19 October 2020, 02:55 WIB

Eliminasi Pandemi, Mungkinkah?


Iqbal Mochtar Dokter, Doktor Bidang Kedokteran dan Kesehatan, Pemerhati Masalah Kesehatan, Anggota Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional | Kolom Pakar

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
     

TELAH lebih 10 bulan covid-19 menggerogoti kehidupan manusia. Semua aspek kehidupan dipengaruhi. Hingga 17 Oktober 2020, data epidemiologis pandemi ini masih merisaukan. Di seluruh dunia, 18 juta orang telah terinfeksi covid-19 dan 1,2 juta di antaranya meninggal.

Belum pernah terjadi sebelumnya, hanya dalam hitungan bulan, sebuah penyakit telah menginfeksi dan mematikan begitu banyak orang. Padahal berbagai langkah penanganan juga telah dilakukan. Maka, sangat wajar bila orang mempertanyakan kapan dan bagaimana pandemi ini akan berakhir.

Ahli kesehatan menyebut tiga jalan utama pandemi covid-19 dapat tereliminasi, yaitu lewat herd immunity, tata laksana standar outbreak, dan vaksinasi.


Herd immunity

Beberapa outbreak sebelumnya menyisakan spekulasi bahwa herd immunity dapat menghentikan outbreak. Pada outbreak tersebut terjadi penyebaran infeksi yang luas, kematian yang banyak, dan diikuti penghentian spontan pandemi. Pada pandemi bubonic plague tahun 1347-1351, atau dikenal sebagai Black Death, 75 juta-200 juta orang meninggal. Sejumlah kota di Eropa kehilangan lebih setengah penduduknya. Setelah begitu banyak korban, penyakit ini menghilang sendiri.

Kejadian serupa terjadi pada pandemi flu tahun 1919. Virus flu pandemi ini menginfeksi 500 juta orang serta membunuh 50 juta orang. Saat itu belum ada obat dan penatalaksanaan spesifik kecuali anjuran mencuci lubang hidung secara teratur dan melakukan kegiatan olahraga ringan. Setelah menyebar selama 15 bulan, pandemi menghilang.

Contoh lain, terjadi pada 2003 ketika SARS-Cov1 menyerang berbagai negara dan menyebabkan penyakit SARS. Sebanyak 10% dari orang yang terinfeksi meninggal. Pada orang yang berusia di atas 60 tahun mortality rate-nya bahkan mencapai 50%. Penanganan yang dilakukan terbatas pada karantina dan contact tracing. Saat itu, para ahli bekerja keras membuat vaksin. Namun, sebelum vaksin digunakan, pandemi ini telah mereda.

Adanya fenomena ‘menginfeksi-membunuh-mereda’ (infect, kill and stop) pada beberapa outbreak sebelumnya menggiring sejumlah ahli percaya bahwa herd immunivity berada di balik fenomena ini. Mereka menganggap meredanya pandemi disebabkan banyaknya orang yang terinfeksi di mana sebagian besar orang terinfeksi ini membangun antibodi atau kekebalan dalam tubuhnya.

Orang-orang dengan antibodi ini menjadi barrier penyebaran infeksi, dan sekaligus memberikan efek proteksi populasi. Fenomena inilah yang dianggap sebagai herd immunity.

Sejatinya, herd immunity adalah kekebalan populasi terhadap suatu penyakit infeksi karena sebagian besar orang dalam populasi tersebut telah memiliki antibodi, baik akibat terinfeksi penyakit maupun karena memperoleh vaksinasi.

Proporsi populasi dengan antibodi ini bervariasi, tergantung jenis penyakitnya. Pada penyakit polio, agar semua orang dalam populasi kebal atau terproteksi dari penyakit, 80% orang dari populasi tersebut harus telah memiliki antibodi.

Untuk covid-19, herd immunity baru dapat tercapai apabila 50%-60% orang dalam populasi memiliki antibodi covid-19. Karena vaksin covid-19 belum digunakan, maka satu-satunya cara membangun antibodi ialah membiarkan orang terinfeksi. Dengan populasi 270 juta jiwa di Indonesia, efek herd immunity baru akan diperoleh apabila sekitar 156 juta penduduk Indonesia terinfeksi virus covid-19.

Dari jumlah yang harus terinfeksi ini, 10% (15,6 juta) membutuhkan perawatan rumah sakit dan 3% (4,6 juta) akan meninggal. Membiarkan penduduk mengalami hal ini tentu saja tidak berperikemanusiaan dan tidak bermoral.

WHO sendiri dengan tegas menolak konsep herd immunity pada penanganan pandemi. Bagi WHO, konsep herd immunity hanya dapat dipertimbangkan dalam pelaksanaan vaksinasi, dan bukan penatalaksanaan pandemi.


Tata laksana standar

Tata laksana standar pandemi saat ini meliputi tiga hal, yaitu standard precautions (jaga jarak, cuci tangan, dan penggunaan masker), 3T (test, trace and treat), serta pembatasan pergerakan orang dan barang. Ketiga standar ini dipraktikkan di seluruh dunia dengan tingkat dan kualitas berbeda.

Sebagian negara mempraktikkan secara serius dan disiplin, dan sebagian lagi mempraktikkan setengah hati. Karena tingkat keseriusannya berbeda, maka hasil yang dicapai tiap negara pun berbeda. Sebagian negara, seperti Tiongkok, Qatar, dan Malaysia, saat ini telah mengontrol pandeminya.

Negara lainnya, seperti Amerika Serikat dan Jepang, telah melewati puncak pandemi, dan sementara melandaikan kurva epidemiologi. Sebagian negara lain masih berjuang keras karena kurva epiodemiologinya masih terus menanjak dan belum ada tanda-tanda penurunan. Indonesia termasuk kategori ini.

Salah satu parameter utama penanggulangan pandemi ialah menurunnya nilai reproduction number (Ro). Nilai ini menunjukkan kemampuan virus menginfeksi orang lain. Pada covid-19, Ro-nya ialah 2-3; artinya, tanpa penanganan yang efektif, seorang penderita covid-19 dapat menginfeksi 2-3 orang lain.

Target penanganan pandemi ialah menurunkan Ro virus dari 2-3 menjadi di bawah 1. Bila dilakukan dengan baik, tata laksana standar yang ada efektif mengontrol pandemi. Menjaga jarak, mencuci tangan, dan menggunakan masker dapat menurunkan Ro sebesar 0,5–1,5. Pembatasan pergerakan orang dan barang (karantina) dapat menurunkan Ro sebesar 0,7–2,5 hanya dalam 2-4 minggu. Eektivitas ini telah diverifikasi di berbagai negara.

MI/Seno

Ilustrasi MI

 

Ahli epidemiologi menyebutkan bahwa virus covid-19 pada suatu daerah dapat tereliminasi apabila Ro pada daerah tersebut dapat ditekan di bawah nilai 1 selama paling tidak 4-5 minggu. Artinya, untuk menurunkan Ro di bawah 1 dan mempertahankan nilai ini selama 1 bulan diperlukan implementasi tata laksana standar secara serius selama 2-3 bulan. Hal inilah yang dipraktikkan di Wuhan, Tiongkok. Sayangnya, tidak semua daerah mampu melakukan cara ini.

Atas pertimbangan ekonomi, sosial, dan politik, berbagai daerah hanya melakukan pembatasan ringan dengan periode yang singkat. Cara ini juga tidak disenangi masyarakat karena dianggap menghambat pergerakan mereka dalam mencari mencari kehidupan dan melakukan aktivitas sosial. Karena tidak mempraktikkan secara serius, sejumlah wilayah gagal memperoleh hasil memuaskan lewat cara ini.


Vaksin

Vaccine race sementara berlangsung saat ini. Ratusan proyek vaksin covid-19 sementara berlangsung di seluruh dunia. WHO menyebut telah ada lebih 200 proyek vaksin di dunia saat ini. Sebanyak 40 di antaranya berada dalam fase uji klinis, dan 5 di antaranya telah berada dalam fase uji klinis tahap akhir, yakni fase 3. Artinya, dalam beberapa bulan mendatang laporan efficacy dan safety vaksin sudah dapat diperoleh. Setelah laporan tersedia, barulah vaksin dapat diproduksi. WHO menyebutkan, bila mengikuti standar uji klinis yang ada, program vaksinasi paling cepat bisa dilakukan pertengahan 2021.

Vaksin kini menjadi tumpuan harapan. Sebagian menganggap vaksin sebagai definite way out, yakni jalan keluar permanen mengatasi pandemi covid-19. Pengalaman sebelumnya memang menunjukkan bahwa vaksin bermanfaat mengontrol penyakit. Vaksinasi rutin yang dilakukan saat ini telah mencegah 2 juta-3 juta kematian per tahun akibat penyakit infeksi. Berdasarkan pengalaman ini, vaksin covid-19 diyakini dapat mencegah timbul dan menyebarnya covid-19.

Besarnya harapan pada vaksin membuat vaksin menjadi ‘produk istimewa’. Berbagai negara telah melakukan pemesanan vaksin sekalipun vaksin tersebut belum selesai penelitian dan uji klinisnya. Tingkat efficacy dan safety belum diketahui. Sejumlah negara besar bahkan telah memesan vaksin dalam jumlah besar, berkali-kali lipat dari jumlah produknya. Sedemikian istimewanya hingga sejumlah negara sertamerta menyetujui penggunaan vaksin covid-19 di negaranya walaupun vaksin tersebut belum menyelesaikan uji klinisnya.

Mereka menyetujui vaksin ini lewat persetujuan fast track, yakni Emergency Use Authorization (EUA). Rusia telah menyetujui penggunaan vaksin Sputnik-V walaupun vaksin ini masih berada pada fase 2. Tiongkok menyetujui penggunaan vaksin Sinopharm walaupun vaksin ini belum menyelesaikan fase 3. Uni Emirat Arab pun menyetujui penggunaan vaksin covid-19 sekalipun vaksin ini belum menyelesaikan fase 3. Semua vaksin ini disetujui lewat persetujuan istimewa EUA. Atas alasan kepentingan yang mendesak, EUA diberikan kepada vaksin sekalipun vaksin tersebut belum melengkapi uji klinis. Di Amerika dan Inggris, lembaga otoritas vaksin juga telah membuka kesempatan untuk menyetujui vaksin lewat EUA.

Di Indonesia, saat ini sedang dilakukan uji coba vaksin covid-19 di Bandung. Laporan lengkap tentang efficacy dan safety-nya baru akan diperoleh akhir Maret 2021. Jadi produksi dan pelaksanaan vaksin paling cepat dapat dilakukan pertengahan 2021. Namun, di sisi lain pemerintah telah mengumumkan akan mendatangkan dan melakukan program vaksinasi pada November-Desember tahun ini.

Bila ini benar, artinya vaksin yang akan digunakan bukanlah vaksin yang sementara diteliti di Bandung saat ini, melainkan vaksin yang akan diimpor dari negara lain dan kemudian disetujui penggunaannya di Indonesia lewat EUA. Tentu saja hal ini mengundang pro-kontra. Pro-nya dikaitkan dengan kebutuhan mendesak dan kontra-nya berkaitan dengan isu efficacy dan safety.


Opsi rasional?

Opsi herd immunity sulit diterima sebagai jalan mengakhiri pandemi. Karena tanpa adanya vaksinasi, herd immunity hanya dapat terjadi dengan membiarkan sejumlah besar orang terinfeksi, menderita kesakitan, menjalani perawatan rumah sakit, dan meninggal. Ini tentu tidak manusiawi dan tidak etis.

Opsi tata laksana standar sebenarnya merupakan opsi yang rasional dan telah terbukti efektif. Namun, opsi ini tidak populer dan tidak mengenakkan bagi sebagian masyarakat. Sebagian masyarakat merasa bosan melakukan cuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak terus-menerus. Mereka mau hidup seperti dulu; bebas melakukan apa saja tanpa ada hambatan. Apalagi program pembatasan pergerak an atau lockdown. Ini dianggap sangat menyiksa.

Mereka merasa kesulitan mencari hidup, tidak bisa bersosialisasi, dan merasa terkungkung. Jadi, satu-satunya opsi yang mereka anggap feasible ialah vaksin. Vaksin menjadi tumpuan harapan yang dapat membawa mereka keluar dari pandemi tanpa bersusahsusah memakai masker atau menjaga jarak terus-menerus. Sebagian sepertinya tidak peduli lagi, apakah vaksin ini telah terbukti efektif dan aman atau tidak. Apakah persetujuannya lewat jalur normal atau lewat persetujuan fast track EUA.

Setelah didera pandemi berbulanbulan, sebagian masyarakat mulai capek dan jenuh. Capek dengan pandemi dan dengan tata laksana standar yang harus mereka lakukan. Mereka ingin segera terbebas dari kungkungan ini. Dan mereka berharap hanya vaksinlah yang dapat memberi mereka jalan keluar permanen dan tidak merepotkan. Mereka menunggu datangnya vaksin segera, meski WHO sendiri belum yakin hal itu bisa terealisasi dalam beberapa bulan mendatang. Semoga ini bukan penantian semu.

BERITA TERKAIT