02 August 2020, 19:04 WIB

Tawuran Kembali Marak, Pengamat: Titik Jenuh Warga Sudah Parah


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Megapolitan

Antara/Yulius Satria
 Antara/Yulius Satria
Ilustrasi pelajar yang diamankan akibat terlibat tawuran.

SAAT pandemi covid-19 tak kunjung berakhir, tawuran antar kelompok warga kembali marak di Kota Bekasi, Jawa Barat. Peristiwa itu bahkan menelan korban jiwa.

Sebelumnya, Polrestro Bekasi Kota mengamankan pelaku pembacokan, yakni Mikel Stefanus Ferdinan (MSF). Adapun korban pembacokan bernama Geri Sean Natanial Bosen (GSN). Tawuran terjadi di depan minimarket wilayah Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Minggu (2/8) dini hari. 

Baca juga: Tawuran di Jakarta Barat Disiarkan Live di IG

Peristiwa itu dipicu dendam lama. Sebab, keduanya sempat terlibat tawuran beberapa waktu lalu. Menanggapi hal tersebut, pengamat hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII), Muzakir, menilai maraknya tawuran saat pandemi disebabkan rasa jenuh warga seusai melewati masa PSBB.

“Kalau warga yang menggunakan aplikasi untuk bekerja di rumah bisa melewatinya. Sedangkan mereka yang biasa berkegiatan di luar, penat luar biasa karena tidak bisa kemana-mana,” ujar Muzakir saat dihubungi, Minggu (2/8).

Begitu Pemeirntah Provinsi DKI Jakarta menerapkan PSBB transisi, integritas kelompok masyarakat mulai kembali. “Mulainya masyarakat beraktivitas, membuat kesatuan kelompok tiba-tiba konslet dan jadilah apinya. Ini tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga dewasa,” ungkapnya.

Baca juga: Sekelompok Pemuda Malah Tawuran di Tengah PSBB Jakarta

Rasa penat membuat sosialisasi antar masyarakat berubah menjadi konflik. Muzakir berpendapat pengawasan dari sekolah dan keluarga harus seimbang, agar tidak terjadi perbedaan tafsir.

“Ketidaksamaan pengawasan bisa membuat mereka mencari alternatif sendiri dan memilih masalah,” pungkas Muzakir.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT