24 May 2020, 00:18 WIB

Mudik Virtual


Adi Prayitno, Dosen Politik Fisip UIN Jakarta, Direktur Eksekutif Parameter Politik | Opini

Ist
 Ist
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno

FENOMENA mudik di Indonesia unik karena tak terjadi di negara lain yang penduduknya juga sama mayoritas Islam. Bagi umat Islam, mudik sudah menjadi bagian ‘ritual tahunan’ yang inheren di bulan suci Ramadan. Padahal tak ada satupun teks Al-quran, hadits, maupun dalil fiqh yang mewajibkan mudik. Namun mudik terlanjur menjadi fenomena sosial, ekonomi, dan keagamaan yang turun temurun. Seakan sesuatu yang given dari langit.

Sebenarnya, tak ada satupun rujukan paling sahih yang bisa menunjukkan kapan tradisi mudik mulai dipraktikkan di Indonesia. Tapi, secara umum mudik menjelma sebagai fenomena sosial keagamaan terjadi dalam rentang waktu 1970 hingga 1980.

Saat itu, Jakarta menjadi kota yang terlihat paling maju. Terutama kemajuan di bidang ekonomi efek kebijakan sentralisasi Orde Baru. Jakarta menjadi destinasi utama orang desa menyabung hidup.

Kondisi semacam ini berlanjut seiring diterapkannya semangat otonomi daerah tahun 2000. Banyak kaum urban yang mengadu perutungan hidup di kota selain Jakarta. Diaspora orang desa ke kota-kota besar menjadi pemantik utama munculnya tradisi mudik di Indonesia. Bukan murni fenomena keagamaan seperti yang belakangan ini terjadi. Biasanya, mereka yang sudah bekerja mendapatkan libur panjang pada saat lebaran saja. Momen inilah yang dimanfaatkan pemudik balik ke kampung halaman.

Kini, mudik dilarang karena wabah pandemi korona. Bayangan indah pulang kampung menikmati libur panjang bersama handai taulan mesti dikubur dalam. Semua ini, dilakukan sebagai upaya mengamputasi sebaran virus korona yang sukar dibendung.

Di zaman yang serba modern mudik manual bisa diganti dengan mudik virtual. Yakni, mudik nonkonvensional yang menyediakan cita rasa sama untuk mengobati rasa rindu yang kian menebal. Sensasinya relatif sama bisa bernostalgia lewat udara.

Ekspresi

Mudik sebagai ekspresi ‘ibadah’ berkumpul dengan kelurga bisa dilakukan kapan saja. Tak terikat ruang dan waktu. Sebab, mudik bukan ibadah wajib yang menyertai keharusan orang berpuasa. Bukan pula ibadah sunah yang memiliki basis argumen teologis kuat. Mudik hanya sebatas konstruksi sosial masyarakat yang menjelma sebagai tradisi pulang kampung yang dijalankan sejak lama. Sekali lagi, mudik bukan perintah agama.

Oleh karena itu, silaturahim Idul Fitri yang biasanya dilakukan secara konvensional bertemu fisik mesti dilakukan secara virtual. Wabah korona membuat segala sesuatu serba sulit. Namun kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan bentuk silaturahim lain yang secara substansial sama dengan esesnsi mudik manual. Tak hanya melalui untaian kata indah lewat pesan singkat dan telepon, melainkan bisa juga berkomunikasi secara langsung dengan berbagai kanal media sosial yang berlimpah ruah.

Mudik virtual dengan berbagai kanal kecanggihan teknologi informasi tentunya sedikit banyak bisa menghilangkan rasa rindu sanak famili dan kampung halaman. Toh, mudik bisa dilakukan di akhir tahun seperti ketetapan pemerintah. Mudik saat ini hanya ditunda. Digeser  ke Desember bersamaan dengan menyambut tahun baru mendatang.
 

Esensi Mudik

Sejauh ini, belum ada penjelasan ilmiah yang paling representatif yang bisa dijadikan rujukan utama mengenai esensi mudik yang sesungguhnya. Setiap orang bebas memiliki cara pandang masing-masing. Meski begitu secara umum, esensii mudik bisa diurai dengan tiga dimensi. Minimal jika dilihat dari praktik yang selama ini terjadi. Pertama, dimensi sosial keagamaan.  Yakni, mudik menikmati libur panjang Ramadan untuk bersilaturahim dengan kerabat dekat.      

Secara sosial, mudik sering dijadikan momentum bercengkrama dengan famili dan handai taulan di kampung halaman setelah sekian lama tak berjumpa. Momen ini sekaligus menjadi terapi psikologis setelah setahun lamanya penat berjibaku dengan rutinitas. Jenuh dijejali berbagai kesibukan kerja.

Silaturahim Idul Fitri memiliki nilai ganda. Nilai sosial sekaligus keagamaan. Selain merekatkan kembali rasa kekeluargaan, memperkokoh persaudaraan, silaturahim juga menjadi ajang mencari berkah dengan berbuat baik antarsesama. Dalil agama mudah dicari bahwa setiap orang yang rajin silaturahim dan berbuat baik, akan dipanjangkan umur dan rezekinya. Satu keyakinan teologis yang sampai saat ini dipegang erat umat Islam.

Kedua, dimensi ekonomi. Mudik menyuguhkan perputaran uang yang signifikan. Pergerakan orang kota ke desa memberikan stimulus ekonomi. Moda transportasi terbantu dengan adanya mudik. Semua jenis armada mudik berdenyut, karena orang bergerak dari kota besar ke berbagai daerah. Secara ekonomi saling menguntungkan berbagai pihak (mutualisme simbiosis).

Begitupun dengan desa yang menjadi tujuan pemudik akan terjadi sirkulasi keuangan yang meningkat. Biasanya, aktivitas mudik dibareng dengan tingkat komsumsi yang juga meningkat. Uang yang selama ini ada di kota terdistribusi secara merata di berbagai penjuru wilayah. Di tengah pandemi, dimensi ekonomi semacam ini sangat terganggu. Sulit digantikan apapun.

Ketiga, sebagai peneguhan eksistensi. Semacam pembuktian diri suskses bekerja di kota besar. Pada level ini, pemudik biasanya terlihat ingin membangun legitimasi sebagai orang yang hidupnya sudah mapan. Mengonstruksi persepsi sosial bahwa dirinya bekerja sangat layak, pendapatan berlimpah, dan mudik menjadi momen berbagi. Tak heran jika masih banyak saja orang yang nekat mudik. Kucing-kucingan dengan aparat keamanan. Salah satu alasannya soal peneguhan identitas ini.

Dimensi eksistensi diri sebenarnya kasat mata namun terlihat menonjol. Setidaknya hal itulah yang terjadi belakangan melihat fenomena pemudik yang lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi ketimbang moda transportasi umum. Dulu, pemudik lebih banyak menyerbu terminal bus, stasiun kereta api, dan pesawat untuk pulang kampung. Padahal kalkulasi secara ekonomi lebih hemat menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi.

Mudik virtual sangat mungkin mewakili dimensi sosial keagamaan. Setiap orang bisa berkomunikasi tatap muka melalui media sosial secara live. Sementara, dimensi ekonomi agak sulit digantikan. Perputaran ekonomi tak bisa diwakili secara virtual. Begitupun soal dimensi peneguhan eksistensi sukar diwakili karena sangat terkait dengan mental model seseorang. Yakni, niat unjuk kesuksesan. Bukan karena alasan lain. Tapi yakinlah bahwa larangan mudik adalah ikhtiar rasional menekan kurva korona. Mari mudik virtual saja. (OL-12)

BERITA TERKAIT