08 May 2020, 05:45 WIB

Ibadah di Rumah Sebuah Tarbiah


Syarief Oebaidillah | Ramadan

ANTARA FOTO/Saiful Bahri
 ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Umat Islam melakukan tadarus Alquran di rumahnya usai melaksanakan shalat tarawih di Kel. Gladak Anyar, Pamekasan, Jawa Timur, (23/4) lalu.

Islam merupakan agama yang mengajarkan kepada para pemeluknya untuk senantiasa taat dan patuh kepada Allah SWT, Rasul, dan ulil amri atau pemerintah. Hal tersebut sesuai dengan arti Islam yakni berserah diri, agama yang menyerahkan diri kepada Allah SWT, tunduk dan patuh kepada hukum-Nya, tanpa tawar-menawar.

Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah Annisa ayat 59 yang artinya, ‘Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.“

“Dengan kondisi sekarang, ketaatan seseorang akan diuji. Musibah pandemi covid-19 membutuhkan ketaatan warga negara dan umat beragama untuk dapat mematuhi ketentuan yang dikeluarkan agama maupun ketentuan pemerintah,” kata Ustaz Uswadin Usman kepada Media Indonesia, Rabu (6/5).

Ketua Bidang Pendidikan Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (ISNU) DKI Jakarta ini mengutarakan salah satu ketentuan dalam menghadapi wabah dengan cara tetap tinggal di rumah, dengan bekerja atau belajar di rumah untuk memutus rantai penyebaran virus korona.

Hemat dia, Islam sejak 14 abad silam telah mengajarkan cara efektif menghindari penyebaran penyakit yang masif melalui anjuran untuk tinggal di rumah sebagaimana yang dianjurkan pemerintah pada saat sekarang.

Rasullah disebut mengisahkan perihal taun kepada Siti Aisyah RA. Taun ialah azab yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, kalian jangan memasukinya. Tetapi, jika wabah itu terjadi di daerah kamu berada, jangan tinggalkan tempat itu.”

Uraian di atas membuktikan larangan keluar rumah untuk mencegah penyebaran covid-19 sesuatu yang berdasarkan kepada aspek medis, yuridis, dan religi.

“Larangan keluar rumah untuk beribadah di masjid atau tempat ibadah lainnya harus ditaati semua orang apabila musibah ini ingin segera berakhir. Tidak ada alasan lagi hanya karena ingin meraih pahala dan keutamaan beribadah di masjid sehingga memaksakan tetap melakukan salat jamaah di masjid dengan mengabaikan kemudaratan yang ditimbulkan. Inilah ujian keimanan dan pendidikan keimanan yang sesungguhnya di mana seorang harus taat dengan ajaran agama dan peraturan pemerintah pada saat melaksanakan ibadah yang seolah-olah berpahala besar,” papar Uswadin.

Ia menambahkan, ibadah di rumah tidak menghilangkan esensi ibadah yang sebenarnya. Justru, terdapat sejumlah makna di balik ibadah di rumah pada saat pandemi covid-19 dilihat dari sudut tarbiah. Pertama, keikhlasan beribadah kepada Allah akan benar-benar teruji, karena pada saat kita berada di rumah tidak ada orang lain yang melihat kita, kecuali keluarga. Kedua, menguatkan kembali keimanan anggota keluarga. Ketiga, membangun baiti jannati, yaitu ‘rumahku surgaku’. Empat, dengan mengikuti anjuran pemerintah dan melaksanakan perintah agama berarti telah menaati aturan dan merupakan ketaatan kita kepada agama dan ulil amri.

“Kepatuhan ini selain memberikan ketenangan batin kepada pelakunya juga mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT, sebagaimana digambarkan seperti pahala orang yang berjuang di jalan agama dengan syahid,” pungkas Uswadin. (H-3)

BERITA TERKAIT