02 August 2020, 11:15 WIB

Selama Pandemi, Buruh Kayu Lapis Dirumahkan tanpa Kompensasi


Tosiani | Nusantara

Antara
 Antara
Hak-hak buruh kayu lapis sejak dirumahkan karena pandemi korona masih belum dibayarkan pengusaha.

FEDERASI Kehutanan Perkayuan dan Pertanian Serikat Buruh Seluruh Indonesia (Hukatan SBSI) Kabupaten Temanggung, mengeluhkan berbagai persoalan yang menimpa buruh semenjak dirumahkan dari pekerjaannya selama pandemi korona. Diantaranya gaji dan tunjangan hari raya yang belum dibayarkan oleh perusahaan.

Ketua Hukatan SBSI Kabupaten Temanggung, Wahyudi, mengatakan, pihaknya akan mengadukan hal itu pada pemerintah daerah (Pemda) dan DPRD setempat sekitar Agustus ini.

"Anggota kami dari dua pabrik ada yang dirumahkan tanpa pesangon. Ada pula yang THR nya belum dibayar penuh, beserta gaji yang belum diterima," ungkap Wahyudi, Minggu (2/8), di Temanggung, Jawa Tengah.

Ia menyontohkan pabrik kayu lapis barcore 'Duta Sumpit' yang beroperasi di wilayah Soropadan telah merumahkan 360 orang buruh anggota Hukatan SBSI. Pabrik ini belum memenuhi kewajiban membayar THR secara penuh sebelum merumahkan buruh. Juga belum membayar gaji buruh selama empat hari terakhir bekerja.

"Pabrik ini baru membayar 30 persen THR, juga empat hari kerja terakhir belum dibayarkan,"kata Wahyudi.

Pabrik Albasia Temanggung Jaya di bidang perkayuan yang berlokasi di Nguwet juga telah merumajmhkan 215 buruh tanpa kompensasi apapun. Di luar anggota Hukatan SBSI juga ada sekitar 600 orang buruh dari dua pabrik, yakni Murai Alam Sejahtera di Soropadan dan Cipta Usaha Mandiri yang dirumahkan selama
pandemik.

"Karena semua pabrik itu produknya barcore yang ekspornya hanya ke Cina jadi stop eksport sejak awal pandemik, karenanya harus berhenti produksi,"katanya.

Sepengetahuan Wahyudi, sejauh ini baru buruh dari tiga pabrik, yakni Cipta Usaha Mandiri, Duta Sumpit, dan Sumber Makmur Anugrah saja yang menerima bantuan dari pemerintah daerah. Wujudnya berupa bantuan sembako senilai Rp200 ribu per orang.

"Kami akan menanyakan ke dewan mengenai semua persoalan buruh ini kelanjutannya mau bagaimana," kata Wahyudi. (0L-13)

BERITA TERKAIT