03 October 2022, 22:13 WIB

28 Anggota Polri Diduga Langgar Kode Etik Soal Insiden Kanjuruhan


Khoerun Nadif Rahmat | Politik dan Hukum

Antara
 Antara
Aparat keamanan berusaha menghalau suporter yang masuk ke lapangan di Stadion Kanjuruhan, Malang.

POLRI menduga sebanyak 28 anggota telah melanggar kode etik saat melakukan pengamanan dalam laga Arema FC kontra Persebaya Surabaya.

Adapun pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (1/10) lalu, berujung insiden maut.

Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo mengatakan sebanyak 28 anggota ini merupakan hasil dari pemeriksaan oleh Inspektorat Khusus, Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri dan Biro Pengamanan Internal (Paminal) Polri.

Baca juga: Buntut Tragedi Kanjuruhan, Polri Copot Kapolres Malang

"Dari hasil pemeriksaan Itsus (Inspektorat Khusus), Itwasum Polri dan Biro Paminal juga melakukan pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik sebanyak 28 personel Polri. Ini masih dalam proses pemeriksaan," ungkap Dedi dalam keterangannya, Senin (3/10).

Sebelumnya, Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta telah menonaktifkan 9 anggota kesatuan Brimod yang menjabat sebagai Komandan Batalyon (Danyon), Komandan Kompi (Danki) dan Komandan Pleton (Danton). Langkah itu sebagai buntut tragedi di Stadion Kanjuruhan.

Baca juga: Menpora dan Kapolri Kunjungi Korban Luka Tragedi Kanjuruhan di Rumah Sakit

"Sesuai dengan perintah bapak Kapolri. Kapolda Jawa Timur juga melakukan penonaktifan jabatan Danyon, Danki dan Danton Brimob sebanyak 9 orang," imbuh Dedi.

Pihak kepolisian dikatakannya terus mendalami soal prosedur pengamanan, yang di dalamnya terdapat perwira hingga pamen dari kesatuan Polri. Insiden maut di Stadion Kanjuruhan terjadi setelah laga Arema FC kontra Persebaya Surabaya.

Adapun para supporter Arema FC diduga tidak terima atas kekalahan dengan skor 2-3 dari Persibaya. Lalu, para supporter pun turun ke lapangan dan disambut tembakan gas air mata dari petugas kepolisian.(OL-11)

BERITA TERKAIT