13 May 2020, 05:40 WIB

Percaya kepada Allah dan Rasul-Nya


MI | Ramadan

Dok. MI/ seno
 Dok. MI/ seno
Quraish Shihab

EPISODE Tafsir Al-Mishbah kali ini membahas tentang surah ke-48, yaitu surat Al-Fath ayat 8-14. Ayat ini lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang kemenangan yang dianugerahi Allah pada rasul-Nya, salah satunya tentang Perjanjian Hudaibiyah.

Allah berfi rman pada ayat ke-8, "Sesungguhnya Kami (Allah) mengutusmu (Nabi Muhammad) sebagai saksi, juga memberi berita gembira dan memberi peringatan". Nabi Muhammad SAW ialah saksi yang berfungsi menunjukkan kebenaran yang benar dan menampik kebenaran yang dianggap benar oleh yang salah.

Sosok Nabi Muhammad SAW menjadi tolok ukur bagi umat manusia. Jika perbuatan kita sejalan dengan perbuatannya, apa yang kita lakukan ialah benar, begitu pun sebaliknya. Nabi Muhammad SAW menampilkan kebaikan bagi umat manusia, begitu juga seluruh umat Islam wajib menampilkan perilaku yang baik agar menjadi teladan bagi orang lain.

Pada ayat 9, umat Islam diimbau memperbanyak mengucap kalimat syahadat sebagaimana Nabi Muhammad pun sering mengucapkan syahadat. Mengucapkan kalimat syahadat berfungsi memperbarui iman kita karena dalam kehidupan sehari-hari keyakinan kita dapat mengalami erosi.

Memperbanyak mengucap kalimat syahadat dapat membuat kita senantiasa berpegang teguh pada Allah SWT. Kemudian ayat ke-10 mengisahkan tentang janji setia Nabi Muhammad dan para sahabatnya untuk berangkat berjihad atau Perjanjian Hudaibiah. Janji setia yang diucapkan para sahabat kepada Nabi Muhammad sesungguhnya tengah berjanji kepada Allah SWT. Allah SWT mendukung mereka yang telah berjanji. Jika mereka menepati janjinya, Allah akan menganugerahkan ganjaran yang besar. Sebaliknya, jika mengingkari janji, mereka juga akan mendapat balasan yang setimpal.

Ayat ke-11 menjelaskan bahwa para penduduk yang tidak ikut dengan Nabi Muhammad bukan karena mereka sibuk menjaga harta dan keluarganya, melainkan karena mereka takut mati dan tidak dapat kembali. Mereka mengucapkan hal yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hati mereka. Mereka meragukan ketetapan Allah dan mendustai hatinya.

Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan agar kita tidak bersangka buruk, apalagi terhadap Allah SWT. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di balik ketetapanketetapan-Nya. Pelajaran yang dipetik Nabi Muhammad sebagai saksi menjadi bukti kebenaran agama Islam dan kebenaran yang disampaikan sebelumnya sekaligus menjadi saksi yang menampik kebatilan yang ada.

Seorang yang beriman ialah ia yang mampu menepati janjinya. Sebaliknya, orang tidak beriman akan beringkar janji. Tiap-tiap dari mereka akan menanggung akibat dan risiko dari sifatnya. Pelajaran lain yang dapat dipetik umat manusia bahwa mengikuti tuntunan Allah SWT dan mengikuti rasul-Nya akan membawa kita menemukan kebaikan. (Aiw/H-3)

BERITA TERKAIT