan putri kita. Bagaimana kita dapat mencontohkan semangat untuk saling menerima perbedaan pendapat, bila di rumah kita selalu mengedepankan pendapat kita tanpa pernah berusaha untuk mendengarkan opini sang anak? Atau bagaimana kita mampu mencontohkan semangat saling menolong, bila kita tidak pernah menyiapkan waktu untuk mendampingi mereka dalam belajar atau sekadar mengerjakan pekerjaan rumahnya?

Tanpa disadari, pola keseharian kita saat ini secara otomatis akan membangun peradaban masa depan bangsa. Meski di satu sisi covid-19 cukup banyak mendatangkan problematik sosial dan ekonomi, di sisi lain terdapat pembelajaran yang begitu berharga. Kita diingatkan kembali bahwa peradaban bangsa ini sangat ditentukan suri teladan yang diberikan di rumah.

Karena itu, bila ke depan, kita mencita-citakan sebuah bentuk kehidupan bangsa yang dipenuhi dengan semangat gotong royong dan kekeluargaan, semangat itulah yang perlu segera dihadirkan di rumah dan di masyarakat saat ini.

Dengan mengambil aksi pada spirit tersebut, sebagian dari fungsi guru dapat tetap dijalankan orangtua. Alhasil, pembangunan peradaban kita akan diperkuat pada dua sisi: sisi 'hardskill' atau kompetensi dan keahlian di bidang kelimuan yang diberikan para guru di sekolah serta sisi 'softskills' yang diberikan para orangtua di rumah.

 

Kurikulum berbasis kearifan lokal

Berbicara tentang kompetensi, kiranya tak dapat dihindari dari sebuah kurikulum sekolah. Peradaban bangsa di masa depan, mutlak perlu dibangun dengan kekuatan nilai-nilai kearifan lokal, dengan tetap memperhatikan perkembangan dunia.

Kita tentunya dapat melihat ada begitu banyak kearifan lokal yang dibutuhkan dunia. Sebagai contoh, bahwa hak untuk menentukan nasib suatu bangsa, turut ditentukan bangsa itu sendiri. Itulah semangat yang mendasari munculnya sikap bangsa kita di dalam gerakan nonblock. Spirit itulah yang saat ini dibutuhkan dunia.

Sepak terjang strategi perdagangan internasional yang tak jarang diiringi adanya agenda tertentu sering membuat suatu negara seakan tak punya daya saing lagi. Di sinilah peran budi pekerti kita sebagai bangsa dituntut hadir.

Tantangan itulah yang harus kita jawab bersama-sama. Dalam sebuah dialog dengan beberapa siswa internasional, saya memperoleh kesan yang begitu mendalam. Satu hal yang menurut mereka sangat menonjol di Indonesia ialah setiap keputusan bersama tak selalu didasarkan pada voting, tetapi dengan musyawarah untuk mufakat.

Hanya dengan hati yang besar, seseorang akan mengikuti hasil putusan musyawarah walaupun mungkin tidak sesuai dengan kata hatinya. Namun, itulah yang unik dari Indonesia. Tak terhenti di situ, mereka pun melihat bahwa pada titik tertentu, setelah menjalankan putusan bersama, tak jarang mereka mengakui adanya perdamaian dengan opini pribadinya. Seraya memandang putusan bersama tersebut sebagai hal yang terbaik bagi kehidupan.

Perlahan, tapi pasti, pandemi ini akan segera berakhir. Harapan akan terbitnya mentari esok dengan udara yang betul-betul segar dan tersedia tanpa dipungut biaya bagi kehidupan perlu dibangun kembali. Di situlah peran strategis dari para guru mutlak diperlukan.

Suluh dan teladan akan pentingnya membangun asa serta merintis jalan guna mencapai cita-cita itu merupakan sebuah pembelajaran terbaik agar bangsa kita dapat terus bersemangat untuk bergerak menuju cita-cita besar, yakni kemakmuran yang berkeadilan. Melalui kompetensi dan budi pekerti yang luhur, niscaya Indonesia akan mampu berkontribusi lebih besar lagi pada upaya pemulihan dunia dari covid-19.

Selamat Hari Guru, terima kasih atas setiap jasa yang telah diberikan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan memberikan berkah yang berlimpah kepada para pendidik demi Indonesia sehat dan hebat di masa depan!

BERITA TERKAIT