26 November 2020, 11:28 WIB

WHO: Pandemi Covid-19 bukan Alasan tidak Berolahraga


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

ANTARA/M Risyal Hidayat
 ANTARA/M Risyal Hidayat
Sejumlah warga berolahraga di bagian luar Stadion Utama, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa pandemi covid-19 bukan alasan untuk tidak berolahraga. Menurut WHO, bahkan sebelum wabah muncul, banyak masyarakat yang minim melakukan aktivitas fisik.

Dalam pedoman aktivitas fisik terbaru, badan kesehatan PBB itu menekankan olahraga sangat penting untuk kesehatan fisik dan mental, sementara itu gaya hidup sedentari/terlalu sering duduk dapat berakibat serius.

"WHO mendesak semua orang untuk terus aktif meski di tengah pandemi covid-19," kata kepala promosi kesehatan WHO Ruediger Krech.

"Jika kita tidak tetap aktif, kita berisiko menciptakan pandemi lain sebagai akibat dari perilaku tidak aktif,” imbuhnya.

Baca juga: Kenali Bedanya Covid-19 dan Penyakit Paru

Masih belum ada statistik yang jelas tentang dampak pandemi terhadap aktivitas fisik. Tetapi, lockdown, pembatasan gerak, penutupan gym, dan tindakan lain jelas memaksa banyak orang untuk tinggal di rumah dan mengganggu aktivitas rutin dan rutinitas olahraga.

Hal itu mengkhawatirkan mengingat, bahkan sebelum krisis, data menunjukkan sebagian besar kaum muda dan banyak orang dewasa tidak cukup aktif, menimbulkan dampak yang mengerikan bagi kesehatan global.

WHO memperkirakan mendorong lebih banyak orang untuk turun dari kursi agar lebih banyak bergerak dapat mencegah hingga 5 juta kematian setiap tahun.

"Aktif secara fisik sangat penting untuk kesehatan dan kesejahteraan. Ini dapat membantu menambah tahun dalam hidup, dan kehidupan dalam tahun," kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan. "Setiap gerakan berarti.”

Aktivitas fisik secara teratur adalah kunci untuk mencegah dan membantu mengelola penyakit jantung, diabetes tipe-2, dan kanker.

Ini juga telah terbukti mengurangi gejala depresi dan kecemasan, mengurangi penurunan kognitif, meningkatkan daya ingat dan meningkatkan kesehatan otak secara keseluruhan.

Untuk mendapatkan manfaat tersebut, WHO merekomendasikan agar orang dewasa melakukan setidaknya dua setengah hingga lima jam aktivitas aerobik sedang hingga berat per minggu, sementara anak-anak dan remaja rata-rata harus bergerak setidaknya satu jam sehari.

Tetapi mereka mengungkapkan, data menunjukkan seperempat dari semua orang dewasa dan 80% remaja tidak memenuhi target tersebut.

Menurut WHO, secara global, gaya hidup pasif diperkirakan menelan biaya sebesar US$54 miliar untuk perawatan kesehatan dan US$14 miliar lainnya akibat kehilangan produktivitas setiap tahun.

Tetapi, kabar baiknya adalah melakukan aktivitas fisik apa pun dapat melawan dampak negatif dari duduk diam terlalu lama.

Krech menekankan pedoman tersebut menunjukkan manfaat aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, baik di rumah, dalam perjalanan, atau di tempat kerja.

WHO menegaskan bahwa menjalani kehidupan yang aktif itu baik untuk semua orang, terlepas dari kemampuan fisik mereka.

Pedoman tersebut mendorong perempuan untuk menjaga aktivitas fisik selama kehamilan dan pasca persalinan, serta menekankan manfaat aktivitas fisik bagi penyandang disabilitas.

Sementara itu, orang dewasa yang lebih tua disarankan menambahkan aktivitas yang menekankan keseimbangan dan koordinasi, serta kekuatan otot, untuk membantu mencegah jatuh.

"Setiap durasi aktivitas fisik bermanfaat. Tetapi lebih banyak selalu lebih baik," kata Krech.

Fiona Bull, penanggung jawab unit aktivitas fisik WHO mengatakan alat pelacak yang dapat dikenakan bisa menjadi alat yang baik untuk membuat orang lebih banyak bergerak.

"Memantau seberapa aktif Anda adalah umpan balik yang sangat baik bagi individu," katanya.

"Kita terlalu meremehkan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk duduk-duduk,” tandasnya. (CNA/OL-1)

BERITA TERKAIT