Penghormatan Prabowo kepada Habibie dan Kisah di Awal Reformasi


Penulis: mediaindonesia.com - 11 September 2019, 22:57 WIB
Antara
Antara

KETUA Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto melayat di rumah duka mendiang Presiden ke-3 RI BJ Habibie.

Prabowo tiba pada Rabu (11/9) sekitar pukul 21.30 WIB dan langsung memasuki rumah duka tanpa memberikan pernyataan kepada wartawan. Setelah itu, Prabowo meninggalkan rumah duka sekitar pukul 22.00 WIB.

Dia langsung menuju mobilnya tanpa banyak menyampaikan pernyataan. "Saya datang menyampaikan penghormatan dan belasungkawa kepada keluarga (Habibie)," kata Prabowo, sembari berjalan menuju mobilnya.    

Habibie wafat pada usia 83 tahun di Paviliun Kartika RSPAD Gatot Subroto Jakarta, Rabu pukul 18.05 WIB. Jenazah Habibie tiba di rumah duka, Jalan Patra Kuningan XIII Blok L15/7, Setiabudi, Jakarta Selatan, sekitar pukul 20.45 WIB.

Baca juga: BJ Habibie Wafat, Pemerintah Tetapkan Hari Berkabung Nasional

Sebelumnya, Prabowo menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Presiden RI ke-3 Baharuddin Jusuf Habibie.

“Innalillahi wa innailaihi raji'un. Saya atas nama pribadi dan keluarga besar Partai @Gerindra mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya Presiden Republik Indonesia ke 3 Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie. Semoga ditempatkan di sisi Allah SWT. Aamiin YRA,” cuit Prabowo melalui akun Twitter @prabowo.

Hubungan antara mendiang BJ Habibie dan Prabowo sempat memanas pada masa awal reformasi. Sehari setelah Habibie dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Mei 2008, terjadi pergantian sejumlah posisi di tubuh TNI. Salah satunya ialah posisi Prabowo sebagai Panglima Kostrad diserahterimakan kepada Mayjen TNI Johny J Lumintang. Padahal, Prabowo baru mengisi posisi Pangkostrad sekitar dua bulan.

Dalam buku yang ditulis oleh BJ Habibie berjudul Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang lndonesia Menuju Demokrasi (2006) memuat kisah pergantian itu.

Di mana, Habibie menyetujui usul pergantian dari Panglima ABRI (kini TNI) Jenderal Wiranto. Di mana, Habibie mendapat laporan mengenai pergerakan pasukan Kostrad.

"Oleh karena itu, kepada Pangab saya beri perintah untuk segera mengganti Pangkostrad, dan kepada Pangkostrad baru diperintahkan untuk mengembalikan pasukan Kostrad ke basis masing-masing pada hari ini juga sebelum matahari terbenam."

"Kebijakan ini berlaku pula bagi tiap gerakan pasukan tanpa sepengetahuan dan koordinasi Pangab. Komandan yang bertanggung jawab akan segera saya ganti."

Setelah pergantian jabatan itu, Prabowo ternyata meminta waktu untuk bertemu. "Apakah perlu saya bertemu? Apa gunanya bertemu? Letjen Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto. Pak Harto baru 24 jam meletakkan jabatannya. Pak Harto yang telah memimpin negara dan bangsa selama 32 tahun, tentunya memiliki pengaruh dan prasarana yang besar dan kuat. Bagaimana sikap dan tanggapan Pak Harto mengenai kebijakan saya menghentikan Prabowo dari jabatannya sebagai Pangkostrad? Apakah beliau tersinggung dan menugaskan menantunya untuk bertemu dengan saya?" tulis Habibie.  

Akan tetapi, Habibie akhirnya memutuskan memberi kesempatan pertemuan itu setelah santap siang bersama keluarga.

Suasana saat itu agak menegang. Perwira pengamanan bersenjata, termasuk Letjen Sintong Panjaitan, dan protokol mendampingi Habibie menuju Wisma Negara untuk bersantap siang.

"Kami makan siang bersama, namun semuanya dalam keadaan tegang, sehingga nafsu makan pun tidak ada. Hampir tiga hari lamanya saya tidur paling banyak dua jam sehari, namun tidak pernah sedikitpun merasakan badan saya lelah," papar Habibie.

Setelah itu, Sintong melaporkan kalau Prabowo sudah siap untuk bertemu di ruang tamu.

Kemudian ketika Prabowo masuk ke ruang kerja. "Melihat bahwa Prabowo tidak membawa senjata apapun, saya merasa puas. Hal ini berarti pemberian 'eksklusivitas' kepada Prabowo tidak dilaksanakan lagi."

Dalam dialog di pertemuan itu, Prabowo mengungkapkan kekesalannya dalam bahasa Inggris. "Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad."

Saya menjawab, "Anda tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti."

"Mengapa?" tanya Prabowo.

Habibie pun menyampaikan mendapat laporan dari Pangab bahwa gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Merdeka.

"Saya bermaksud untuk mengamankan Presiden," kata Prabowo.

"Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda," jawab saya.

"Presiden apa Anda? Anda naif!" jawab Prabowo dengan nada marah.

"Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan," jawab saya.

"Atas nama ayah saya, Prof Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad," mohon Prabowo.

Saya jawab dengan nada tegas, "Tidak! Sampai matahari terbenam Anda sudah harus menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru!"

"Berikan saya tiga minggu atau tiga hari saja untuk masih dapat menguasai pasukan saya!"

Saya langsung menjawab, "Tidak! Sebelum matahari terbenam semua pasukan sudah harus diserahkan kepada Pangkostrad baru! Saya bersedia mengangkat Anda menjadi duta besar di mana saja."

"Yang saya kehendaki adalah pasukan saya!" jawab Prabowo.

"Ini tidak mungkin, Prabowo!"

Sementara itu pintu terbuka dan Sintong Panjaitan masuk dan mengatakan, "Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu banyak dan harap segera meninggalkan ruangan."

Saya mengatakan, "Sebentar," dan Sintong Panjaitan meninggalkan ruangan lagi.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Prabowo untuk meminta agar ia dapat berbicara melalui telepon dengan Pangab. Saya tugaskan kepada salah satu ajudan Presiden yang berada di ruangan untuk segera menghubungi Pangab.

Setelah menelepon ke Markas Besar ABRI, ajudan Presiden menyampaikan bahwa Pangab tidak dapat dihubungi.

Untuk kedua kalinya pintu terbuka dan Sintong Panjaitan mempersilakan Prabowo meninggalkan ruangan karena tamu saya sudah tiba.

Saya masih sempat memeluk Prabowo dan menyampaikan salam hormat saya untuk ayah kandung dan ayah mertua Prabowo.

"Saya percaya bahwa iktikad dan niat Prabowo untuk melindungi saya adalah tulus, jujur, dan tepat. Masalahnya iktikad dan niat yang baik dan tepat itu dilaksanakannya tanpa sepengetahuan dan koordinasi dengan Pangab. Kesimpulan ini saya ambil ketika Pangab melaporkan mengenai gerakan pasukan Kostrad. Dari laporan tersebut secara implisit dinyatakan bahwa tindakan Pangkostrad, tidak sepengetahuan dan dikoordinasikan dengan Pangab." (X-15)

BERITA TERKAIT