05 August 2020, 19:24 WIB

Penurunan 28 % Kasus Kumulatif Kematian Covid-19 di Tanah Air


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

Ilustrasi
 Ilustrasi
Covid-19

BERDASARKAN data akumulatif kematian dalam waktu satu minggu yakni per tanggal 2 Agustus diketahui terjadi penurunan sekitar 28% dari 2 pekan yang lalu.

"Analisisnya dikeluarkan mingguan ini terjadi penurunan sekitar 28% dari 2 pekan yang lalu. Jadi kemarin kebetulan memang angkanya sedang turun," kata Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah dalam diskusi di Gedung BNPB Jakarta, Rabu (5/8).

Dia menjelaskan penyumbang jumlah kasus kematian kumulatif terbanyak yakni, Jawa Timur sekitar 1.719 kasus, DKI Jakarta 844 kasus, Jawa Tengah 655 kasus, Sulawesi Selatan 321 kasus dan Kalimantan Selatan sebanyak 295 kasus.

"Kita melihat di level provinsi di bisa kita lihat bersama bahwa Jawa Timur ini menempati peringkat pertama untuk penyumbang angka kematian dengan angka total 1.719 kematian. Ini dari total kumulatifnya," sebutnya.

Kemudian angka kematian dibagi dengan jumlah orang yang positif. Kata Dewi, ternyata di sini provinsinya dengan angka kematian tertinggi dari jumlah pasien positif adalah Bengkulu dengan sekitar 8,09%, kedua adalah Jawa Timur sekitar 7,74%, Jawa Tengah sekitar 6,73%, Nusa Tenggara Barat sekitar 5,48% dan Kalimantan Tengah sekitar 5,12%.

"Jadi Jawa Timur lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada di Bengkulu. Ini update tanggal 2 Agustus 2020 ya," jelasnya.

Menurutnya, ada tiga provinsi yang keluar dari kawasan angka kematian tertinggi, yakni DKI Jakarta, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan.

"Bisa jadi banyak angka kematian di sana ketika bandingkan dengan jumlah kasusnya ini tidak setinggi dengan daerah yang lain," paparnya.

Selanjutnyadi level kabupaten/kota terdapat 10 wilayah dengan kasus kematian terbanyak yakni Kota Surabaya (790 kasus), Kota Semarang (328 kasus), Kota Makassar (226 kasus), Jakarta Pusat (207 kasus), Jakarta Timur (177 kasus), Jakarta Barat (162 kasus) Jakarta Selatan (156 kasus), Kabupaten Sidoarjo (140 kasus), Jakarta Utara (127 kasus) dan Kota Banjarmasin (125 kasus).

"Mungkin emang karena ibu kota, tadi luasnya juga ya, kita juga lihat harus melihat kepadatan penduduk ini juga masalahnya, karena masalah kepadatan penduduk, transmisi dari satu orang ke orang yang lain semakin padat penduduknya potensinya akan jauh lebih besar," paparnya.

Dewi menambahkan berdasarkan 514 kabupaten kota yang ada di Indonesia ternyata 43% atau sekitar 225 ini tidak ada kematian karena covid-19.

Baca juga : Update Covid-19 per 5 Agustus: 1.815 Orang Positif , Sembuh 1.839

"Ada bagian yang tidak ada kasus di 35 kabupaten kota, berarti sisanya hanya ada kasusnya dari 225 dikurang 35 ini sudah ada kasus namu tidak ada kematian," terangnya.

Begitu juga dengan angka kematian 1 orang ini sekitar 15,8%, kematian 2 sampai 10 orang sekitar 28,60% dan ternyata terdapat 64 kabupaten kota dengan kematian di atas 10 atau angka kematian cukup tinggi sekitar 12%.

"Kita lihat di atas 10 bisa sampai 700, ini kan lompatan yang cukup tinggi jadi ketika kita lihat ternyata Indonesia di 514 kabupaten kota meskipun kita punya PR juga untuk tetap menurunkan angka kematian serendah-rendahnya, di sini kalau kita lihat juga keberagaman yang ada di wilayah Indonesia," lanjutnya.

Kemudian juga membagi jumlah kasus berdasarkan seratus ribu penduduk dengan angka kematian berdasarkan besaran jumlah penduduknya, yakni Kota Surabaya, kedua Kota Semarang, ketiga Kota Manado, Kota Banjarmasin

Kemudian kelima Kota Palangkaraya, Jakarta Pusat, Kota Banjarbaru, Kota Mataram, Kota Makassar dan Kota Gorontalo,

"Catatannya ini adalah alert bagi kita semua, pemerintah daerah, pemerintah pusat untuk melihat daerah daerah mana yang memang perlu penanganan dan pengendalian dari kasus covid-19 dengan lebih bagus lagi agar mengurangi angka kematian yang ada di sana," pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT