03 June 2020, 16:50 WIB

Ulama Jateng Bahas Kenormalan Baru dalam Beribadah


Haryanto | Nusantara

MI/Haryanto
 MI/Haryanto
Ulama Jawa Tengah menggelar holaqoh dipimpin Ketua MUI Jateng KH Ahmad Darodji membahas kenormalan baru.

SEJUMLAH ulama Jawa Tengah (Jateng) menggelar halaqoh di gedung A lantai 2 kantor gubernur Jateng, Rabu (3/6). Halaqoh digelar untuk membahas tatanan beribadah di era kenormalan baru.

Halaqoh dipimpin oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, KH Ahmad Darodji dengan anggota para ulama dan pengasuh pondok pesantren di Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen juga hadir dalam acara halaqoh tersebut.

Ketua MUI Jateng, KH Ahmad Darodji mengatakan, halaqoh digelar untuk membahas tentang tatanan peribadatan di era normal baru. Halaqoh dinilai penting agar menjadi pedoman pemerintah sekaligus masyarakat dalam menerapkan normal baru.

"Umat sudah ingin Jumatan lagi, sudah ingin kembali berjamaah ke masjid. Santri sudah kangen pulang ke pondok. Tapi semua tidak boleh dilakukan asal-asalan, harus ada pedomannya. Halaqoh ini kami gelar untuk membahas soal tatanan peribadatan itu," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Ganjar yang membuka halaqoh memberikan gambaran tentang kondisi penyebaran covid-19 di Jawa Tengah. Meski grafik yang mulai menurun, namun masih ada outbreaks di beberapa tempat.

"Para ulama Jateng berinisiatif untuk merumuskan bagaimana normal baru nanti berjalan. Bagaimana kebiasaan baru berjalan. Hari ini sudah banyak yang tanya kapan normal baru bisa dilaksanakan, saya jawab nunggu kurvanya turun. Tapi sekarang harus terus latihan dan disiapkan secara matang," kata Ganjar.

Ganjar berharap, halaqoh ulama itu nantinya memutuskan berbagai hal tentang panduan dan tata cara penerapan normal baru dari segi peribadatan. Sebab, banyak persoalan yang harus dibahas apabila normal baru diterapkan.

Misalnya apakah mungkin, masjid menggelar shalat Jumat pakai shift. Menurut Ganjar, ada wacana membagi shift saat shalat Jumat agar jemaah tidak berjubel.

"Saya minta para ulama merumuskan ini, agar nantinya dapat menjadi formula yang baik sehingga Jateng benar-benar siap. Mudah-mudahan ada alternatif dan masukan dari para ulama yang akan kami jadikan acuan untuk menerapkan normal baru itu, agar semuanya lebih aplikatif dan aman," imbuhnya. (OL-13)

BERITA TERKAIT