20 November 2020, 12:40 WIB

Ini Fakta Klorokuin, Eks Obat Covid-19 yang Dianggap Berbahaya


Zubaedah Hanum | Humaniora

Antara
 Antara
Eks obat covid-19 Klorokuin

PADA Kamis 19 November 2020, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) RI menarik izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) klorokuin dan hidroksiklorokuin (HCQ) untuk pengobatan covid-19 karena terbukti berbahaya.

Kepala Badan POM RI Penny K Lukito menyatakan, kedua obat covid-19 itu terbukti berbahaya karena memiliki risiko lebih besar daripada manfaatnya.

Selain penyakit covid-19, Penny mengatakan, izin edar obat yang mengandung HCQ masih tetap berlaku dan dapat digunakan untuk pengobatan sesuai dengan indikasi yang disetujui pada izin edarnya.

"Sementara untuk obat yang mengandung klorokuin dicabut izin edarnya karena tidak digunakan untuk indikasi lain," kata Penny.

Berikut ini fakta-fakta mengenai klorokuin dan HCQ yang perlu Anda ketahui.

1. Obat malaria

Klorokuin fosfat (Chloroquine phosphate) merupakan senyawa sintetis atau kimiawi yang memiliki struktur sama dengan Quininesulfate, yang diambil dari dari ekstrak kulit batang pohon kina. Obat itu sebelumnya digunakan untuk mengobati pasien malaria.

Menyadari kerasnya efek samping klorokuin, ilmuwan pun mengembangkan hidroksiklorokuin (HCQ), turunan klorokuin dengan toksisitas lebih rendah.

2. Obat lupus

Pemerintah RI memberikan izin penggunaan hidroksiklorokuin saat ini untuk pengobatan lupus eritematosus sistemik.

3. Sebagai antivirus

Di masa pandemi covid-19, Badan POM memberikan izin penggunaan HCQ untuk penggunaan terbatas untuk pasien dewasa dan remaja yang memiliki berat badan 50 kg atau lebih, yang dirawat di rumah sakit.

Direktur Standardisasi Obat dan NAPZA Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Togi Junice pada April 2020 mengatakan, HCQ berperan sebagai antivirus dengan melakukan alkalinisasi fagolisosom sehingga menghambat tahapan replikasi virus yang tergantung pada pH rendah, termasuk tahap fusion dan uncoating.

Hidroksiklorokuin juga memiliki aktivitas imunomodulator yang dapat berkontribusi dalam respons antiinfl amasi pada pasien dengan infeksi virus.

4. Tidak direkomendasikan WHO

Pada 25 Mei 2020, WHO memutuskan menghentikan sementara pemberian hidroksiklorokuin pada Solidarity Trial. Penghentian dilakukan atas dasar penelitian observasional pada 96.032 pasien covid-19 di enam benua yang diterbitkan The Lancet pada 22 Mei 2020 dengan judul Hydroxychloroquine or Chloroquine With or Without a Macrolide for Treatment of Covid-19: a Multinational Registry Analysis yang ditulis MR Mehra dkk.

Sebelumnya, penarikan izin khusus klorokuin dan HCQ telah dilakukan oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat.

5. Tidak efektif lawan Covid-19

Senada, peneliti dari Universitas Oxford menyatakan, HCQ tidak bekerja efektif dalam melawan covid- 19 dan tidak boleh diberikan kepada pasien rumah sakit lagi di seluruh dunia.

"Jika Anda dirawat di rumah sakit, jangan minum hidroksiklorokuin. Obat itu tidak bekerja," kata Wa kil Kepala Peneliti dan Profesor Kedokteran dan Epidemiologi Universitas Oxford, Martin Landray dilansir dari The Guardian.

6. Ganggu irama jantung

Pada November 2020, Badan POM RI menerima laporan keamanan penggunaan klorokuin dan HCQ dari hasil penelitian observasional selama empat bulan di tujuh rumah sakit di Indonesia.

Dari 213 pasien covid-19 yang mendapatkan terapi HCQ atau klorokuin,sebanyak 28,2% mengalami gangguan ritme jantung berupa perpanjangan interval QT.

7. Punya efek samping serius

Pada Maret 2020, selebriti Andrea Dian positif tertular covid-19 dan menjalani serangkaian pengobatan di rumah sakit. Salah satu obat yang sempat diminumnya ialah klorokuin.

Namun, setelah minum klorokuin, istri aktor Ganindra Bimo itu mengalami dampak cukup serius, mulai mual, muntah, jantung berdebar, tremor, hingga nyaris pingsan. Karena beratnya efek samping yang dirasakannya, konsumsi klorokuin pun dihentikan. (H-2)

BERITA TERKAIT