18 May 2020, 05:15 WIB

Prospek Pendidikan Vokasi Masa Depan


Anggi Afriansyah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI | Opini

MI/Duta
 MI/Duta
 

COVID-19 telah mengubah cara pandang dan pola kehidupan. Ekonomi global melambat karena berbagai negara memiliki fokus memperbaiki kondisi di setiap negara. Data BPS (2020) mencatat ekonomi Indonesia triwulan I-2020 hanya tumbuh sebesar 2,97%, melambat dibanding capaian triwulan I-2019 yang sebesar 5,07%.

Sementara itu, dari sisi ketenagakerjaan, data dari rilis BPS (2020) menyebut pada Februari 2020, sebanyak 131,03 juta orang merupakan penduduk bekerja dan sebanyak 6,88 juta penduduk menganggur.

Sisi kelam yang kita harus hadapi di kala pandemi berlangsung ialah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di banyak perusahaan, menjadi tak terhindarkan.

Kondisi tersebut terjadi karenaketergantungan terhadap investasi asing begitu besar di sektor ketenagakerjaan. Ketika perusahaan-perusahaan berbasis investasi asing goyah, jelas sangat berpengaruh pada kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dan menambah angka pengangguran.

Dengan memperhatikan kondisi tersebut, dalam jangka pendek pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan agar PHK tidak terus berlanjut. Untuk mereka yang terkena PHK, perhatian pemerintah pun sangat dibutuhkan.

Pemberian bantuan sosial bagi mereka yang kehilangan pekerjaan menjadi sangat mendesak. Di sisi lain, kondisi itu juga membuat kita perlu memikirkan solusi jangka panjang dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko di masa depan. Pandemi ini memberikan kita pelajaran berharga dalam merespons berbagai aspek kehidupan, termasuk tentang penyiapan tenaga kerja di masa depan.


Pendidikan

Salah satu aspek penting dalam penyiapan tenaga kerja ialah pendidikan. Pendidikan kembali mendapatkan tantangan untuk menyiapkan manusia yang lebih tahan terhadap risiko, adaptif, kreatif, dan juga mampu bertahan di situasi sulit.

Saya berandai-andai apabila ide Ki Hadjar Dewantara tentang vakschool/sekolah kepandaian atau sekarang disebut pendidikan vokasi diimplementasikan secara baik dalam kebijakan pendidikan di negeri ini, dunia ketenagakerjaan kita tidak akan sepenuhnya bergantung pada kondisi ekonomi global. Hal tersebut terjadi karena ide pendidikan vokasi Ki Hadjar Dewantara sangat dilekatkan pada corak produksi/ekonomi lokal di tiap wilayah.

Jika dikontekstualisasikan, pendidikan vokasi dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara bukan semata menjadi lokus penyuplai bagi dunia industri yang bergantung pada investasi asing. Kondisi yang terjadi dewasa ini pendidikan vokasi lebih banyak menjadi arena tempat produksi calon tenaga kerja yang diharapkan bekerja di industri begitu besar, berbeda dengan ide vakshool ala Ki Hadjar Dewantara yang dalam beberapa tulisannya menekankan pada pentingnya pembangunan pendidikan yang lebih mengukuhkan arah arah nasional dan kultural. Arus utama dalam penguatan pendidikan vokasi dalam ide Ki Hadjar Dewantara ialah local production yang ada di wilayah masing-masing.

Dengan semua potensi alam dan ekonomi lokal yang dimiliki wilayah tersebut, bangunan pendidikan vokasinya dikokohkan untuk menunjang kedua hal tersebut. Jika sektor pertanian,  kukuhkan pendidikan yang menunjang hal tersebut.

Demikian jika kelautan, perkebunan, kehutanan, dan lain sebagainya. Saya kembali berimajinasi, jika sejak awal pembangunan vokasi berbasis local production sejak dulu dikukuhkan, pemerataan pembangunan di daerah akan lebih cepat terjadi. Sebab, tenaga kerja di level lokal sudah dapat disuplai lembaga vokasi yang  ada di daerah. Bukan hanya bicara soal suplai tenaga kerja, melainkan juga lembaga-lembaga tersebut menjadi arena penting dalam membangun aktor-aktor pembangunan di berbagai bidang, dengan keahlian masing-masing.

Dalam bayangan saya, mereka akan mampu menggarap hasil alam dengan optimal, dengan pemahaman dan kesadaran ekologis yang memadai sehingga alam tidak dieksploitasi dengan serakah.


Ketahanan pangan

Bicara ketahan pangan, misalnya, mereka akan mampu membangkitkan produksi pertanian dan perikanan yang ada di wilayah  asingmasing. Kondisi tersebut akan sangat signifikan pada ketahanan pangan. Jika mengutip Presiden Soekarno, kita akan berdikari secara ekonomi. Arah pendidikan berbasis ada komoditas lokal ini akan membangkitkan kreativitas sumber daya manusia daerah dalam
mengolah alam dengan mengedepankan kearifan lokal.

Industri lokal akan bangkit, sebab para siswanya dikukuhkan dengan kreativitas, kecintaan terhadap daerah, dan kemauan untuk memajukan daerah masing-masing. Jika kondisi itu terjadi, dalam situasi krisis seperti pandemi covid-19 saat ini, kekhawatiran akan adanya PHK masal, kekurangan pangan akibat ketergantungan pada impor, mungkin tidak akan terjadi. Karena di setiap wilayah kita sudah mandiri dan kuat secara ekonomi serta ketahanan pangan sudah dimiliki. Ketahanan pangan mustahil diperoleh jika ketergantungan negeri ini pada impor begitu kuat dan di sisi lain tidak ada SDM yang dibangun untuk dapat mengelola lingkungan di setiap daerah.

Sesungguhnya ada sedikit angin segar ketika Pasal 50 ayat (5) UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pemerintah kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah, serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.

Selain itu jika merujuk pada UU No 23 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, memberikan otonomi kepada daerah untuk mengembangkan pendidikan muatan lokal sesuai dengan karakteristik daerah setempat baik di bidang karakter pribadi, teknologi (SMK), maupun budaya daerah setempat.

Meski memang secara praktikal, muatan lokal lebih banyak mengajarkan bahasa daerah. Selain itu, jika menelaah kurikulum SMK, muatan global dan nasional lebih mendominasi dibanding muat an lokal yang mengenalkan anak kepada realitas atau potensi alamnya. Sehingga yang harus diarusutamakan ialah menguatkan pelajaranpelajaran yang mengeratkan anak pada kondisi di daerah masing-masing. Menjadi penting agar arah pembangunan pendidikan di tiap daerah selaras dengan arah pembangunannya.

Apalagi sesungguhnya secara regulasi sudah ada Inpres No 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK yang menyertakan pemerintah daerah untuk lebih aktif membangun pendidikan vokasi. Potensinya masih sangat besar karena alam kita begitu luar biasa kaya dan membutuhkan SDM dalam jumlah besar untuk mengelolanya. Jika terjadi, SMK tidak akan menjadi pencetak pengangguran tertinggi karena lulusannya
dapat berkontribusi di level lokal, global, maupun nasional.

Pendidikan vokasi masa depan harus kembali menengok potensi alam Indonesia. Pendidikan menjadi bagian penting untuk menyokong industri lokal menjadi kukuh. Tentu itu tidak sederhana dan mudah, tetapi menjadi penting diupayakan bersama.


 

BERITA TERKAIT