24 May 2020, 07:25 WIB

Meski Volume Total Berkurang, Jenis Sampah Kemasan Meningkat


Fetry Wuryasti | Weekend

Unsplash/ Gary Chan
 Unsplash/ Gary Chan
Sampah kemasan dan sampah medis meningkat selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar.

MASA karantina mandiri atau pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta selama Ramadan berdampak pada jumlah sampah yang beredar. Tonase sampah DKI Jakarta menunjukkan penurunan selama masa ini.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta,  sebelum masa PSBB, yaitu 1-15 Maret tercatat ada 9.346 ton sampah komersil per hari di DKI Jakarta dan sekitarnya.

Begitu masuk masa karantina mandiri hingga 9 April, tonase sampah turun menjadi 8.485 ton per hari. Kemudian pada 10 - 14 April, rata-rata beratnya sampah per hari menjadi 7.686 ton.

"Berarti ada pengurangan ada sekitar 620 ton per hari sampah komersil dari sebelum PSBB hingga awal PSBB, yang berasal dari restoran, perkantoran, rumah makan, dan lainnya. Menurun karena mulai tidak ada aktivitas di sana," kata Diky Wahyudi Lubis dari Komunitas Saya Pilih Bumi, dalam Webinar Lebaran Hijau, Hidup Ramah Minim Sampah, Jumat (22/5).

Sayangnya di sisi lain, aktivitas tinggal di rumah oleh sebagian besar penduduk DKI Jakarta, berakibat pada meningkatnya sampah kemasan akibat aktivitas belanja daring.

Hal ini akibat dari pergeseran konsumsi pemesanan/ belanja kebutuhan dasar secara online, yang belum sampai pada tahap menciptakan packaging ramah lingkungan.

"Sampahnya jadi meningkat, termasuk sampah medis. Alasannya sebelum orang mengenal masker dan sarung tangan yang bisa dicuci pakai, mereka mencari masker dan sarung tangan sekali pakai. Akibatnya sampah medis meningkat," kata Diky.

Penanganan sampah medis dan residu yang belum terkelola dengan baik di tatanan rumah tangga, tinggi risiko terinfeksinya petugas pengangkut sampah akan virus.

Sampah organik, dengan berbagai sumber pengetahuan masih bisa diolah menjadi kompos. Namun untuk sampah medis harus ada pihak ketiga yang mengelola di pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Untuk itu, sebaiknya masyarakat paham langkah memilah jenis sampah menjadi terbagi antara lain, tempat sampah organik, non organik, bahan kimia berahaya / B3, non rrganik berbahan kertas dan tempat sampah untuk residu seperti sampah medis.

"Bila sampah medis mengandung infeksius, dicampur sampah organik di dalam rumah dan tidak dipisahkan. Lalu diangkut petugas kebersihan yang tidak terinformasi harus memakai APD lengkap maka risiko mereka terpapar virus sangat besar," kata Diky. (M-1)

BERITA TERKAIT