07 September 2022, 06:31 WIB

Partai Garuda Sebut Penaikan Harga BBM Sebuah Keniscayaan


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

ANTARA/Arif Firmansyah
 ANTARA/Arif Firmansyah
Sejumlah pengendara motor antre untuk mengisi BBM subsidi jenis Pertalite di salah satu SPBU, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

WAKIL Ketua Umum Partai Garuda Teddy Gusnaidi mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi merupakan hal biasa yang pernah terjadi di setiap rezim yang berkuasa. Kenaikan harga BBM sering terjadi di era pemerintahan untuk menjaga keseimbangan perekonomian negara. 

"Ini bukan hal baru. Ini hal yang sudah biasa dilakukan sebagai bagian dari menjaga keseimbangan perekonomian negara. Ini dilakukan di semua rezim, bukan hanya di rezim Jokowi," kata Teddy dalam keterangan resmi, Rabu (7/9). 

Teddy menyatakan, terkait demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM juga pernah dialami oleh semua rezim. Bukan saja di rezim Jokowi.

Baca juga: Soal Harga BBM Indonesia dan Malaysia, Pengamat : Ada Perbedaan Komponen Pembentuk Harga

Sayangnya, menurut dia, para pihak tertentu kerap membuat framing dengan membawa-bawa penderitaan rakyat.

"Terkait demo penolakan kenaikan harga BBM (pengurangan subsidi) bukan lagi hal baru, sudah menjadi kegiatan rutin di rezim Soeharto, Gus Dur, Megawati, SBY, hingga Jokowi. Isinya sama semua, klaim atas nama rakyat, membuat framing rakyat terpuruk jika harga BBM naik," paparnya

Faktanya, kata Teddy, BBM naik dan tidak naik, kehidupan rakyat tetap berjalan. Mereka mengalami kenaikan harga BBM dari setiap rezim, tapi kehidupan mereka makin lebih baik. 

"Dari yang tidak punya kendaraan sekarang punya, renovasi rumah, peningkatan gaya hidup dan banyak lagi perubahan yang lebih baik," ucapnya. 

Kehidupan rakyat berjalan dengan keseimbangan walaupun berkali-kali naik harga BBM. Menurut dia, harga BBM tidak terkait dengan kesejahteraan rakyat.

"Artinya, harga BBM bukan ukuran kesejahteraan. Venezuela adalah negara dengan harga BBM terendah, apakah rakyatnya sejahtera? Tidak, malah terjadi krisis ekonomi yang sangat dahsyat," pungkasnya. (RO/OL-1)

BERITA TERKAIT