02 August 2020, 20:53 WIB

Lonjakan Positif Covid di Sumbar Bukan Gelombang Kedua


Yose Hendra | Nusantara

ANTARA/IGGOY EL FITRA
 ANTARA/IGGOY EL FITRA
Seorang bellboy menunjukan stiker tanda bebas COVID-19, di hotel Grand Zuri Padang, Sumatera Barat, Rabu (1/7). 

PIMPINAN dua laboratorium pemeriksaan kasus covid-19 di Sumatra Barat,  Andani Eka Putra, menyebutkan lonjakan kasus positif covid-19 di Sumatra  Barat akhir-akhir ini bukanlah gelombang kedua.

Lonjakan tertinggi terjadi pada Jumat (31/7) lalu, dengan angka 41 kasus  positif, di mana 1 orang meninggal dunia.

Sementara hari ini, Minggu (2/8), terkonfirmasi sementara 9 orang warga Sumbar positif terinfeksi  covid-19 dari 708 pemeriksaan sampel di Lab Fakultas Kedokteran UNAND (Lab Veterenir Baso tidak ada pemeriksaan).

"Temuan tersebut adalah 2,5% dari spesimen yang diperiksa dua  labor di Sumbar," kata Andani yang juga Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakulas Kedokteran (FK) Universitas Andalas ini.

Menurutnya, ada kecenderungan peningkatan kasus di Sumbar, terbesar 41  kasus atau 2,5% dari total yang diperiksa.

"Walaupun masih dalam posisi terkendali (WHO menetapkan batas lebih kecil dari 5%), namun kita tetap waspada dan tetap tracing masif," katanya.

Ia meminta masyarakat tak perlu cemas berlebihan, karena 95% adalah tanpa gejala dan ringan.

Andani mengatakan penemuan kasus ini terjadi dari hasil tracing dan survailance. Jika tidak ditemukan akan menjadi lebih berbahaya.

"Ini bukan gelombang kedua atau gelombang lainnya. Tapi bagian dari  proses perkembangan virus yang terkait kejadian di luar Sumbar," ujarnya.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Kota Malang Melonjak Didominasi OTG

Andani menambahkan, sebagian besar kasus awal berasal dari luar  provinsi, seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Palangkaraya dan lain-lain.

"Oleh sebab itu, perlu dukungan informasi dari wali nagari, lurah, RT, RW untuk infokan semua pendatang," kata Andani.

Ia menegaskan, perlu peningkatan pemahaman terkait protokol Covid-19 yang harus dirancang mulai dari grup kecil masyarakat, seperti nagari.

Menurutnya, semua pihak tidak  perlu saling menyalahkan karena ini tanggung jawab bersama. Ia mengajak untuk berlomba membuat sesuatu yang nyata dan kongkret utk pengendalian Covid-19.

"Salah satunya mencari solusi agar masyarakat patuh protokol covid," ujarnya.

Sumber penularan utama Covid-19, menurutnya ialah dalam keluarga, sehingga jika sayang keluarga, patuhi protokol covid saat di luar rumah.

"Pola penularan lain saat makan bersama dengan teman di kantor dan tempat lainnya," ungkapnya.

Menurutnya, Covid-19 di Sumbar saat ini masih terkendali. Testing rate atau jumlah warga yang telah ikuti tes swab dengan PCR sudah 1,2% dari jumlah penduduk.

Sementara positivity rate 1,4 persen dan kasus berat dirawat kurang dari 5%. Namun, kata dia, tidak ada jaminan ini akan bertahan terus.

"Mari kita kembangkan edukasi, tracing, testing, isolasi dan treatment," tukasnya.

Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno juga menyebutkan sebagian besar kasus positif covid di Sumbar saat ini berasal dari perantau. Untuk itu dia minta perantau yang pulang untuk menerapkan karantina dan menerapkan protokol kesehatan. (A-2)

BERITA TERKAIT