12 May 2021, 05:10 WIB

Berbagi Kebahagiaan dalam Idul Fitri


SYARIEF OEBAIDILLAH | Ramadan

Ilustrasi
 Ilustrasi
 Lebaran Idul Fitri

HARI Raya kali ini masih kita jalani di tengah pandemi covid-19. Namun, sesuai tuntunan Alquran dan sunah, Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 H yang penuh kemuliaan ini tetap harus disambut dengan sikap rohani yang positif. Kumandang kalimat takbir membesarkan Allah Yang Mahaagung, kalimat tauhid mengesakan Allah Yang Mahakuasa, dan kalimat tahmid mensyukuri nikmat Allah Yang Mahakaya bergema.

"Mari di hari Idul Fitri yang istimewa ini kita berdoa. Mari meraih kebahagiaan Idul Fitri dengan memberi kebahagiaan kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung secara materi melalui pemberian zakat, wakaf, infak, dan sedekah, serta empati terhadap penderitaan orang lain," kata Sesditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Muhammad Fuad Nasar kepada Media Indonesia, kemarin.

Islam mengajarkan sikap tidak kikir dan tidak berlebih-lebihan dalam menikmati rezeki dari Allah hingga menimbulkan kecemburuan sosial.

Pesan Ramadan dan Idul Fitri, lanjut Fuad Nasar, perbaiki hubungan dengan Allah SWT dan perbaiki hubungan dengan sesama manusia tanpa sekat-sekat pemisah yang menjauhkan kita dalam kebersamaan dan keakraban sosial.

"Kekosongan jiwa manusia dari pegangan hidup dan hubungan baik dengan sesama akan menyebabkan penderitaan. Kedudukan manusia sama, kecuali takwanya. Seorang muslim alumni Ramadan diharapkan mempunyai karakter yang kuat dalam beragama dan membela cita-cita kemanusiaan," tegas Fuad Nasar.

 

Tradisi bermaaf-maafan

Ustaz Abdul Ghaffar Rukshan mengutarakan tradisi bermaafan di kalangan umat Islam akan menghiasi Idul Fitri. "Bermaaf-maafan adalah aktivitas kemanusiaan antara yang satu dan yang lain. Tujuannya adalah untuk sama-sama membebaskan kesalahan dan dosa antarmereka," kata Ustaz Abdul Ghaffar Rukshan.

Dikatakan Islam mengajarkan umatnya selalu memiliki hubungan baik dengan yang lain. Namun, hubungan itu tidak jarang tercemar kekhilafan yang tidak jarang akan mendatangkan sakit hati, benci, dengki, dendam, bahkan aniaya. Jika hal itu dibiarkan, akan terjadi tumpukan kebencian di antara mereka sehingga akan membawa pada kerenggangan atau putusnya silaturahim. Hal ini membuat mereka telah mencampakkan dirinya jauh dari rahmat Allah, bahkan dari surga-Nya dan dekat dengan kemurkaan Allah.

"Bersalaman dan meminta maaf ada simbol ketulusan hati orang yang terlibat untuk menyatakan kebersihan hati dan ketulusan jiwa. Bersalaman yang dilakukan secara langsung akan terungkap dalam senyuman dan tatapan persahabatan. Memang mendalam makna filosofisnya," tukasnya.

Adanya pandemi membuat kebiasaan bersalam-salaman ketika bermaafan tidak lagi dijalankan. Namun begitu, ia memaklumi guna mengungkapkan maaf kepada orang lain, banyak cara dan media yang kita lakukan. "Bersalam-salaman dapat diganti dengan isyarat angkat tangan jarak jauh. Di samping itu, media sosial pun dapat pula dimanfaatkan. Berbagai ungkapan indah akan menghiasi media sosial untuk menyatakan permohonan maaf," pungkasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT