18 October 2020, 03:40 WIB

Gregori Garnadi Hambali: Idealisme di Balik Tanaman Hias


Abdillah Marzuqi | Weekend

MI/M IRFAN
 MI/M IRFAN
Gregori Garnadi Hambali

DI tengah tren tanaman hias saat ini, sosok Gregori Garnadi Hambali atau biasa disapa Greg Hambali, kembali jadi sorotan. Terlebih pria yang telah melahirkan sederet aglaonema fenomenal ini merilis karya terbaru pada pertengahan September lalu.

Seperti karya-karya Greg sebelumnya, karya terbaru bernama aglaonema golden hope itu langsung mencapai harga fantastis, yakni hingga Rp25 juta per pot di penjualan seri pertama. Harga itu belum seberapa jika dibandingkan dengan karya sebelumnya, aglaonema harlequin yang pada lelang 2006 terjual seharga Rp660 juta.

Meski dijuluki sebagai Midas tanaman hias, misi Greg bukan sekadar mengejar harga fantastis, melainkan juga soal ekonomi rakyat dan penelitian tanaman nonkomersial. Berikut wawancara Media Indonesia dengan pa­­kar pemuliaan tanaman yang juga mantan Asisten Botani Lembaga Il­mu Pengetahuan Indonesia itu:  

Setelah memutuskan berhenti dari LIPI pada 1983, apa yang membuat Anda menekuni tanaman hias, khususnya aglaonema?

Sebetulnya itu berjalan secara proses saja. Saya lihat ada kekosongan yang perlu kita isi. Dunia tanaman sebenarnya bisa berkembang lebih jauh, kalau yang ada bisa kita tingkatkan variasinya.

Selain itu, ada seseorang yang meminta saya penelitian bukan tanaman yang menarik dari segi biologi atau cara perkembang­biakan, melainkan juga dari segi komersial. Jadi kata beliau, sudah jangan meneliti sesuatu yang tidak ada duitnya. Telitilah tanaman yang nanti bisa dijadikan basis untuk meningkatkan perdagangan. Jadi fokus pada tanaman-tanaman yang penampilannya disukai, tanaman hias yang cantik, dan diburu orang. Dengan riset, kita bisa memberikan nilai tambah yang membuat tanaman itu jadi lebih diminati.

Soal aglaonema, karena orang lihatnya aglonema ini yang melanglang buana. Katakanlah un­tuk dikirim, tanpa stress berlebihan. Dengan proses penge­masan yang bagus, ia bisa langsung ditampilkan keindahannya begitu dipotkan kembali. Lain dengan tanaman lain, stresnya bisa ber­lebihan sehingga makan waktu untuk pulih seperti tanaman hias jenis puring.

Jadi tujuannya hanya untuk komersial?

Nanti kalau sudah dapat uang dari situ (tanaman komersial), uangnya bisa kita gunakan untuk meneliti tanaman yang dari segi biologi sangat menarik, tapi kurang di dunia komersial. Selain itu, kita bisa melihat berapa banyak orang yang mendapat manfaat ataupun keuntungan dari tanaman-tanaman yang saya hasilkan dalam proses penyilang­an. Itu merupakan anugerah buat mereka.

Saya juga melihat uluran ta­ngan dari teman-teman saya tidak percuma. Karena kita kembangkan, perkaya, sehingga bisa bermanfaat bagi banyak orang. Tujuan hidup kita kan mampu membuat lingkungan kita menjadi tambah bagus, orang tambah sejahtera. Banyak orang luar negeri yang terbantu dengan tanaman ini, jadi kita kerja tidak percuma karena orang Indonesia juga dikenal kontribusinya di dunia hortikultura. Jadi kita tidak malu sebagai bangsa Indonesia yang punya kekayaan alam besar, tetapi juga tidak lalai mengembangkan materi-materi yang ada.

Bagaimana proses Anda menyilangkan tanaman, apakah sampai mencari materi ke dalam hutan?

Saya pernah pergi dengan rombongan ke Sumatra, satu minggu di hutan, tetapi mencari ta­naman tidak ketemu karena kalau pergi dengan kelompok besar jadi ngobrol. Lihat kanan-kiri sekilas saja.

Perjalanan berikutnya saya pergi sendiri. Banyak keuntungan perjalanan sendiri, salah satunya bisa bebas dan lebih fokus. Di situlah saya menemukan ta­naman yang dicari, lalu hasil persilangannya jadilah Dracaena JT Stardust. Itu yang pertama di dunia, silangannya dibeli orang Thailand seharga US$10 ribu untuk 2 setek.

Saat ekspedisi, saya bisa menghabiskan siang di hutan. Berangkat pagi sampai senja, lalu pulang sekira pukul 05.00 sore. Saat pulang pun, saya masih mencuri waktu untuk melihat-lihat sekitar. Siapa tahu menemukan tanaman bagus. Saya paling senang jika ditemani pemandu lokal sebab ada proses tukar pengetahuan dengan mereka.

Dengan cara mencari materi ke hutan, lalu bagaimana menjaga kelestarian sumber daya alam?

Ya memang banyak orang cari (tanaman hias di hutan) dicabut semuanya. Jadi kita balik ke situ sudah habis. Kalau dulu itu saya ambil sedikit, jadi nanti kapan waktu tumbuh lagi. Jadi kita sustainable.

Tentu karena kita semuanya harus berprinsip berkesinambung­an. Jangan kita asal ambil saja. Kita juga harus memikirkan suatu waktu ada juga yang tertarik untuk menyilangkan. Itu juga kekayaan alam yang tentu sangat berharga yang harus kita lindungi. Kita memiliki dasar mengapa hutan harus dilestarikan, karena memang ada kepentingan ekonomi di situ. Jangan kemudian pelestarian hanya pelestari­an, tapi pelestarian berdasarkan ekonomi. Jadi kepentingannya jadi lebih tinggi lagi karena kita tahu kalau hutan habis, ekonomi juga bisa terganggu.

Bagaimana pendapat Anda soal pentingnya menjaga keka­ya­an alam kita tetap di dalam negeri, apakah jika persilangan di jual ke luar negeri berarti akan merugikan bangsa?

Saya kritik pendapat yang membatasi keinginan luhur dalam mengembangkan varietas baru dari tumbuhan asli Indonesia. Menurut saya, selama berlandaskan kejujuran dan keadilan, pertukaran material selayaknya dilakukan. Jadi kita jangan punya pendapat-sikap, biar hancur di negeri sendiri, daripada dimiliki orang lain. Itu kan mentalitas sempit yang menjadikan kita katak dalam tempurung.

Bagaimana Anda melihat meroketnya harga hampir seluruh tanaman hias sekarang ini, apakah ini hanya aksi meng­goreng harga oleh pedagang dan apa bahayanya?

Bahwa ada yang berupaya menggoreng memang benar, tapi kalau orang sudah tahu kan tidak akan terjerumus. Ada juga yang namanya image yang dibikin. (Contohnya dulu) Anthurium (jenis gelombang cinta) barang mahal. Caranya barang diborong semua dulu, lalu di salah satu nursery sampai dipasang net, digembok, dan dipasang banderol yang Rp20 juta-Rp30 juta. Belum ada yang beli, tapi itu kan ima­ge barang mahal. Kalau sudah ramai, barang itu akan dicari orang. Itu dibikin begitu, tapi lalu kolaps.

Tapi sekarang, orang bisa mengacu ke internet. Informasi tidak hanya dimiliki satu-dua kelompok. Jadi bisa dikatakan sulit untuk merahasiakan sumber, merahasiakan harga beli atau harga jual. Orang juga bisa lihat dengan akal sehat. Kalau sudah tidak wajar, mereka cenderung tidak beli. Jadi ini fenomena yang terkait dengan persediaan dan permintaan. Hukum ekonomi tetap terjadi. Keseimbangan itu yang membentuk harga.

Berkaca dari aglaonema golden hope yang baru Anda rilis bulan lalu, bagaimana menjaga agar harga tetap stabil?

Golden hope ini kami batasi, yang datang kami bagi dalam dua hari, supaya tidak meluruk di hari yang sama. Ada 2 kelompok, masing-masing 12 subkelompok. Sebanyak 24 paket, masing-ma­sing berisi 10 pot total dengan anaknya ada 14 (pot).

Yang membedakan dengan aglaonema itu dengan yang sebelumnya, banyaknya garis yang merupakan sifat dari rotundum. Persilangan itu biasanya sifat rapuh muncul, tapi ini tidak muncul. Sifat dari postur rotundum masih lebih kuat.

Apakah ada kemungkinan aglaonema juga mengalami nasib serupa anthurium?

Itu tidak akan terjadi di aglao­ne­ma karena perbanyakan aglaonema tidak mudah. Kalau anthurium, satu tanaman (perbanyakannya) bisa seribu, menyilangkannya gampang. Itu juga pentingnya perlindungan pada pasar, salah satunya melalui paten (tanaman). Kalau di negara lain 20 tahun, kalau di sini Indonesia belum ada. (M-1)

BERITA TERKAIT