Menjaga Hutan Papua itu Tugas Kita


Penulis: Sri Utami - 11 September 2019, 20:00 WIB
Dok. Econusa
Dok. Econusa

ALEX Waisimon kerap disebut sebagai orang gila yang menyia-nyiakan masa tuanya demi merawat hutan Papua. Usianya memang tak lagi muda, sudah 60 tahun, namun tetap aktif melakukan berbagai kegiatan terutama merawat keragaman hayati dan hutan Papua.

Pria pengelola Isio Hill's Papua ini memiliki harapan agar masyarakat Indonesia sadar pentingnya menjaga huan Papua yang keberadaannya kian mengkhawatirkan.

"Masyarakat harus komitmen bahwa Papua bagian dari Indonesia berarti kita bersaudara tidak ada blok sehingga hutan dan hayatinya itu terjaga," ucapnya di Jakarta, Rabu (11/9). 

Alex mengungkapkan masyarakat Papua khususnya masyarakat adat sangat paham bagaimana mengelola hutan yang menjadi harta tidak ternilai harganya. Sehingga, pemerintah harus segera membangun dan memberikan legalitas masyarakat adat Papua untuk mengelola dan menjaga hutan dan alamnya sesuai dengan kearifan lokal.

"Yang merusak itu bukan orang Papua tapi orang luar. Mereka dapat izin dari kementerian atau dinas terkait ada yang legal ada yang tidak. Orang Papua sendiri tidak mengerti perusahaan yang masuk ini legal atau tidak," cetusnya. 

Dia berharap pemerintah tidak hanya membangun berbagai infrastruktur tanpa memikirkan dampak kerusakan alam, potensi pengrusakan alam serta keuntungan terhadap masyarakatnya. Pemerintah dinilai bertangung jawab dengan legal atau tidaknya penggunaan hutan di Papua yang masih disulap menjadi perkebunan tanpa Amdal yang jelas.

"Tentang apa yang akan didapat oleh rakyat Papua juga harus dibicarakan dengan masyarakatnya jangan diiming-imingi. Dan juga tokoh masyarakat bermain di dalam untuk kepentingannya sehingga mereka membuat nama daerah dan suku jadi tidak baik. Tapi yang kami perjuangkan adalah bagaimana masyarakat Papua legal mengelola hutannya," imbuhnya.

Baca juga: Jokowi Janjikan 1.000 Sarjana Papua Kerja di BUMN

Alex yang ditemui seusai diskusi Mace Papua (Mari Cerita Papua) menilai pembangunan infrastruktur juga menjadi pintu masuk terjadinya banyak tindak pengrusakan alam termasuk perburuan hayati (burung cenderawasih) yang semakin langka.

Ilegal logging sudah terjadi lebih dari 40 tahun lalu. Perubahan hutan dan habitat hayati yang mulai punah sangat dirasakan oleh Alex yang berharap kekayaan hayati mereka kembali.

"Dulu sangat mudah menemukan berbagai spesies cendrawasih tapi sekarang sudah sulit karena habitatnya rusak. Pembangunan infrastruktur jalan membuat setiap orang bisa mengakses hutan, potensi kerusakan hayati dengan perburuan dan illegal logging sangat besar untuk terjadi. Tapi yang bisa menjaga hutan itu hanyalah orang Papua dengan berbagai kearifan lokalnya karena hutan adalah harta mereka," pungkasnya.(OL-5)
 

BERITA TERKAIT