Pemaknaan Baru Dora Menjadi Film Coming of Age


Penulis: Fathurrozak - 13 August 2019, 20:55 WIB
Vince Valitutti/Paramount Players
Vince Valitutti/Paramount Players

Sepanjang mengingat kartun animasi produksi Nickelodeon Dora The Explorer, mungkin akan tampak menyenangkan saat kita menontonnya pada usia balita hingga lima tahun. Hingga kita tumbuh menjadi remaja, Dora menjadi bagian dari guilty pleasure. Mungkin anak-anak dulu menontonnya, hingga ia tumbuh remaja tak mengakui lagi bahwa mereka pernah menikmati karakter bocah perempuan atraktif itu.

Rumah produksi Hollywood ramai-ramai membuat versi live action dari koleksi animasi mereka. Sebut saja Disney yang belakangan berturut-turut merilis The Jungle Book, Maleficent, Aladdin, hingga The Lion King dan masih banyak lagi mengantre setelahnya. Nickelodeon, juga ikut meramaikan lewat Dora and The Lost City of Gold yang rilis bulan ini, setelah sebelumnya membuat live action untuk Spongebob, Arnold, dan teman-teman di dalam laut.

The Lost City of Gold digarap oleh sutradara James Bobin. Skenario ditulis Nicholas Stoller dan Matthew Robinson, sementara pengerjaan film dilakukan studio Paramount.

Bobin memberikan pemaknaan baru dari karakter Dora yang bukan hanya sekadar atraktif, melainkan menjadikan karakter Dora (Isabela Moner) lebih relevan. Bobin bahkan masih memberikan ruang untuk kita mengingat Dora yang sering mengajak penontonnya ikut dalam petualangan yang tengah dilalui. Justru, ini jadi salah satu unsur komikal di The Lost City.

Kisah dimulai ketika Dora dan Diego (Jeffrey Wahlberg) kecil tinggal di hutan bersama orangtua Dora. Namun, Diego harus pindah ke kota, sementara sepupunya tumbuh di hutan. Sedekade mereka kemudian berpisah. Pertemuan keduanya terjadi kembali ketika Dora menyusul Diego ke kota, menjalani kehidupan barunya untuk sekolah, sebab kedua orangtuanya harus melanjutkan penjelajahan.

Momen ini yang dieksplorasi Bobin untuk menyuguhkan Dora yang dulu tampak menyebalkan bagi orang dewasa atau remaja, menjadi karakter yang ternyata punya relevansi pada penonton. Ia yang kikuk dan perlu beradaptasi pada suatu tempat baru, dan mempertanyakan jati dirinya. Dora dan Diego yang dulu kompak sebagai mitra, saat kembali bersatu justru banyak perbedaan kontras di antara keduanya. Suatu yang menunjukkan bahwa Diego sebagai remaja yang tinggal di kota tumbuh dengan cara berbeda yang ditempuh Dora yang sepanjang ia hidup hingga menjadi remaja, berkawan dengan ular Boa atau buaya.

Dalam dialog juga diselipkan beberapa sempalan sarkastik mengenai upaya para enviromentalist yang menggalang dana untuk penyelamatan hutan tanpa tahu kondisi sebenarnya yang terjadi. Juga bagaimana selipan sarkasme terhadap sikap misogini.

Bobin menyuguhkan The Lost City sebagai suatu medium pemaknaan baru Dora yang semula sekadar karakter anak-anak, menjadi remaja yang tengah tumbuh dengan perubahan hidupnya, yang semula di hutan menjelajah di antara rerimbunan pohon harus berteman dengan remaja sebayanya, atau bahkan merasakan ketertarikan pada lawan jenis yang mungkin akan sulit ia alami bila masih hidup di tengah hutan.

Menggabungkan visual live action dengan animasi juga Bobin lakukan secara sadar yang menjadikan film ini selain memberi pemaknaan baru pada karakter, juga terbuka pada semua peluang visual yang mungkin dimasukkan. Bobin tampak sesekali jail dengan eksperimennya.

Dora The Lost City of Gold menjadi film yang bukan hanya berbicara petualangan, melainkan juga perubahan-perubahan dalam hidup yang lazim dialami oleh seorang remaja. The Lost City of Gold membuat remake live action ini menjadi terasa bermakna, bukan sekadar mengeruk duit penonton, dan menjadi tidak sia-sia. (M-2)

BERITA TERKAIT