22 May 2020, 04:25 WIB

Bangkit dengan Norma Baru


Kristomei Sianturi Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 | Opini

MI/Bary Fathahilah
 MI/Bary Fathahilah
Kristomei Sianturi Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19

“JANGAN kita menyerah, hidup berdamai itu penyesuaian baru dalam kehidupan. Kesananya yang disebut the new normal tatanan kehidupan baru.” (Presiden RI, Joko Widodo, Jumat 8/5).

Waktu menjelang Idul Fitri pada tahun ini terasa begitu berbeda. Padatnya arus mudik tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kemacetan menjelang buka puasa pun hanya terlihat di beberapa titik. Apalagi, kegiatan buka bersama, berkumpul dengan sanak saudara, dan rekan kerja kini dilakukan secara virtual.

Masyarakat pun semakin sadar untuk rajin mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer. Selain itu, juga ada kebiasaan baru untuk memakai masker bila keluar rumah, sedia sarung tangan saat berkendaraan umum, menjaga jarak dengan orang lain, langsung berganti pakaian atau mandi ketika sampai di rumah, serta menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan saat bertemu dengan rekan atau sanak keluarga.

Sejak kasus positif covid-19 pertama diumumkan di Indonesia pada 2 Maret 2020 lalu, pengawasan dan pengelolaan kesehatan diperketat. Tempat-tempat publik kini menyediakan tempat mencuci tangan atau hand sanitizer.

Masyarakat yang memasuki gedung perkantoran harus melalui skrining suhu tubuh, tidak jarang yang harus disemprot disinfektan. Para pekerja di bidang penting, dari minimarket hingga bank, melayani pelanggan dengan penghalang plastik sebagai penerapan physical distancing atau jaga jarak fisik. Restoran yang tidak menerima makan di tempat memberikan fasilitas pesan antar makanan ke rumah demi menghindari kerumunan.

Para dokter dan perawat di rumah sakit dan klinik pun menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap dalam melayani pasien. Konsekuensinya, terjadi perubahan pola interaksi antara satu dan yang lain. Masyarakat mulai mengubah perilaku sehari-hari. Kalau sebelumnya kehadiran pekerja di kantor merupakan suatu keharusan, pada sektor tertentu, bekerja dari rumah atau remote working menjadi hal biasa yang harus dilakukan. Rapat yang biasanya dilakukan dengan bertatap muka langsung diganti dengan konferensi video sebagai alternatif.


Menyesuaikan

Beberapa bentuk perubahan baru inilah yang kemudian melahirkan istilah the new normal, yakni perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, tetapi ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penyebaran covid-19. Prinsip utamanya ialah masyarakat harus bisa menyesuaikan pola hidup dan aktivitas bekerjanya dengan seluruh protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran virus.

Hingga 18 Mei 2020, juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19, Achmad Yurianto, menuturkan bahwa telah teridentifikasi 18.010 kasus  positif dengan angka kematian 1.191 orang dan 4.324 orang lainnya dinyatakan sembuh.

Jika melihat tren beberapa bulan terakhir, angka ini diperkirakan masih akan terus bertambah. Sampai saat ini tidak ada yang dapat memprediksi secara pasti kapan pandemi covid-19 akan berakhir hingga vaksin dan obat yang tepat benar-benar ditemukan. Pada waktu itulah kita harus bisa hidup berdampingan dengan covid-19 dan beradaptasi dengan situasi norma yang baru seperti saat ini.

Menyelamatkan nyawa dan menekan angka pertumbuhan penularan covid-19 merupakan prioritas pemerintah. Akan tetapi, kegiatan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat juga harus tetap berjalan. Virus korona tidak boleh menjadikan warga tidak produktif. Untuk itu, warga harus tetap produktif dengan penyesuaian baru.

Kehilangan pekerjaan atau turunnya pendapatan keluarga akibat larang an beraktivitas di luar rumah dan ketidakpastian kapan pandemi akan berakhir telah menjadi tekanan terbesar seluruh masyarakat.

Di tengah perang menghadapi covid-19 ini, pemerintah harus memastikan bahwa jejaring distribusi dan jaminan ketersediaan logistik berjalan dengan baik. Adanya jaminan ketersediaan logistik dari pusat hingga daerah ataupun dari pusat-pusat gudang logistik hingga masyarakat di daerah-daerah dapat dilaksanakan dengan baik.

Tentunya, pada kelompok masyarakat yang terdampak berat, pemerintah perlu memberikan stimulus ekonomi secara cepat dan tepat sasaran. Pemerintah telah membuat pedoman bagi pemerintah daerah untuk melakukan realokasi anggaran dan refocusing kegiatan. Karena itu, pemerintah pusat dan daerah memiliki satu visi dan prioritas yang sama untuk mengatasi penyebaran virus korona.

Terlepas dari melemahnya geliat ekonomi dalam negeri, penantian ditemukannya vaksin korona saat ini harus diimbangi dengan sikap  legawa, yakni menerima dan memaklumi keadaan bahwa dunia saat ini memang sedang melawan musuh yang sama.

Pandemi ini bukan hanya masalah bagi negara kita sendiri, melainkan juga masalah internasional. Saat menjelang Hari Raya Idul Fitri,  banyak masyarakat rindu akan tradisi tahunan untuk mudik dan rasa ingin bertemu dengan sanak saudara di kampung halaman.

Namun, alangkah baiknya bila tahun ini tidak mudik guna mencegah penyebaran covid- 19 ke daerah-daerah. Virus tidak dapat berpindah tempat dengan sendirinya, tapi manusialah yang memindahkannya.

Jangan membuat mata rantai penyebaran covid-19 tetap berlangsung dan tanpa kita sadari menularkannya kepada orang-orang tersayang di kampung halaman. Silaturahim tahun ini cukup dilakukan secara online. Dengan begitu, kita menjadi selamat dan menyelamatkan banyak orang.


Strategi

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tidak dapat bekerja sendiri tanpa mendapat dukungan dan kedisiplinan dari seluruh masyarakat. Strategi ke depan yang masih harus terus dilakukan ialah bagaimana meningkatkan stamina/imunitas masyarakat, disiplin diri, dan kesadaran kolektif masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan guna mencegah penyebaran covid-19.

Upaya tersebut tidak dapat dilakukan dengan bekerja sendiri-sendiri, tetapi dilakukan dengan budaya gotong royong yang merupakan warisan bangsa Indonesia, dan diharapkan dapat menjadi gerakan masyarakat secara masif.

Dengan semangat kebangkitan nasional yang kita peringati setiap 20 Mei, marilah kita jadikan pemacu semangat bangsa dengan jiwa gotong royong, kebersamaan, serta kerukunan untuk bersamasama bangkit dan optimistis bahwa Indonesia bisa mengatasi krisis pandemi covid-19 ini.

Mari disiplin dan bersama saling mengingatkan untuk patuh dengan norma-norma hidup yang baru. Mari menjadi pahlawan untuk melindungi diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan.

Berdamai bukan berarti menyerah, melainkan beradaptasi untuk bertahan hidup, kemudian bangkit dan menang. Bersama Tuhan,mari kita bahu-membahu melawan covid-19.

BERITA TERKAIT