21 May 2020, 09:05 WIB

Begini Cara Berbicara di Depan Umum yang Baik


Galih Agus Saputra | Weekend

Ist
 Ist
Peserta web binar public speaking media academy

ARIEF Wisudo barang kali ialah salah satu orang yang pernah mengalami demam panggung ketika berbicara di depan publik. Akibat hal itu, ia menjadi lupa dengan segala materi yang hendak disampaikan kepada audien alias 'nge-blank'.

Selain Arief, ada juga Siska Anggraeni. Masalahnya sedikit berbeda yakni gaya bicara yang terlalu cepat sehingga penyampaian pesannya kurang dapat ditangkap dengan baik.

Lalu, ada Emilia Bassar. Perempuan yang satu ini ingin tahu bagaimana caranya melatih kemampuan berbicara di depan publik (public speaking). Baik Arief, Siska, maupun Emilia ialah tiga dari kurang lebih 115 peserta seri keempat webinar Media Academy, yang kali ini membahas tema 'Percaya Diri Berbicara di Depan Publik'.

Dalam seminar daring yang berlangsung pada Rabu (20/5) itu, mereka dipandu Head PR & Partnership Media Academy, Henny Puspita Sari, dengan Narasumber, VP Corporate Communications Media Group News, Fifi Aleyda Yahya.

Ada sejumlah materi yang dikupas tuntas oleh Fifi. Menurut Pembawa Acara Berita Metro TV itu, sebenarnya ada begitu banyak hal yang perlu dipahami seseorang untuk menjadi pembicara yang baik. Mulai dari menganggap setiap kesempatan atau acara adalah momen penting, memahami lawan bicara, yakin dengan diri sendiri, hingga bagaimana caranya mencairkan suasana atau membangun 'gimmick' yang baik, dan lain-lain. Meski begitu, lanjut Fifi, nomor satu yang harus menjadi pegangan seseorang sebelum menjadi pembicara yang baik pada dasarnya ialah menjadi pendengar yang baik.

"Dengan banyak mendengar, saya pikir kita menjadi punya lebih banyak bekal untuk berkomunikasi secara efektif. Dan insyaallah kalau kita mau menyampaikan pesan, kemudian, mudah-mudahan jauh lebih diterima kalau kita lebih banyak mendengar. Karena pada saat mendengar, di situlah kunci kita untuk, paling tidak mendengar tone lawan bicara kita," tuturnya.

None Jakarta 1995 itu juga menjelaskan bahwa ada banyak hal yang mungkin selama ini sering tidak diperhatikan seseorang untuk menjadi pembicara yang baik, yakni set tempat, busana, bagaimana cara membangun kontak mata, termasuk bagaimana memanajemen energi sehingga apa yang disampaikan dapat memancing antusias.

Berbicara di depan umum, bagi Fifi, memang sangat berbeda untuk setiap orang. Ada seseorang yang mungkin sedari kecil sudah pandai berinteraksi, tetapi ada juga orang yang menganggap pekerjaan tersebut sebagai sebuah tantangan tersendiri.

"Maka dari itu, memang harus ada effort, ada usaha, dan saya tidak mau menggeneralisir bahwa ini gampang, semua orang bisa, tidak, karena setelah ketemu dengan orang-orang itu, ternyata pengalamannya berbeda-beda. Tapi yang pasti, ini dapat dipelajari," tutur Fifi.

Persiapan tak kalah penting untuk dilakukan seseorang sebelum berbicara di depan publik. Hal itu mungkin juga sangat membantu seseorang untuk membangun kedekatan personal dengan lawan bicara.

Saat memberi sambutan di aras RT atau RW, misalnya, menurut Fifi akan lebih baik jika seseorang mengenal atau setidaknya mengetahui nama Ketua RT atau RW yang bersangkutan. Menyapa seseorang dengan nama lengkap dapat membangun suasana, yang pada kesempatan selanjutnya turut menentukan suksesnya sebuah proses komunikasi.

"Jangan lupa juga kita harus bertanya pada panitia, acaranya apa, kenapa dilakukan, tuan rumahnya siapa, karena ini bagian dari kita. Tidak mungkin, misalnya, kita menyampaikan sebuah pesan atau sosialisasi peraturan baru, kepada anak SMP atau SMA sama dengan yang misalnya sudah mempunyai latar belakang hukum. Pendekatanya harus berbeda-beda", imbuhnya.

Sebelum mengakhiri paparannya, Fifi juga menjelaskan bahwa sangat baik bagi seseorang untuk dapat menerima kritik dan saran. Seorang pembicara yang baik perlu mendapat masukan dari orang lain, baik yang berkenaan dengan gestur . (M-4)

BERITA TERKAIT