28 April 2022, 23:55 WIB

Dari Bandung ke Bradford Menunaikan Ibadah Ramadan


Aurora Fithy ! Orang Indonesia Berdomisili di Bradford-Inggris | Ramadan

Dok. Pribadi / Aurora Fithy
 Dok. Pribadi / Aurora Fithy
BERBUKA PUASA BERSAMA: Suasana acara berbuka puasa di depan City Hall, Bradford Inggris pada Jumat 15 April 2022.

BRADFORD adalah salah satu kota paling multikultural di Inggris.  Dengan 67% populasi kulit putih, 27% orang Asia, 2% ras campuran, 2% kulit hitam, dan 1% dari ras lain.

Bradford memiliki persentase tertinggi kedua dengan berpendudukan Asia Selatan terbanyak di Inggris, dan sebagian besar dari mereka adalah Muslim - yang berarti seperempat penduduknya beragama Islam (129.000).

Ada 240.000 orang Kristen dan 108.000 orang yang tidak menganut suatu agama. Ada juga komunitas kecil Sikh, Hindu, Budha, Yahudi dan agama lainnya (total 13.000).

Karena proporsi muslim yang besar di sini, pengaruh mereka mudah terlihat di berbagai sudut kota. Ada ratusan toko milik orang Asia Selatan yang menjual daging halal, supermarket yang menjual bahan-bahan khusus dan toko pakaian serta toko perhiasan yang menjual gaya Asia tradisional dan modern, dan banyaknya restoran asia di seluruh bagian kota. Tentu saja semuanya halal!

Ada lebih dari 100 masjid di Bradford, yang pertama dibuka pada 1958 dengan menampung lebih dari 2.000 jemaah. Pada Ramadan tahun ini, umat Islam di sini berpuasa selama sekitar 17 jam sehari.

Pergantian musim dapat membuat Ramadan pun jatuh di musim dingin dan membuat puasa bisa berlangsung sekitar 8 jam saja. Dan berbeda cerita lagi jika terjadi pada saat musim panas.

Menariknya, karena Inggris bukan negara mayoritas muslim, tidak semua Muslim memulai dan mengakhiri Ramadan di hari yang sama. Beberapa pengikut menggunakan posisi bulan di Arab Saudi (untuk alasan yang jelas), yang lain mengikuti negara mayoritas muslim terdekat (Maroko) sementara yang lain memutuskan untuk mengikuti negara asal nenek moyang mereka.
Secara pribadi saya dan keluarga telah memutuskan untuk melakukan seperti yang dilakukan masjid kami - yaitu menggunakan posisi bulan di Arab Saudi.

Bradford merupakan kota yang ramah dan toleran. Keluarga suami saya dominan kulit putih memeluk Kristen, tetapi mereka sangat mendukung kegiatan Ramadan. Mereka menemukan ibadah puasa sangat mengesankan dan tidak bisa memahami tingkat tantangan untuk tidak makan dan minum. Pertanyaan umum yang sering ditanyakan oleh mertua saya adalah, "bahkan minum pun tidak!?”

Pada Ramadan kali ini pun cukup berbeda untuk saya, karena KIBAR (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya) yang berada di Leeds (40 menit dari Bradford dengan mobil) mengadakan program berbagi takjil hingga Bradford. Rasanya senang bisa menyantap masakan Indonesia dan juga turut berpartisipasi dalam penyediaan takjil untuk komunitas Indonesia di Leeds dan Bradford.

Kerinduan akan menyantap makanan Indonesia bisa terobati oleh takjil yang dikirimkan oleh KIBAR setiap Jumat selama di bulan Ramadan. Dan rasa rindu pada kota Bandung, kampung halaman saya pun terobati seketika dengan hadirnya takjil-takjil cantik yg dikirimkan oleh KIBAR untuk WNI di Leeds dan Bradford.(H-1)

 

BERITA TERKAIT