26 November 2020, 17:16 WIB

Penguatan Karakter Generasi Z di Masa Pandemi Covid-19


mediaindonesia.com | Humaniora

Dok.Pri
 Dok.Pri
Septi Peni Wulandani, founder Komunitas Ibu Profesional (KIP). 

DALAM Nawacita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan penguatan karakter bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun menindaklanjutinya melalui gerakan penguatan pendidikan karakter yang sudah bergulir sejak 2016.

Namun upaya yang terus diperjuangkan itu, harus menghadapi tantangan yang lebih besar dan belum pernah terjadi sebelumnya, yakni pandemi covid-19. Bila sebelumnya fokus pendidikan karakter itu ada pada lembaga pendidikan, kini peranan itu harus digeser ke lingkungan keluarga.

Dengan berbagai kebijakan pembatasan, pemebelajaran di sekolah pun diubah menjadi pembelajaran jarak jauh atau dari rumah. Di sini, tanggung jawab keluarga/ orang tua menjadi lebih besar untuk membentuk karakter anak yang kuat. Pasalnya, waktu untuk kumpul bersama keluarga lebih banyak dari pada sebelum-sebelumnya.

Septi Peni Wulandani, founder Komunitas Ibu Profesional (KIP), membeberkan sejumlah strategi untuk membentuk karakter ideal pada anak. Dia mengatakan ada dua konsep karakter yakni karakter moral dan karakter kerja.

Karakter moral merupakan kumpulan kualitas sikap dan perilaku yang kemudian membentuk karakter pada anak. Sementara, karakter kerja merupakan sikap dan perilaku yang menentukan prestasi kerja pada anak.

"Kalau saya, hanya ada satu kata 'merdeka'. Jadi merdeka itu mulai dari percaya diri, mampu mengontrol dirinya, kemudian menghargai kemerdekaan orang lain. Itu adalah karakter yang diperlukan anak-anak," jelasnya.

Menurutnya, karakter semua anak itu sama yaitu karakter yang merdeka. Mereka lahir secara merdeka, kemudian hidup merdeka dan itu akan menentukan moral anak-anak Indonesia.

Untuk mewujudnyatakan karakter merdeka pada anak, lanjutnya, merupakan tanggung jawab semua orang dewasa. Lantaran karakter itu tidak diajarkan, tapi ditularkan pada anak.

"Maka tugas kita orang dewasa di sekitar anak-anak adalah menularkan karakter baik, di mana karakter itu diteladankan bukan diwejangi terus-menerus," ungkapnya.

Lantas, di tengah pandemi dengan berbagai dampaknya, seperti adanya kekhawatiran, kecemasan dan keamanan, maka orang tua harus menunjukan kepada anak bahwa mereka tangguh. Karakter tangguh itu ditunjukan dalam menghadapi cobaan, khususnya dalam situasi krisis.

Pandemi menjadi momen bagi orang tua untuk menularkan karakter tangguh pada anak. Mengingat, orang tua bisa langsung memberikan contoh konkret atau praktik langsung kepada anak dalam situasi sulit.

"Ini momentum, sering-seringlah berbicara urusan ketangguhan dan lain-lain kepada anak dengan contoh, teladan itu lebih dapat dari pada teori. 'Kenapa ibu saya bahagia terus di masa pandemi, padahal uang juga gak ada?," terang Septi.

Dia pun menjelaskan bahwa tantangan terbesar penguatan karakter pada generasi Z adalah sikap kritis. Anak-anak generasi ini mempunyai pengetahuan yang cukup luas. Ketika orang tua mengajari atau memberi tahu sesuatu yang kontra values, mereka mungkin memahami, tapi tidak pernah meng-copy-nya.

"Jadi kalau dulu itu, I know you don't know, I teach you. Nah di tahap kedua I know, you know, let disscus. Dengan generasi Z sekarang, kamu tahu lebih banyak dari pada ibu, maka ibu mendengarkanmu. Kuncinya bagaimana kita mengajar kepada anak berbasi pada pertanyaan," jelasnya.

Dia mengatakan bahwa orang tua harus memulai dengan pertanyaan. Anak-anak menjadi lebih berpikir kritis dan tidak mudah percaya pada sesuatu hal. Semuanya bisa dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk membuka diskusi atau kominikasi yang lebih baik.

Septi pun menambahkan pentingnya mengajari anak untuk memaafkan dan meminta maaf. Hal itu merupakan bagian dari pengalamannya yang kemudian membentuk KIP bersama ibu-ibu lainnya.

Di tengah pandemi, upaya membentuk karakter moral yang kuat pada anak membutuhkam support system yang tidak lain adalah lingkungan keluarga. Perlu adanya colaborate parenting antara orang tua dan lingkingan keluarga serta komunitas.

Sejak anak berusia TK perlu diajarkan soal kejujuran, pada usia 6-10 tahun diajarkan tanggung jawab. Kemudian respect, komitmen dan caryng serta citizenship pada usia-usia selanjutnya.

"Satu ibu saja bisa berpengaruh pada satu generasi, maka kita harus menempatkan diri menjadi ibu yang merdeka dan memerdekakan orang lain," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, selebgram yang juga merupakan ibu 3 anak Tanya Larasati mengisahkan caranya mendidik anak. Dari anak pertama hingga ketiga, dia selalu mendidiki dengan cara yang sama dengan lebih banyak mendengarkan dan berdiskusi.

Dia mengatakan, cara didikannya khususnya terkait penguatan karakter anak datang dari pengalaman masa kecilnya. Tanya dididik ibunya yang single parent dengan gaya yang otoriter. Banyak hal yang ingin dilakukannya atau sekadar ingin diungkapkan tapi harus memendamnya.

Dengan latar belakang seperti itu, dan tanpa menyalahkan orang tuanya sendiri, dia tidak ingin hal yang sama dirasakan anak-anaknya.

"Setelah menjadi new mom, aku merasa pola asuh yang diterapkan ibuku itu tidak nyaman untuk aku terapkan ke anak-anakku. Aku lebih memilih untuk lebih mendengarkan. Jadi benar-benar berdiskusi, bermusyawarah," ungkapnya.

Dia mengatakan bahwa dalam mengasuh anak-anaknya, dia bersama suami turut berperan. Keduanya selalu berdiskusi bersama dan saling membagi tugas di rumah.

Dalam pendidikan karakter, dirinya bersama suami selalu bertukar pikiran. Mendengarkan keinginan anak-anaknya, kemudian mengarahkan mereka. "Saya merasa kayak hanya mengarahkan saja tanpa memberi tahu sesuatu yang mutlak harus pilih ini, pilih itu," tambahnya.

Di masa pandemi, dengan banyaknya waktu berkumpul di rumah bersama keluarga, Tanya mengatakan sering membagi tugas bersama suami untuk mendampingi anak-anak belajar. Untuk kegiatan akademis, biasanya paling 45 menit untuk dua sesi.

"Misalnya suami ngajar baca, nulis, aku fun learning. Pokoknya dibuat jangan sampai mereka bosan dan menghindarinya," tutur Tanya.

Dia menambahkan, penguatan karakter anak dimulai dengan mendengarkan anak. Tidak semuanya harus dituruti orang tua, tetapi orang tua bisa lebih memahami keinginan anak dan kemudian mengarahkannya.(Van/OL-09)

BERITA TERKAIT