10 April 2021, 02:55 WIB

Perlu Penyesuaian Latihan Fisik saat Puasa


Mediaindonesia.com | Ramadan

Antara/Reno Esnir.
 Antara/Reno Esnir.
Warga bersepeda melintasi jalan Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu.

BERPUASA Ramadan tak berarti menjadi halangan untuk latihan fisik rutin demi menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, walaupun ada sejumlah penyesuaian yang perlu dilakukan. Salah satu penyesuaian yaitu frekuensi latihan yang tidak sesering pada bulan-bulan biasanya.

Dokter spesialis Kedokteran Olahraga Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) sekaligus staf pengajar di Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI Listya Tresnanti Mirtha menyebutkan intesitas latihan juga lebih ringan dari biasanya. "Waktu dibuat lebih singkat dan jenis latihan diutamakan yang bersifat aerobik," ujar dia dalam seminar awam yang digelar RSUI via daring, ditulis Jumat (9/4).

Dari sisi frekuensi, kita bisa melakukan latihan fisik tiga kali dalam seminggu dengan durasi 10-15 menit saat pagi setelah salat subuh atau sore hari selama 30 menit menjelang waktu berbuka puasa. Pilihan latihannya, bisa berlari atau olahraga seperti sepak bola atau latihan pembentukan otot.

Listya mengingatkan untuk melakukan pemanasan selama 10-15 menit baru diikuti latihan inti dan pendinginan selama 5-10 menit. Setelahnya, jangan lupa memeriksa denyut jantung untuk mengetahui kemampuan maksimal kerja jantung. Caranya, dengan menghitung denyut nadi per 15 detik dan hasilnya dikali dengan 4.

Listya membantah anggapan berpuasa bisa mengganggu kinerja dan membuat seseorang menjadi tak produktif. Menurut dia, berpuasa bila juga diselingi latihan fisik sesuai anjuran pakar kesehatan akan membuat tubuh tetap bugar sekaligus memelihara produktivitas.

Baca juga: Lebih Baik Olahraga Berjalan atau Berlari?

 

"Latihan fisik berkaitan dengan imunitas tubuh sekaligus menunda kemunculan difusngsi tubuh terkait pertambahan usia, meningkatkan sirkulasi darah, dan memiliki efek antiinflamasi," kata dia.

Bersepeda secara teratur, misalnya, diketahui membuat seseorang berisiko 15% lebih sedikit terkena serangan jantung daripada mereka yang bukan pengendara sepeda. Latihan ini juga bisa memperkuat otot jantung dan paru-paru, memperbaiki sirkulasi tubuh, dan menurunkan kadar lemak darah. (Ant/OL-14)

BERITA TERKAIT