15 May 2020, 05:10 WIB

Janji Allah bagi Orang Beriman


Fer/H-2 | Ramadan

MI/Seno
 MI/Seno
Quraish Shihab

TAFSIR  Al-Mishbah episode 21 kali ini akan membahas Surah Al Fath dimulai dari ayat ke-26. Disebutkan bahwa ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, yaitu kesombongan jahiliah, Allah SWT menurunkan ketenangan kepada rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin.

Lalu, Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka berhak dengan kalimat takwa itu serta patut memilikinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat ini menggambarkan ganjaran ketenangan dan ketenteraman bagi orang-orang yang beriman. Sejauh mana kita bisa mengamalkan yang berhubungan dengan ketenangan itu yang ada di dalam hati. Karena itu, buka hati Anda, agar cahaya Allah masuk, bagaimana caranya?

Dalam ayat itu ada kalimat takwa, sebagian ulama berpendapat bahwa kalimat itu berbunyi Laa ilaaha illallaah dan ada juga yang menyebut berbunyi Bismillaahirrahmaanirrahiim. Namun, yang terpenting bukan hanya dilafazkan atau diucapkan, melainkan juga harus diamalkan agar ucapan dan perbuatan bisa sejalan.

Pendapat ulama yang menyebut Laa ilaaha illallaah mengartikan bahwa siapa yang mengucapkan kalimat itu pada akhir hidupnya akan terhindar dari siksa. Selain itu, barang siapa yang memulai setiap perbuatan dan memohon bantuan Allah dengan ucapan Bismillaahirrahmaanirrahiim, amalnya selalu direstui-Nya.

Allah menurunkan ketenteraman kepada rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Allah menetapkan pada diri mereka agar terhindar dari kesyirikan dan siksa. Mereka merupakan orang-orang yang berhak untuk mendapatkannya karena beriman dan bertakwa kepada Allah.

Jadi, kalimat takwa itu mantap dalam hati mereka, tidak meragukannya. Pun demikian, sikap ketetapan Allah itu dibiarkan karena memang Allah Maha Mengetahu segala sesuatu.

Mengapa Allah memberikan kedengkian kepada orang-orang kafir? Itu disebabkan mereka tidak mau berubah dan justru mau menjalani hidup dengan penuh kedengkian. Melalui Nabi, Allah mengajak orang-orang kafir untuk membuka hati meyakini keesaan Allah, tetapi mereka tidak mau.

Seperti yang ditegaskan dalam ayat ke-28 berbunyi, ‘Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi’.

Janji Allah ialah janji yang benar dan pasti, tidak diselisihi. Siapa pun yang meniti jejak para sahabat, dia masuk hukum mereka, yaitu berhak atas ampunan dari Allah dan pahala yang besar.

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan antara lain bahwa sifat orang beriman itu selalu tenang. Sebaliknya, sifat orang yang tidak beriman itu suka marah, tidak menerima atau menolak sesuatu tanpa dalih yang kuat. (Fer/H-2)

BERITA TERKAIT