19 May 2020, 06:50 WIB

Belajar Dermawan dari Sahabat Nabi


SYARIEF OEBAIDILLAH | Ramadan

Youtube
 Youtube
 

RAMADAN merupakan bulan kedermawanan yang mengajak kaum muslimin agar dapat berbagi kepada sesama. Dalam hadis disebutkan, kebaikan dan kedermawan Nabi Muhammad SAW pada bulan Ramadan diibaratkan seperti angin yang berhembus, artinya amat gencar dilakukan. Rasulullah SAW menyebutkan, anak Adam yang meninggal hanya meninggalkan tiga hal, anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat, serta amalan sedekah.

"Bila kelak kita meninggal, kira-kira berapa lama nama kita diingat generasi setelah kita? Satu, sepuluh, atau seribu tahun? Atau janganjangan beberapa bulan setelah dimakamkan, orang sudah lupa," papar Ustaz Jamil Azzaini kepada Media Indonesia, Minggu (17/5). "Kita perlu belajar dengan Utsman bin Affan, pebisnis kaya raya dan sahabat utama di masa Rasulullah.

Kisahnya bisa menjadi pelajaran dalam kebaikan dan kedermawanan," papar Ustaz Jamil yang merupakan pimpinan lembaga Tahfiz Leadership. Suatu saat Kota Madinah mengalami kesulitan air bersih. Satu-satunya sumber air yang tersisa ialah sebuah sumur milik seorang Yahudi yang bernama sumur Raumah. Penduduk Madinah terpaksa harus rela antre dan membeli air bersih dari orang Yahudi tersebut. Melihat kondisi umatnya, Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang mau menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta'ala." (HR. Muslim).

Utsman bin Affan tergerak hatinya dan mendatangi pemilik sumur. Ia menawar untuk membeli sumur dengan harga yang tinggi. Mulanya, pemilik sumur menolak. Utsman bin Affan bernegosiasi, dengan membeli setengah dari sumur, satu hari sumur miliknya, esoknya ganti milik orang Yahudi. Akhirnya, si Yahudi menerima tawaran Utsman bin Affan.

Saat giliran sumur milik Utsman, ia mengumumkan pada penduduk Madinah untuk mengambil air secara cuma-cuma untuk persediaan 2 hari. Keesokan harinya, orang Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air. Ia mendatangi Utsman bin Affan agar membeli sumurnya. Utsman bin Affan setuju.

"Nah, apakah Utsman bin Affan menjadikan sumur itu sebagai lahan bisnis? Ternyata Tidak. Ia wakafkan sumur itu untuk dimanfaatkan siapa pun, termasuk orang Yahudi pemilik sebelumnya, " jelas Jamil. Setelah beberapa waktu, di sekitar sumur tumbuh pohon kurma yang kemudian dipelihara Daulah Utsmaniyah. Selanjutnya, dipelihara pemerintah Arab Saudi, hingga menjadi kebun kurma dengan 1.550 pohon.

Pemerintah menjual hasil kebun kurma, hasilnya untuk anak-anak yatim dan fakir miskin, dan sisanya ditabung dalam rekening di bank. Begitulah seterusnya, hingga uang yang ada di bank itu cukup untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel yang cukup besar di salah satu tempat strategis dekat Masjid Nabawi di Madinah. Hotel bintang 5 dengan 15 lantai tersebut memiliki lebih dari 200 kamar. Hasil keuntungan dari hotel tersebut sebagian digunakan untuk membantu fakir miskin, sebagian lagi diinvestasikan dalam kegiatan bisnis.

"Bermula dari sumur, Utsman bin Affan bisa membantu banyak orang dan bertahan hingga 1.400 tahun lebih. Ia juga memiliki kebun kurma dan hotel yang hasilnya untuk kemanfaatan banyak orang. Utsman bin Affan telah meninggalkan legacy (warisan) yang manfaatnya tiada henti hingga kini," tukas Jamil. Belajar dari kedermawanan dan menjadi orang dermawan untuk kondisi saat ini, hemat Jamil, perlu contoh dan teladan. "Ngajak orang menjadi dermawan, kita mesti menjadi dermawan terlebih dulu," pungkas Ustaz Jamil. (H-3)

BERITA TERKAIT