01 October 2022, 16:16 WIB

Anies: Polarisasi Wajar, Jangan Dianggap Perpecahan


Kautsar Widya Prabowo | Politik dan Hukum

Dok.Medcom.id
 Dok.Medcom.id
Spanduk penolakan menyolatkan pendukung Basuki Tjahaya Purnama yang dipasang warga karena dampak polarisasi akibat Pilkada DKI jakarta 2017.

GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan polarisasi yang terjadi pada setiap pemilihan umum (pemilu) merupakan hal yang wajar. Ia menilai polarisasi tidak melulu pada perpecahan.

"Kita harus dewasa, jangan setiap kali ada polarisasi karena pemilu, lalu dianggap terjadi perpecahan," ujar Anies dalam acara Indonesia Milennial and Gen Z Summit 2022 di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan kemarin.

Anies menjelaskan pada dasarnya polarisasi selalu melekat dalam kontestasi politik di Indonesia. Ia mencontohkan apabila nanti Calon Presiden (Capres) 2024 ada dua orang dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, maka polarisasi akan terjadi akibat perbedaan gender.

Selain itu, apabila capres memiliki latar belakang suku yang berbeda, dipastikan polarisasi terjadi akibat perbedaan etnis. Hal serupa terjadi apabila kedua capres memiliki keyakinan agama yang juga berbeda.

Baca juga: Partai Politik Sebaiknya Prioritaskan Kadernya Pada Pilpres

"Jadi konstestasi polarisasi emosi itu tergantung pada siapa yang berada di lapangan. Jadi gak selalu kemudian seluruh urusan jadi identitas agama, tidak," terangnya.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu meminta kepada masyarakat untuk tidak melihat latarbelakang suku, agama, rasa, dan antargolong (SARA) terhadap capres terpilih. Namun, lebih melihat rekam jejak kinerjanya.  

"Kebijakan-kebijakan yang tidak memberikan ruang kepada agama lain, yang tidak memberikan kesempatan kepada keberagaman kan dibuktikan sesudah dia bekerja, apakah tudingan-tudingan itu ketemu buktinya, kalau tidak ketemu buktinya, tudingan itu batal saja otomatis," terangnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT