30 November 2022, 18:12 WIB

Target 20% Golkar Akan Tercapai jika Disokong Efek Ekor Jas


Mediaindonesia | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
 ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kanan) menyapa peserta usai mengikuti jalan sehat di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno, Jakarta.

PENELITI senior Pusat Riset Politik-Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRP-BRIN) Lili Romli menilai target Partai Golkar untuk meraih 20% suara dalam pemilu 2024 sulit tercapai berdasarkan beberapa faktor yang muncul saat ini.

Golkar dinilai hanya akan mampu mencapai atau mendekati target tersebut jika mengusung sosok internal partai dalam kontestasi 2024. Artinya Golkar bisa berharap dari efek ekor jas (coat-tail effect) dari pencalonan Airlangga Hartarto dalam Pilpres 2024.

"Jadi target 20 persen itu akan tercapai atau mendekati, manakala sosok Ketum Golkar Airlangga yang maju sebagai capres atau cawapres. Kalau tidak ya susah," terangnya di Jakarta, hari ini.

Menurutnya, Pemilu 2019 lalu memberikan pelajaran tentang besarnya pengaruh efek ekor jas bagi perolehan suara partai. PDIP mendapati efek ekor jas dari Joko Widodo yang maju sebagai capres. Begitu juga dengan Gerindra.

"Itu terbukti dari pemilu kemarin (Pemilu 2019). Efek ekor jas bukan pada Golkar tetapi pada PDIP. Juga pada Gerindra dan PKS dengan pengusungan Prabowo," tegasnya.

Menurut Lili, faktor figur dari partai menjadi salah satu pekerjaan rumah. Partai lain mempunyai figur kuat yang menjadi magnet partainya, seperti PDIP dan Nasdem.

"Pertama, PDIP yang selalu tertinggi dan mereka punya figur, Pak Jokowi, Ibu Mega, apalagi kalau mengusung Ganjar," lanjutnya.

Selain itu, Golkar juga berbagi ceruk elektoral yang sama dengan beberapa partai, sehingga Golkar harus berbagi suara pemilih dengan beberapa partai yang punya irisan ideologi nasionalis.

Baca juga: Ini Alasan LaNyalla Ingin Kembali ke Sistem Asli Indonesia

"Banyak partai yang dekat atau sama secara ideologi dengan Golkar. Jadi ada Nasdem, Gerindra, Garuda," terusnya.

Partai Golkar berada pada urutan kedua setelah PDIP pada Pemilu 2019. PDIP memperoleh 19,33 persen suara, sedangkan Golkar memperoleh 12,31 persen suara. Berkaca pada hasil tersebut, Lili menilai Golkar akan kesulitan mencapai target jika tanpa didukung faktor efek ekor jas.

"Katakanlah sama dengan pemilu kemarin, itu agak susah Golkar mencapai target 20 persen. Kecuali Golkar mengusung ketumnya jadi capres atau cawapres," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto menyampaikan partainya menargetkan bisa memperoleh suara 20% pada Pemilihan Legislatif 2024.

“Ke depan ini adalah kesempatan kontestasi pada Pemilu 2024 target-target 20 persen menang daripada pileg,” ujar Airlangga.

Airlangga Hartarto mengatakan Golkar memiliki jajaran yang kuat untuk menghadapi pemilu. Ada ribuan kader partai yang siap memenangkan pemilu.

“Ya tugasnya jelas, three in one. Satu menang pilpres (pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden), dua menang pileg (pemilihan calon anggota legislatif), tiga menang pilkada (pemilihan calon kepala daerah) ke depan, penugasannya jelas,” ucap Airlangga beberapa waktu lalu.

Mobilisasi kader

Sementara itu, Direktur Riset SMRC Deni Irvani mengatakan, berdasarkan survei terkini, Golkar berada pada posisi ke-2 dalam konteks jika pemilu dilakukan hari ini. Namun secara umum, seluruh partai mengalami penurunan elektabilitas dibanding Pemilu 2019 lalu. Ini karena masih banyaknya pemilih yang belum menentukan suara.

Baca juga: LSI: AHY Cawapres paling Mampu Menangkan Anies Baswedan

“Dalam survei banyak masyarakat yang belum menentukan pilihan,  dalam survei ada 21,3%, bisa jadi di undecided voter, ada pemilih golkar. Lalu apakah (elektabilitas Golkar) bisa naik? Tentu saja bisa.” kata Deni saat berbincang hari ini (30/11).

Seperti yang dikatakan Ketum Airlangga, Golkar memiliki ribuan massa, kader, ‘mesin’  yang bisa digunakan untuk memenangkan partai berlambang Pohon Beringin itu. “Harus ada upaya seperti kemampuan sosialisasi dan mobilisasi dukungan menjelang hari H,” sebut Deni.

Dengan kekuatan massa yang besar, Golkar pasti tidak ingin terlempar dari tiga besar partai di Indonesia. Karena itu butuh upaya kerja keras untuk mengangkat citra partai dan kemudian menentukan Capres yang menambah elektabilitas partai.

Pada survei terdahulu, SMRC pernah melakukan eksperimen simulasi pasangan Ketum Airlangga dengan tokoh lain di luar partai. Simulasi pasangan Ganjar Pranowo-Airlangga Hartarto menempati urutan teratas.

“Tentu tidak mudah bagi Golkar, apakah mereka siap mencalonkan tokoh diluar partainya. Kalau itu terjadi mungkin ada efeknya, terutama jika Ganjar terasosiasi kuat dengan Golkar,“ ungkap Deni.

Lalu dengan sosok Ridwan Kamil yang disebut tengah dekat dengan Golkar, Deni mengatakan, meski dia berada dalam 4 besar, namun jika dipasangkan dengan Airlangga, dampaknya belum signifikan. “Golkar perlu memperhatikan trend suara,” tandas Deni. (OL-4)

BERITA TERKAIT