Tim Ahli Cagar Budaya Nasional Tolak Formula E di Monas


Penulis: Putri Anisa Yuliani - 15 February 2020, 13:55 WIB
AFP/David Dee Delgado
 AFP/David Dee Delgado
Mobil balap Formula E

TIM Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional di bawah Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana merekomendasikan penolakan penyelenggaraan Formula E di Monumen Nasional (Monas).

Arkeolog senior di TACB Nasional, Junus Satrio Atmodjo, menyebut rekomendasi itu sudah didiskusikan oleh anggota TACB Nasional yang berada di Jakarta. Draft rekomendasi penolakan itu masih akan didiskusikan dengan anggota yang tersebar di beberapa daerah. Jika telah mencapai kuorum kesepakatan dan hasilnya menyetujui, rekomendasi itu akan dibawa ke Dirjen Kebudayaan.

Baca juga: Hitungan Kasar Pendapatan Formula E, Jakarta Untung Rp600 miliar

"Karena anggota kami ada 13 orang ada yang berada di luar kota. Mereka juga harus baca dulu drafnya. Kalau sudah kuorum kita kirim ke Dirjen Kebudayaan supaya diajukan kepada Pak Mendikbud untuk diajukan ke forum anggota Komisi Pengarah," kata Junus saat dihubungi, Sabtu (15/2).

Mendikbud sebagai anggota Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka yang dibentuk berdasarkan Keputusa Presiden No 25 tahun 1995 menurutnya harus tahu duduk permasalahan penggunaan Monas untuk Formula E. Sebab, Monas adalah kawasan cagar budaya nasional sehingga pemanfaatannya harus melalui koordinasi dengan TACB Nasional.

"Harus dong. Karena dia adalah orang yang bertanggung jawab terhadap cagar budaya nasional. Masalahnya dalam rapat yang kemarin sama Mensesneg itu dia tahu atau nggak, saya rasa dia belum tahu. Makanya kita kasih tahu," ungkapnya.

Menurutnya, penolakan balapan diselenggarakan di Monas mempertimbangkan alasan historis. Monas yang termasuk dalam kawasan Medan Merdeka adalah kawasan yang dibangun Presiden ke-1 RI yakni Soekarno atau Bung Karno guna memperlihatkan karakter serta jati diri bangsa.

"Tahun 1961 kita sudah memiliki monumen semegah itu kan luar biasa. Ini adalah simbol kemerdekaan kita dan jati diri bangsa," jelasnya.

Junus juga menjelaskan awal mula nama Medan Merdeka digunakan untuk menamai kawasan Monas yakni dari peristiwa rapat raksasa di lapangan Ikada yang kini menjadi kawasan Medan Merdeka.

Penyelenggaraan rapat itu oleh Bung Karno menurut Junus adalah untuk menunjukkan bangsa Indonesia telah terbentuk dan merdeka sehingga mampu menyuarakan aspirasinya dalam pertemuan terbuka yang dilangsungkan pada 19 September 1945 atau hanya berselang satu bulan setelah Indonesia merdeka.

"Jadi makna rapat raksasa itu sangat mendalam bagi pembentukan bangsa Indonesia. Sehingga dari situlah ada nama Medan Merdeka. 'medan' itu kan artinya lapangan dan saat itu kita baru merdeka jadi namanya Medan Merdeka," jelasnya.

Dari sisi historis itulah ia menilai balap mobil Fomula E tidak cocok diselenggarakan di Monas. Ia pun meminta agar balap mobil tenaga listrik itu dipindah ke lokasi lain. "Jadi setelah tahu sejarahnya begitu anda masih tanya ke saya 'cocok nggak kalau ada balapan di Monas?'. Jawaban saya tidak cocoklah," tegasnya.

Baca juga: 300 Milenial Dilibatkan untuk Sosialisasi Sensus Penduduk 2020

Penggunaan Monas untuk sirkuit Formula E telah menjadi polemik sejak awal tahun lalu. Pemprov DKI bersikeras menggunakan Monas dengan alasan kawasan itu adalah yang paling ikonik dan mewakili Jakarta serta Indonesia.

Sementara dari DPRD DKI sebagian menolak karena khawatir akan kelestarian cagar budaya nasional itu. Penolakan itu juga didukung oleh TACB Provinsi DKI Jakarta. (OL-6)

BERITA TERKAIT