24 May 2020, 07:56 WIB

Warga Sumedang Tetap Ziarah Kubur di Tengah Pandemi


Tjondro Resmiati | Nusantara

ANTARA/Prasetia Fauzani
 ANTARA/Prasetia Fauzani
Ilustrasi--pedagang bunga tabur musiman

IMBAUAN pemerintah dalam merayakan Idulfitri 1441 H adalah Salat Id di rumah dan tidak melaksanakan kunjungan silaturahmi antarkeluarga maupun pembukaan open house halal bihalal bagi pejabat. Meski demikian, masyarakat masih melakukan budaya rutin saat lebaran, salah satunya adalah ziarah kubur keluarga.

Meraup rejeki tambahan di penghujung Ramadan 1441H dilakukan Eli, 49, dari Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang dengan berjualan bunga ziarah kubur.

Seiring dengan kegiatan rutin warga Desa Cikeruh berziarah ke makam keluarga di Hari Raya Idulfitri, Eli mengumpulkan bunga dari wilayah sekitar rumahnya dan mengemasnya dengan harga Rp2000 sekantong plastik ukuran 200 ml.

Baca juga: Empat Masjid di Cileunyi Tetap Gelar Salat Id

Bunga taburnya bukan bunga standar ziarah yang biasa disebut bunga tujuh rupa tetapi bunga campur bougenvil, dedaunan, serta mawar.

"Yah situasi lagi covid gini teh, saya cuma nyediain buat yang gak bawa. Memang bunganya ngumpulin sendiri dari halaman unpad dan sekitar rumah bukan sengaja kulak ke lembang," ujar Eli saat ditemui Media Indonesia, Minggu (24/5) di depan gapura TPU Gajah Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Selain berziarah, warga terlihat membayar retribusi perawatan makam sebesar Rp20.000 setahun.

Ujang, petugas perawatan makam mengatakan angka tersebut sudah diketahui pemerintah desa setempat digunakan untuk merawat sekitar seribu makam. (OL-1)

BERITA TERKAIT