17 May 2020, 06:50 WIB

Ajaran Rasulullah sebagai Rujukan


Quraish Shihab | Ramadan

MI/Seno
 MI/Seno
   

PEMBAHASAN kali ini dimulai dengan ayat ke-7 surah Al-Hujurat. Dikatakan, wa’lamu anna fi kum rasulallah, lau yuti’ukum fi kasirim minal-amri la’anittum. Ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah.

Maksudnya, salah satu yang perlu kamu lakukan menyangkut hal-hal yang tidak jelas bagimu, tanyakanlah pada Rasul. *Secara fisik beliau tidak ada, tetapi ajarannya tetap ada. Jika demikian, kalau ada hal-hal yang tidak jelas bagi kamu, rujuklah pada Alquran, rujuklah pada Assunah. Dengan demikian, kita bagaikan menghadirkan Rasul melalui ajaranajarannya.

Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya Rasul itu mengikuti banyak dari permintaan kamu, maka kamu akan terjerumus di dalam kesulitan. Ini ditujukan kepada sebagian sahabat Nabi yang senang mengusulkan hal-hal yang sebenarnya didorong oleh ketidakpahaman atau hawa nafsu mereka.

Namun, Rasul tidak akan melakukan itu. wa lakinnallaha habbaba ilaikumul-imana wa zayyanahu f’mi qulubikum. Ada sebagian dari kamu, yang bukan kelompok pertama tadi, yang Allah telah cintakan kepadanya keimanan dan menghiasnya dalam diri mereka.

Allah mencintakan keimanan berarti Allah berperan cinta, Dia yang menciptakan cinta itu. Cinta itu bisa bersumber dari dua, bisa Allah yang mencintakan, bisa manusia melalui setan yang mencintakan.

Bagi orang-orang yang dekat pada Allah, Allah mencintakan sesuatu yang baik buat dia. Bagi orang-orang yang dekat kepada setan, setan mencintakan baginya sesuatu yang buruk. Setan bisa menghiaskan sesuatu pada manusia.

Padahal, itu buruk. Namun, kalau dia suka dan dicintai sehingga dianggap ini sesuatu yang indah, itu namanya dihiaskan. *Allah yang menghiaskan dan menjadikan orang-orang tertentu mencintai keimanan. Ayat selanjutnya berkata, fadlam minallahi wa ni’mah, wallahu ‘alimun hakim. Fadlam itu artinya kelebihan.

Maksudnya, Allah itu memiliki perbendaharaan yang banyak sekali. Ada rezekinya di situ, ilmunya, seakan-akan digambarkan bagaikan gudang-gudang yang sedemikian banyak.

Apa yang dianugerahkan kepada manusia atau makhluk ialah kelebihan, sesuatu yang kecil. Misalnya, Allah memberikan anugerah kepadamu, apa yang diberikan ini tidak mengurangi sedikit pun dari apa yang dimiliki-Nya.

Kembali lagi pada tuntunan Rasulullah dalam menyelesaikan masalah. Jika ada dua kelompok kecil, sekalipun dari orang-orang beriman, yang bertengkar, lakukanlah islah antara keduanya. Damaikan keduanya. Kalau ada salah satu dari dua kelompok itu yang melampaui batas, tindaklah. Bukan berarti perangi atau bunuh dia. Tindakan itu disesuaikan dengan sikap yang diperlukan sampai dia kembali kepada perdamaian, menaati Rasul, dan kembali kepada yang terbaik buat semua orang. Sikap muslim itu kata nabi: selamat orang lain dari gangguan tangan dan lidahnya.

Artinya, jangan pukul dia dengan tangan, jangan ambil hartanya dengan tangan. Dengan lidahnya, jangan maki dia, jangan menggunjing, jangan sebut-sebut keburukannya meskipun keburukan itu benar ada padanya.

Pada kesimpulannya, dalam situasi sekarang kita hendaknya selalu sadar bahwa kendati Rasulullah SAW sudah wafat, beliau masih hidup paling tidak dalam konteks bahwa ada sunahnya untuk kita jadikan rukujan dalam segala persoalan. (Ifa/H-1)

BERITA TERKAIT