Menakar Dampak Pencemaran Udara Jakarta


Penulis: Ki Rohmad Hadiwijoyo Budayawan dan Doktor Ilmu Lingkungan Undip Semarang   - 13 August 2019, 01:40 WIB
MI/duta
MI/duta

DAMPAK pencemaran udara di kota–kota besar termasuk Jakarta sudah mengkhawatirkan. Jakarta termasuk kota dengan polusi paling tinggi nomor tiga didunia setelah Hanoi dan Dubai. Pencemaran udara yang tak terkontrol tidak hanya berdampak langsung terhadap kesehatan manusia, tetapi juga dapat merusak lingkungan lainnya seperti ekosistem hewan, tanaman, dan bangunan. 

Setidaknya ada tiga penyebab pencemaran udara Kota Jakarta. Pertama, meningkatnya jumlah kendaraan pribadi setiap tahunnya. Kedua, berkembangnya kawasan industri di daerah penyangga Jakarta. Adapun yang terakhir, tidak konsistennya kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menuntaskan problem ruang terbuka hijau (RTH) di Ibu Kota. 

Jakarta sebagai ibu kota dan kegiatan bisnis memerlukan sistem tranportasi untuk mendukung mobilitas warganya. Kebutuhan akan transportasi setiap tahunnya terus meningkat. Sayangnya moda transportasi masih didominasi kendaraan pribadi yang membakar energi fosil. Pembakaran energi fosil menghasilkan gas buang dan gas rumah kaca. Pencemaran udara yang timbul dari pembakaran fosil berupa karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO), belirang oksida (SO), dan hidrokarbon (HC).  

Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak bau, tidak berasa, dan tidak berwarna. Lingkungan yang sudah tercemar gas CO sangat berbahaya karena tidak kasatmata. Gas CO akan terisap masuk ke paru–paru dan mengalir ke dalam peredaran darah manusia. Gas CO yang sudah menyatu dengan darah dapat menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan tubuh sehingga menimbulkan racun dalam sistem metabolisme manusia. Jumlah gas CO yang terus meningkat dalam tubuh dapat menyebabkan kematian. Dampak negatif lain dari gas NO, SO, dan HC ialah dapat menyebabkan sesak napas dan iritasi pada kulit manusia.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada 2000 menyebutkan bahwa kematian akibat pencemaran udara mencapai angka 57 ribu orang per tahunnya, dan cenderung akan terus meningkat mendekati angka 0,7% setiap tahun. Kerugian materi akibat pencemaran udara tersebut, kalau dikonversi ke dalam nilai uang, sekitar US$12 juta–US$16 juta per tahun. 

Meningkatnya kendaraan pribadi di Ibu Kota menghasilkan gas buang CO2 cukup besar jika dibandingkan dengan kendaraan umum. Kendaraan umum seperti bus dan kereta api lebih kecil dampak pencemaran udaranya. Sebagai gambaran, kendaraan pribadi mengemisikan gas CO2 sebesar 1, sedangkan kendaraan umum bus mengemisikan gas buang CO2 sebesar 1/5 dan kereta api sebesar 1/11.

Berkembangnya kawasan industri daerah penyangga Ibu Kota seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi ikut memberikan andil pencemaran udara Jakarta. Pembangunan sebuah kawasan industri dapat meningkatkan perekonomian suatu wilayah. Selain menyerap tenaga kerja, juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Jakarta tidak bisa berdiri sendiri untuk memenuhi kebutuhan warganya. Peran dan kerja sama dengan daerah penyangga masih diperlukan untuk mendorong roda pembangunan Ibu Kota.

Kegiatan industri memerlukan energi yang cukup besar. Sumber energi sebagai bahan bakar berasal batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Pembakaran energi fosil akan menimbulkan emisi gas rumah kaca dan pencemaran udara. Untuk mencegah emisi gas buang dari kegiatan industri perlu dilakukan langkah–langkah nyata, seperti menangkap gas buang CO2 dengan teknologi penangkapan gas karbon (carbon capture storage).

Manfaatkan teknologi
Berbeda dengan gas buang kendaraan bermotor. Gas buang CO2 dari kegiatan industri dapat didaur ulang untuk dijadikan bahan baku industri yang bermanfaat sehingga dampak pencemaran udara daerah penyangga Ibu Kota dapat ditekan. Ini merupakan salah satu cara untuk mitigasi risiko pencemaran gas CO2 di kawasan industri .

Sebagai ilustrasi dari pengalaman saya membangun pabrik pemurnian CO2 di Kawasan Industri Cilegon pada 2008. Pabrik pemurnian CO2 pertama itu dibangun di Indonesia dengan kapasitas 3 ton per jam menggunakan teknologi dari Denmark. Gas buang CO2 dari peleburan besi baja Krakatau Steel saya manfaatkan sebagai bahan baku minuman karbonasi ringan. Selain bermanfaat sebagai minuman karbonasi, gas CO2 yang sudah murni bisa digunakan untuk pengelasan atau welding, dry ice dan penyubur daun tanaman. 

Teknologi pemurnian gas buang CO2 memerlukan investasi yang tidak sedikit yakni sekitar US$10 juta untuk kapasitas 3 ton per jamnya. Teknologi CO2 bermanfaat untuk menekan pencemaran udara di kawasan penyangga Ibu Kota. Selain itu, hasil pemurnian dari gas CO2 dapat menciptakan peluang-peluang usaha baru. Saat ini banyak industri di daerah penyangga Jakarta masih mengemisikan gas buang CO2. Gas CO2 tersebut, kalau dibiarkan, akan memenuhi atmosfer Kota Jakarta sehingga pencemaran udara Ibu Kota akan terus bertambah.

Yang terakhir penyebab pencemaran udara Jakarta ialah tidak konsistennya Pemerintah Provinsi DKI dalam menuntaskan problem RTH. Target RTH menurut Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2011–2030 sebesar 30% dari wilayah Jakarta. Faktanya, baru sekitar 14,9% yang terealisasi. Padahal RTH sangat penting bagi kota besar seperti Jakarta yang berpenduduk sekitar 12 juta orang. Manfaat RTH antara lain menyerap racun udara yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor. Pembangunan RTH dapat menetralkan partikel debu dan gas–gas lain yang beterbangan di udara.

Selain menuntaskan zona hijau, Pemprov DKI harus konsisten menerapkan persyaratan desain gedung hijau dalam pemberian izin mendirikan bangunan. Pelanggar ketentuan desain gedung hijau harus diberi sanksi tegas. Pembangunan yang tidak ramah lingkungan dapat menyebabkan gas rumah kaca, yaitu bangunan yang dipenuhi kaca memantulkan udara panas ke atmosfer.  

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa penyebab terbesar dari pencemaran udara DKI Jakarta ialah meningkatnya kendaraan pribadi. Tindakan yang harus diambil ialah membuat kebijakan untuk membatasi beroperasinya kendaraan pribadi di Jakarta. Kebijakan ganjil-genap diperluas areanya. Selain itu, pengenaan pajak bagi kendaraan yang melalui jalan-jalan protokol. Tarif parkir kendaraan dinaikkan sehingga masyarakat akan beralih ke kendaraan umum seperti bus dan MRT. Segera saja implementasikan kendaraan listrik untuk menekan polusi udara. 

Untuk menurunkan emisi gas CO2 kawasan industri daerah penyangga, Pemprov DKI harus proaktif menjalin kerja sama dengan daerah penyangga serta melibatkan pihak swasta. Di era global warming banyak peluang kerja sama dengan daerah penyangga, seperti proyek pemurnian CO2, pengolahan sampah terpadu, dan penyediaan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Juga melanjutkan komitmen pembangunan 30% RTH kalau ingin Jakarta bebas dari polusi.
 

BERITA TERKAIT