13 October 2020, 12:10 WIB

Dua Kali Divaksin Covid-19, Relawan Merasakan Gampang Lapar


Bayu Anggoro | Nusantara

ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
 ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menunjukkan suntikan vaksin covid-19. Ia menjadi salah satu relawan vaksin covid-19 Sinovac.

JIWA sosial yang tinggi membawa Herlina Agustin terlibat dalam  uji klinis fase III vaksin virus korona buatan Sinovac. Tanpa pikir panjang, ibu tiga anak mendaftarkan diri menjadi relawan yang akan  disuntikan cairan antibodi tersebut. Warga Kawaluyaan, Kota Bandung ini merupakan satu dari 540 relawan pertama yang disuntik vaksin tersebut. 

"Sudah dua kali disuntik, sekarang tinggal menunggu hasil tes darah," kata Herlina, Selasa (13/10).

Dia mengaku usai menjalani penyuntikkan vaksin baik yang pertama maupun kedua, tidak merasakan perbedaan berarti. Kekhawatiran akan efek samping cairan tersebut ternyata tidak terbukti.

"Yang saya rasakan sih gitu, enggak ada perbedaan apa-apa," ujarnya.
 
Namun, menurutnya terdapat sedikit perbedaan terkait nafsu makannya yang menjadi lebih tinggi.

"Mungkin semua vaksin juga begitu kan ya, bikin cepat lapar. Tapi secara umum biasa saja, enggak kerasa apa-apa," katanya.

Tidak adanya perbedaan yang dirasakan tubuhnya inipun menjadikan Herlina beraktivitas seperti biasa. Hal inipun didorong oleh dokter tim uji klinis vaksin yang tidak memberikan batasan kepadanya terkait apapun.

"Dokter tidak melarang apa-apa, bahkan membolehkan saya ke luar kota. Yang penting kalau ada apa-apa, kita segera laporan, kayak ngisi buku harian," ucapnya seraya menyebut hingga kini buku hariannya itupun tetap kosong karena tidak ada yang perlu dituliskan.

Meski begitu, Herlina mengakui dirinya tidak mengetahui cairan yang disuntikkan padanya ini apakah vaksin atau hanya plasebo. Dia hanya berharap vaksin yang tengah diujicobakan ini menghasilkan antibodi sehingga manusia tahan terhadap infeksi virus korona.

"Enggak tahu ya apa itu emang vaksin atau plasebo. Yang penting vaksinnya berhasil, bisa menimbulkan antibodi," ujarnya.

Setelah menjalani dua kali penyuntikkan vaksin dan sekali pengambilan darah, Herlina akan menjalani pengetesan sampel darah pada Desember mendatang. 

"Mudah-mudah pas dites nanti darah saya ada antibodinya," katanya.

Meski begitu, alumnus Universitas Padjajaran ini menilai masyarakat jangan mengandalkan vaksin dalam mencegah penyebaran suatu penyakit. Menurutnya, kebersihan dan kelestarian lingkungan harus menjadi prioritas jika manusia ingin terjaga dan tetap sehat hidupnya.

"Percuma kita ada vaksin, tapi lingkungan kita kotor dan rusak, ya kehidupan kita tetap terancam juga," tegasnya. 

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah mulai dari pusat hingga daerah lebih peduli terhadap kondisi lingkungan dalam menjalankan setiap kebijakan.

"Yang terpenting ini gimana lingkungan kita agar tetap baik, sehingga mereka (alam) pasti akan menjaga kita," katanya. 

Kepedulian yang tinggi terhada lingkungan dan sesama manusia ini sudah lama dirasakan Herlina. Sejak usia remaja, dirinya sudah terlibat aktif dalam organisasi sosial  seperti PMI saat di sekolah.

"Sampai sekarang saya cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan," katanya.

baca juga: Pasien Sembuh dari Korona di NTT Bertambah Jadi 364 Orang

Bahkan, selain menjadi relawan pada uji klinis vaksin ini, Herlina bersama keluarganya sudah terlibat dalam donor mata bagi yang membutuhkan. 

"Jadi saya bersama suami dan tiga anak kami, sudah menulis perjanjian, jika nanti meninggal akan menyumbangkan kornea mata bagi siapa saja yang membutuhkan," katanya. (OL-3)


 

BERITA TERKAIT