25 August 2022, 10:43 WIB

Dorong Indonesia Jadi Kekuatan Maritim, Lemhannas: Indonesia Butuh Perencanaan Sampai 2070   


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

AFP
 AFP
Ilustrasi laut cina selatan

PERSAINGAN geopolitik, antarnegara, krisis, dan patahan-patahan global semakin dekat dan nyata dengan Indonesia. Konflik tersebut menjadikan laut, samudera, serta maritim sebagai wilayah pertarungannya.

Gubernur Lemhannas RI Andi Widjajanto menyebutkan untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan maritim, perencanaan strategis tak cukup sampai 2024, tapi sampai 2070. 

“Indonesia juga menyadari untuk menjelma menjadi kekuatan maritim membutuhkan langkah panjang juga perencanaan strategis. Tidak cukup sampai 2024, kita butuh perencanaan strategis jangka panjang hingga 2070,” kata Andi Widjajanto pada saat The 6th Jakarta Geopolitical Forum yang mengangkat tema “Geomaritime: Chasing the Future of Global Stability”, Rabu (24/8).

Gubernur Andi berharap Indonesia bisa menjadi bangsa pemenang. Ia sendiri pun tak suka menyebut Indonesia sebagai “middle power”. 

“Saya tidak pernah suka menyebut Indonesia sebagai middle power. Saya lebih senang menyebut Indonesia itu sebagai kekuatan regional. Regional power karena nanti ukurannya bisa disesuaikan, mau kekuatan yang tengah, yang besar, tinggal disesuaikan saja. Regionalnya juga bisa kita sesuaikan, Asia Tenggara, Asia Timur, Asia Pasifik. Bisa kita sesuaikan dengan proyeksi ke depan Indonesia,” ungkapnya.

Guru Besar Unhan Marsetio: Ramalan Kebangkitan Tiongkok Terbukti

GURU besar Universitas Pertahanan Laksamana TNI (Purn.) Prof. Dr. Marsetio mengatakan ramalan kebangkitan Tiongkok sebagai penguasa maritim mulai terbukti. Secara bertahap, pada tahun 2030, setelah Tiongkok memimpin dunia, selanjutnya disusul oleh India, kemudian Amerika Serikat dan Indonesia.

“Kalau kita melihat sebuah situasi geopolitik di kawasan, kita akan melihat bagaimana kebangkitan di negara negara di Asia Pasifik, kebangkitan Tiongkok. Pada tahun 2030, sekarang sudah secara bertahap Tiongkok nanti akan me-lead dunia ini, kemudian yang kedua India, kemudian Amerika Serikat dan Indonesia,” kata Prof. Marsetio.

Para pakar di tahun 2010 sudah meramalkan di tahun 2024-2025 seluruh dunia akan dikuasai oleh Tiongkok. Ada beberapa indikasi yang disebutkan oleh mantan Kepala Staf Angkatan Laut tersebut, yaitu armada Tiongkok yang menguasai dunia dan pergeseran pusat ekonomi. 

“Indikasinya sekarang kita lihat secara adanya maritime shift power secara bertahap, kemudian istilah-istilah terminologi tentang maritime strike sebenarnya sudah ada sejak abad 9. Ini bukti kekuatan-kekuatan armada Tiongkok telah menguasai dunia. Sekarang kita akan melihat bagaimana Tiongkok ingin menguasai dunia, juga pergeseran pusat-pusat ekonomi yang sebelumnya dari barat sekarang akan bertumbuh dan yang menjadi pusatnya adalah di Asia Pasifik,” ungkapnya.

Baca juga: Jaki Ajak Kerja Sama Global untuk Perdamaian Laut Cina Selatan

Ia melanjutkan, ramalan, prediksi dan analisa para pakar soal penguasa dunia sudah mulai tampak kelihatan. Dampaknya adalah memanasnya suasana di Laut China Selatan, juga munculnya konsep saingan dari OBOR China oleh US yaitu US Indo Pacom.  

“Hegemoni di Laut China Selatan membuat suasana semakin memanas karena dengan keadaan Amerika. Kemudian kita ketahui juga Amerika tidak terima dengan konsep OBOR maka pada tahun 2018 diluncurkan US Indo Pacom. US Indo Pacom merupakan penyatuan armada ke-5 dengan armada ke-7 untuk mempertahankan hegemoni Amerika di Laut China Selatan,” tukasnya.

Menyikapi hal tersebut, Marsetio menyebutkan langkah Indonesia sudah tepat yakni menempatkan kekuatan diplomasi dan budaya maritim untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan maritim dunia melalui lima pilar.

“Situasi tersebut tentunya kita akan melihat bagaimana peran Indonesia, peran Pak Jokowi. Pak Jokowi di era pertama pemerintahan menyampaikan untuk membawa Indonesia menjadi negara maritim besar dengan lima pilar yakni pemahaman tentang budaya maritim; pemahaman tentang memanfaatkan sumber daya maritim; interconnectivity; diplomasi maritim dan pertahanan maritim. Ini bagaimana pertahanan maritim akan ditunjukkan kepada dunia, kepada ASEAN,” pungkasnya.(RO/OL-5) 

BERITA TERKAIT