Yasonna Dikukuhkan sebagai Guru Besar Kriminologi


Penulis: medcom - 11 September 2019, 20:11 WIB
Antara/ Aprillio Akbar
Antara/ Aprillio Akbar

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Kriminologi Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK)

Pengukuhan itu digelar di Auditorium Mutiara STIK, Rabu (11/9).

Dalam sidang pengukuhannya, Yasonna Yasonna menyampaikan orasi ilmiah berjudul 'Dampak Cyber Bullying dalam Kampanye Pemilu terhadap Masa Depan Demokrasi di Era 4.0'.

Menurutnya, cyber bullying dan cyber victimization memicu polarisasi yang tajam di masyarakat. Fenomena itu terasa selama kontestasi Pemilu 2019.

"Ini terjadi karena diabaikannya sisi positif dari internet, khususnya media sosial, untuk mengampanyekan segi-segi terbaik dari praktik berdemokrasi di era digital. Malah justru menggunakannya untuk menghancurkan demokrasi itu sendiri," ujar Yasonna.

Fenomena tersebut, sambung Yasonna, menjadi tantangan bagi para kriminolog untuk meneliti dan menjelaskannya secara ilmiah.

Pasalnya, internet telah menjadi pisau bermata dua, yakni membawa kebaikan, di sisi lain memiliki dampak sosial.

"Internet, khususnya dalam platform media sosial, telah digunakan untuk menyebarkan hoaks, yang tidak lain ialah gejala cyber bullying," tandasnya.

Menurut Yasonna, guna menghentikan gejala cyber crime, cyber bullying dan cyber victimization, harus ada regulasi yang memberikan batasan untuk berinteraksi di dunia maya.

Ia menegaskan, akan terjadi malapetaka sosial jika orang menilai bahwa demokrasi ialah ajang mengemukakan pendapat sebebas-bebasnya di era digital 4.0.

"Demokrasi yang telah kita bangun dengan susah payah ini akan tertimbun sampah yang merusak ruang publik dan ekologi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Politisi PDI-P ini berharap hadirnya era sosial 5.0 bisa membantu masyarakat, termasuk di Indonesia lebih bijak dalam menggunakan teknologi internet. Dengan begitu, era demokrasi digital bisa digunakan untuk mengampanyekan hal-hal baik dari praktek berdemokrasi.

"Agar demokrasi bisa diolah menjadi modal sosial membawa energi positif memajukan, memakmurkan dan menyejahterakan bangsa dan negara," pungkasnya.

Dalam acara tersebut hadir pula Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Presidenke-5 RI sekaligus Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menko PMK Puan Maharani, hingga Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman. (OL-8).

 

BERITA TERKAIT