31 May 2020, 08:15 WIB

Istana Diterpa Hoaks Lama soal PKI, KSP: Ada Kelompok Cari Pasar


Henri Siagian | Politik dan Hukum

Antara
 Antara
Ilustrasi

AKHIR-akhir ini, marak beredar lagi unggahan hoaks lama di media sosial (medsos) terkait Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dikaitkan dengan Joko Widodo.

Kantor Staf Presiden (KSP) memperkirakan fenomena itu tidak terjadi secara sistematis dan dilakukan oleh kelompok yang sedang mencari pasar.

"Sistematis sih tidak. Ini hanya kelompok yang mencoba memanfaatkan momentum tertentu. Itu hanya kelompok kecil yang sedang mencari pasar dan berharap siapa tahu ada yang membeli. Tema primitif itu hanya akan mengadu domba masyatakat dan menghambat kemajuan bangsa," kata Deputi IV KSP Juri Ardiantoro dalam perbincangan dengan Media Indonesia, Sabtu (30/5).

Baca juga: Mamah Dedeh Meninggal Dunia? Ini Penjelasan Putrinya

Kelompok itu, menurut dia, suka membuat fitnah dan hoaks dan berharap bisa membuat rusuh. "Mereka tidak suka Indonesia rukun," kata dia.

Menurut dia, kemunculan berita hoaks seputar PKI adalah model lama yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terus-menerus berusaha mendegradasi legitimasi pemerintah di bawah Presiden Jokowi. "Tema komunis sering juga ditambah isu aseng adalah tema khas untuk menyerang Pak Jokowi," ujarnya.

Baca juga: Benarkah Aa Gym Merasa Dikhianati Pemerintah? Ini Klarifikasinya

Menurut Juri, tema itu memang membuat sebagian masyarakat terpengaruh. Namun, imbuhnya, ternyata tidak efektif mengadang atau menjatuhkan nurani rakyat dalam memilih Jokowi saat pemilu.

"Sejak Pemilihan Gubernur DKI 2012, Pilpres 2014, dan Pilpres 2019, tema-tema itu dijadikan amunisi utk mengadang dan menyerang Pak Jokowi," tegasnya.

Baca juga: Soal Bendera Tiongkok Berkibar di Maluku Utara: False Context

Masyakarakat, kata dia, semakin muak dengan cara tidak beradab dalam menyerang Jokowi dan pemerintahan. "Pihak atau kelompok yang masih primitif dalam berpolitik sebaiknya segera tobat dan berpolitiklah secara beradab. Rebut hati rakyat dengan karya dan tawaran program yang nyata untuk kebesaran bangsa," ujarnya.

Berikut adalah sejumlah hoaks lama seputar PKI ke Presiden Jokowi atau yang terkait yang muncul lagi.

Kaesang Pakai Kaos Berlogo Palu Arit

SEBUAH unggahan foto putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, mengenakan kaos berlogo palu arit muncul di media sosial Facebook.

Seorang pengguna Facebook pada Minggu (24/5) mengunggah foto Kaesang mengenakan kaos hitam berlogo palu dan arit sedang duduk bersama kakaknya, Gibran Rakabuming.
Dalam unggahannya, pemilik akun Facebook itu membubuhkan pula narasi sebagai berikut: "Betul kata orang dulu.... Buah kalau jatuy tax kan jauh pohonya..."

Tangkapan layar hoaks Kaesang Pangarep menggunakan kaos berlogo palu arit. (Dok Medcom.id)

Saat ditelurusi, foto Kaesang yang duduk berdampingan dengan Gibran merupakan foto dalam artikel di sebuah portal yang dipublikasikan pada 11 Maret 2018. Artikel itu mengenai kegiatan bisnis Kaesang dan Gibran. Dalam artikel itu, foto Kaesang mengenakan kaos oblong berwarna hitam polos. Adapun Gibran mengenakan kaos putih polos.

Kaesang bersama kakaknya, Gibran Rakabuming. (Dok Detik.com)

Baca juga: Hoaks Kaesang Pakai Kaos Berlogo Palu Arit, Ini Penelusurannya

Megawati Potong Tumpeng di Meja Berlogo PKI

Sebuah foto memperlihatkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sedang memotong tumpeng di atas meja berlogo PKI muncul di akun Facebook pada Jumat (29/5).

"Nah lo," tulis akun tersebut.

Tangkapan layar hoaks Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri memotong tumpeng di atas meja berlogo PKI. (Dok Kemenkominfo)

Berdasarkan penelusuran, foto yang dimunculkan adalah hasil rekayasa foto. Hoaks itu juga pernah muncul pada 2017.

Baca juga: Di Depan Ulama, Megawati Curhat Disebut PKI

Informasi ini termasuk manipulated content (konten manipulasi) karena konten merekayasa konten yang sudah ada untuk mengecoh publik.

Adapun foto yang asli merupakan karya pewarta foto Kantor Berita Antara Widodo S Jusuf seputar peringatan ulang tahun ke-41 PDIP di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (10/2/2014). Megawati melakukan pemotongan tumpeng disaksikan sejumlah tokoh PDIP.

Peringatan ulang tahun ke-41 PDIP di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (10/2/2014). (Dok Antara)

Di antaranya Joko Widodo (Jokowi) yang saat itu sebagai Gubernur DKI Jakarta, Puan Maharani, dan Tjahjo Kumolo.

KSP Tempat Rapat PKI

Sebuah foto tangkapan layar yang diambil dari blog KANCAPOLITIK.BLOGSPOT.COM yang memperlihatkan mantan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Teten Masduki sedang diwawancarai sejumlah wartawan. Pada tangkapan layar itu muncul narasi yang merujuk bertuliskan Teten mengakui KSP sering dipakai rapat PKI.

Konten itu diunggah di sebuah akun Facebook pada Kamis (28/5).

Tangkapan layar hoaks Teten Masduki mengakui KSP dijadikan tempat rapat PKI. (Dok Medcom.id)

Berdasarkan penelusuran, narasi hoaks itu pernah beredar pada Januari 2019. Sumber tangkapan layar juga blog yang saat ini telah dihapus.

Baca juga: Teten Berang Dituding Antek PKI

Pada Selasa (30/5/2017), Polda Metro Jaya menetapkan seorang dosen Alfian Tanjung sebagai tersangka terkait kasus dugaan ujaran kebencian.

Alfian pada 1 Oktober 2016 antara lain menuding Teten, Budiman Sudjatmiko, Waluyo Jati, Nezar Patria, sebagai kader PKI dan menjadikan istana sebagai tempat rapat setiap hari kerja di atas pukul 20.00 WIB. Beberapa bulan kemudian, dia meminta maaf kepada Nezar Patria.

Baca juga: Teten Resmi Laporkan Alfian ke Bareskrim

Pada 30 Mei 2017, Polda Metro Jaya menetapkan Alfian Tanjung sebagai tersangka dalam kasus ini.

Baca juga: Ustaz Alfian Tanjung Divonis 2 Tahun Penjara

Alfian Tanjung sudah dua kali dijatuhi hukuman berkekuatan hukum tetap. Pada 7 Juni 2018, Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi Alfian Tanjung terkait fitnah terhadap Presiden Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai antek PKI. Ucapan itu dia lontarkan di Surabaya, Jawa Timur. Putusan MA tersebut mengharuskan Alfian tetap menjalani hukuman dua tahun penjara sebagaimana sebelumnya telah diputuskan PN Surabaya.

Dan ada 12 Desember 2018, MA mengabulkan permohonan jaksa dan memvonis Alfian Tanjung dengan 2 tahun penjara karena cuitannya soal 'PDIP yang 85% isinya kader PKI'.(X-15)

BERITA TERKAIT