03 May 2022, 09:30 WIB

Lebaran 1443 H di Tunisia


Nata Sutisna ! Mahasiswa Universitas Al-Zaitunah, Tunisia | Ramadan

Dok. Pribadi/ Nata Sutisna
 Dok. Pribadi/ Nata Sutisna
SALAT IDUL FITRI: Mahasiswa Indonesia di Tunisia setelah menunaikan salat Idul Fitri di Masjid Zaitunah di Tunisia

"SELAMAT hari raya, semoga setiap tahun kamu berada dalam kebaikan,"  ucap salah seorang warga Tunisia kepada saya. Terlihat warga Tunisia menyambut hari raya Idul Fitri 1443 H/ 2022 M dengan penuh suka cita. Sejak beberapa hari sebelum lebaran, warga Tunisia sudah memenuhi pasar untuk membeli baju baru dan kue-kue manis seperti kue kertas, baklawa, dan makanan khas lebaran lainnya.

Tentu suasana ini mengingatkan saya kepada Tanah Air tercinta. Namun begitu, kerinduan saya kepada Indonesia terobati dengan melihat warga Tunisia yang menyambut hari raya dengan penuh gagap-gempita sebagaimana di Bumi Nusantara. Idul Fitri selalu spesial dan menyenangkan, di mana pun.

Pada hari raya Idul Fitri, warga Tunisia mendatangi masjid sejak pukul 05.00. Mereka memadati masjid dan mengumandangkan takbir secara menggema. Tangis haru dan bahagia mengiringi lantunan takbir.

Tentu warga Tunisia sangat gembira karena tahun ini merupakan salat Idul Fitri kali pertama yang dilakukan secara berjamaah di masjid pasca dua tahun berturut-turut dilaksanakan di rumah masing-masing akibat pandemi covid-19. Di Indonesia sepertinya juga demikian halnya.

Saya pun mengikuti salat berjamaah Idul Fitri di Masjid Zaitunah. Masjid yang menjadi cikal bakal lahirnya kampus tertua di dunia, yaitu Universitas al-Zaitunah (737 M). Masjid Zaitunah pun menjadi simbol kehangatan antara hubungan manusia dengan sesamanya (hablumminannas) dan hubungan manusia dengan penciptanya (hablumminallah). Karena masjid ini berada di tengah-tengah pasar di mana terjadi transaksi antar sesama manusia.

Lalu pada saat memasuki waktu salat, semua kegiatan berhenti dan warga Tunisia berbondong-bondong menegakkan salat, menghadap Sang Pencipta dengan khusyuk di masjid bersejarah itu.

Sejatinya, agama dan kehidupan manusia tidak boleh dipisahkan. Tetapi justru agama adalah kehidupan itu sendiri. Setiap langkah yang kita lakukan harus selaras dengan nilai-nilai dan ajaran agama.

Syekh Muhammad Tahir Ibnu 'Asyur, pemikir dan ulama asal Tunisia, melalui kitabnya Ushul al-Nizham al-Ijtima'i fi al-Islam mengingatkan bahwa orang yang dapat memahami hakikat agama, maka ia dapat tumbuh membangun peradaban manusia yang berkeadaban dan berkemajuan.

Kembali ke lebaran di Tunisia. Irhamu man fil ardhi, yarhamukum man fissama, yang artinya, "Sayangilah penduduk bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu". Hadis itu disampaikan oleh Khatib Idulfitri di masjid Zaitunah. Tentu hadits ini menjadi pijakkan bagi kita bahwa sesungguhnya misi paripurna manusia hidup di muka bumi ini adalah untuk menjaga hak-hak asasi manusia dengan menebar kasih sayang, saling menghargai, empati, dan peduli.

Setelah salat Idul Fitri, warga Tunisia saling bersalaman dengan penuh kehangatan. Tak cukup itu, mereka pun saling merangkul dan memeluk sebagai tanda cinta dan persaudaraan.

Saya pun merasakan sendiri kehangatan warga Tunisia. Mereka merangkul dan memeluk saya seraya mendoakan kebaikan. Keramahtamahan memang sudah menjadi sifat yang melekat pada diri warga Tunisia.

Selepas menunaikan salat Idul Fitri di masjid, warga Tunisia berkumpul dengan keluarganya. Mereka makan bersama, saling menyampaikan selamat dan doa, saling memberi maaf, berbagi hadiah, dan menghidupkan hari lebaran dengan meriah.

Adapun saya dan teman-teman pelajar Indonesia di Tunisia mengadakan halalbihalal dan makan bersama di Sekretariat Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia. Sebagai diaspora Indonesia, tradisi ini yang selalu kami tunggu-tunggu. Karena ketika ada perkumpulan sesama warga Indonesia, pasti selalu ada makanan khas Indonesia yang dapat mengobati kerinduan kepada Tanah Air. Tahun ini saya menikmati bakso yang dimasak dan dihidangkan oleh teman-teman Indonesia. Rasanya maknyos.

Istimewanya, kegiatan halalbihalal ini pun dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Tunisia, KH. Zuhairi Misrawi – yang akrab disapa dengan panggilan Gus Mis – bersama keluarga. Selain melindungi dan melayani, KBRI Tunis selalu mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa Indonesia di Tunisia. Tentu hal ini yang juga membuat kami senang dan bersyukur. Walaupun jauh dari orang tua, rumah, dan tanah kelahiran, tetapi sesungguhnya KBRI adalah orang tua sekaligus rumah di perantauan yang senantiasa merangkul kami.

Bagi saya, nuansa kasih sayang selalu melekat pada hari raya lebaran. Lebaran menjadi momen menebar kepedulian dan cinta terhadap sesama. Karena sesungguhnya setiap ajaran yang Islam hadirkan adalah ajaran-ajaran yang dapat menjalin kasih sayang serta merajut tenun persaudaraan antar sesama.(H-1)

BERITA TERKAIT